|
Menu Close Menu

Integrasikan Nilai Pesantren dan Teknologi, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning Hadir sebagai Madrasah Inklusif di Pamekasan

Senin, 26 Januari 2026 | 19.25 WIB

Suasana di Kantor MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning, Pamekasan.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan— Di tengah kegelisahan publik terhadap arah pendidikan nasional yang kerap terjebak pada logika administratif dan ketimpangan akses, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kyai Mudrikah Kembang Kuning hadir membawa narasi alternatif tentang pendidikan yang berkeadilan dan berpihak pada kelompok rentan.


Madrasah ini tengah menjalani proses monitoring dan verifikasi pengajuan izin operasional oleh Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan. Kegiatan tersebut dipimpin Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Pamekasan, KH Badrus Shomad, S.Ag., M.Pd.I., bersama operator kabupaten dan tim verifikasi.


Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Achmad Muhlis, menilai proses tersebut bukan sekadar prosedur birokrasi. Menurutnya, pendirian MTs Kyai Mudrikah merupakan momentum sosial penting dalam melawan ketimpangan pendidikan.


“Ini bukan hanya soal izin operasional, tetapi penanda lahirnya institusi pendidikan yang berpihak pada keadilan sosial,” ujar Muhlis, Senin (26/1/2026).


Ia menjelaskan, MTs Kyai Mudrikah secara eksplisit menyasar peserta didik dari keluarga tidak mampu, yatim, dan duafa. Kelompok ini, kata dia, selama ini kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal.


Dalam konteks tersebut, madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu. Lebih dari itu, MTs Kyai Mudrikah diposisikan sebagai agen korektif atas ketimpangan struktural yang bersumber dari faktor ekonomi, sosial, dan geografis.


Muhlis menilai pilihan membuka akses pendidikan murah dan terjangkau mencerminkan kesadaran bahwa kemiskinan bukan kegagalan individu semata. Ia merupakan produk relasi sosial yang timpang.


Karena itu, pendirian madrasah ini dapat dibaca sebagai bentuk resistensi halus terhadap komersialisasi pendidikan. Sekaligus menjadi afirmasi bahwa pendidikan keagamaan memiliki mandat sosial untuk membela kelompok lemah dan terpinggirkan.


Menurut Muhlis, keberpihakan pada peserta didik yatim dan duafa memiliki dampak psikologis yang mendalam. Anak-anak dari latar belakang rentan kerap membawa beban rendah diri dan kecemasan masa depan.


“Madrasah ini tidak hanya menyediakan ruang belajar kognitif, tetapi juga ruang pemulihan psikologis. Pendidikan menjadi proses restorasi martabat,” jelasnya.


Salah satu terobosan yang diapresiasi adalah penerapan konsep one student one laptop. Inisiatif ini dinilai bukan sekadar modernisasi sarana, melainkan strategi psikopedagogis untuk membangun kepercayaan diri peserta didik.

Bagi anak dari keluarga kurang mampu, akses teknologi menjadi simbol pengakuan bahwa mereka setara secara potensial dengan siapa pun. Hal ini berkontribusi pada pembentukan motivasi dan kesiapan menghadapi dunia digital.


Muhlis menilai MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning berhasil mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan literasi teknologi dalam satu ekosistem pendidikan. Tradisi pesantren dan teknologi tidak dipertentangkan, tetapi saling melengkapi.


Model pendidikan ini, lanjutnya, sejalan dengan gagasan pedagogi transformatif. Pendidikan dipahami sebagai proses pembebasan, bukan sekadar reproduksi pengetahuan.


Dengan biaya terjangkau dan fasilitas yang disiapkan secara serius, madrasah ini berpotensi menjadi ruang belajar yang memanusiakan manusia. Peserta didik tidak hanya diajari apa yang harus diketahui, tetapi dibentuk menjadi pribadi yang sadar, berdaya, dan berakhlak.


Ia juga menyoroti keterlibatan aktif Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan dalam proses monitoring dan verifikasi. Menurutnya, hal ini menunjukkan peran strategis negara dalam menjaga mutu dan arah pendidikan keagamaan.


Namun, Muhlis mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata diukur dari kelengkapan dokumen administratif. Lebih penting adalah visi sosial dan nilai keberpihakan yang diusung lembaga pendidikan.


“Dalam masyarakat Madura yang kuat dengan tradisi pesantren, MTs Kyai Mudrikah berpotensi menjadi simpul sosial baru. Menghubungkan pendidikan, pengasuhan, dan pengabdian sosial dalam satu napas,” tegasnya.


Ia menambahkan, madrasah semacam ini tidak hanya mencetak lulusan. Lebih jauh, ia membentuk generasi yang memahami bahwa ilmu harus berpihak dan teknologi harus beretika.


Pendirian MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning dinilai sebagai ikhtiar kolektif untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya, yakni jalan pemanusiaan manusia.


“Anak-anak miskin tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi kesempatan yang bermartabat. Madrasah dengan visi sosial, psikologis, dan pedagogis yang utuh adalah bentuk kesempatan itu,” pungkas Muhlis. (Man) 

Bagikan:

Komentar