|
Menu Close Menu

Soroti Dugaan Pemotongan Proyek HIPPA Jember, Ketua FKPJ Sebut Rugikan Petani

Kamis, 11 Desember 2025 | 15.20 WIB

Ketua Forum Komunikasi Petani Jember (FKPJ), Jumantoro.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jember– Dugaan penyelewengan atau pemotongan anggaran pada proyek Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) di Kabupaten Jember tahun 2025 menuai sorotan. Skandal ini dinilai tidak sejalan dengan komitmen pemerintah pusat di era Presiden Prabowo Subianto yang tengah memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional.


Ketua Forum Komunikasi Petani Jember (FKPJ), Jumantoro, angkat bicara terkait temuan dugaan praktik pemotongan dana tersebut. Menurutnya, jika benar terjadi, tindakan itu sangat merugikan petani dan berpotensi menghambat capaian program strategis pemerintah.


"Program yang ada indikasi khususnya di sektor pertanian harus ditindak tegas. Dampaknya bukan membuat petani untung, tapi justru buntung,” ujar Jumantoro kapada Lensajatim.id. Kamis (11/12/2025).


Ia menegaskan bahwa program pemerintah seharusnya meningkatkan kesejahteraan petani, bukan menjadi celah penyimpangan anggaran.


"Harapannya petani lebih baik. Tapi kalau programnya sudah diutak-atik apalagi dikorupsi, ya harus disikat habis,” tegasnya.


Jumantoro mendorong aparat penegak hukum (APH) baik Kejaksaan, Kepolisian, maupun lembaga terkait untuk mengawasi dan menindak tegas dugaan penyelewengan dana program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI).


"Media, LSM, dan masyarakat harus ikut memberikan informasi kepada APH. Ini bukti nyata bahwa kita mendukung program presiden agar tepat guna dan benar-benar mewujudkan swasembada pangan,” ungkapnya.


Ia juga mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, bersikap profesional dalam penunjukan pelaksana program.


"Jangan karena kedekatan. Harus diberikan kepada pihak yang punya kemampuan agar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.


Sebelumnya, dugaan penyelewengan anggaran mencuat setelah pengakuan Ketua HIPPA 11 Maret, Sarno, yang baru menyelesaikan pekerjaan P3-TGAI di Desa Wringintelu, Kecamatan Puger. Sarno secara terbuka menyebut bahwa dana proyek tidak diterima utuh sejak pencairan pertama.


Ia menyebut nama Ahmadi dan Saktuqi sebagai pihak yang diduga mengatur mekanisme pemotongan anggaran.


"Rekening saya diminta anggota konsorsium Sauki. Setelah dana turun, di bawah sudah ada yang menunggu meminta potongan,” ujarnya.


Rincian Dugaan Pemotongan:

Total nilai proyek: Rp195 juta

Dana cair tahap awal: Rp135 juta

Diduga dipotong: 30%


Program P3-TGAI sendiri merupakan program padat karya tunai yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan fungsionalitas jaringan irigasi melalui pemberdayaan petani. Program ini menjadi bagian penting dalam mendukung visi Presiden Prabowo menuju Indonesia Emas 2045 melalui swasembada dan ketahanan pangan. (Eko) 

Bagikan:

Komentar