![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Stadion Gajayana, Kota Malang.(Dok/Istimewa) |
Sejumlah ibu-ibu Muslimat tampak antusias menyapa sosok yang akrab disapa Ning Lia itu. Pujian spontan pun mengalir, salah satunya dengan ungkapan, “Masyaallah cantiknya.”
Ning Lia menanggapi respons tersebut dengan senyum tulus dan sikap santun. Ia menyapa balik para jamaah dengan ramah, tanpa kesan berjarak.
Bagi warga Nahdliyin, Ning Lia dikenal sebagai representasi nadhliyin milenial. Sosoknya memadukan kesantunan, intelektualitas, dan kedekatan dengan masyarakat akar rumput.
Interaksi Ning Lia dengan jamaah terlihat alami. Putri KH Maskur Hasyim itu menyapa warga satu per satu, melayani ajakan berbincang, hingga berswafoto bersama.
Sikap rendah hati tersebut membuatnya mudah diterima di berbagai kalangan. Khususnya di lingkungan Muslimat NU, Ning Lia kerap hadir dalam audiensi dan kegiatan ke-NU-an.
Ia juga aktif mengisi berbagai forum kaderisasi NU. Mulai dari Mapaba, Makesta, hingga pengkaderan di tingkat PW, PC, sampai ranting.
Kesantunan Ning Lia tak lepas dari latar belakang pendidikannya. Ia memiliki rekam jejak akademik yang kuat.
Ning Lia tercatat pernah menempuh pendidikan di tiga institusi berbeda dalam waktu bersamaan. Yakni Universitas Airlangga, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan STAI Taruna Surabaya.
Pengalaman tersebut membentuk karakter disiplin sekaligus memperluas wawasan sosial dan keagamaannya.
Di lingkungan NU, Ning Lia bukan sosok baru. Ia pernah menyandang predikat Putri NU, yang memperkuat posisinya sebagai figur muda aktif di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Kiprahnya berlanjut ke dunia politik. Pada Pemilihan Anggota DPD RI, Ning Lia meraih sekitar 2,7 juta suara se-Jawa Timur.
Perolehan itu menempatkannya sebagai salah satu senator dengan dukungan elektoral kuat. Sekaligus mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap kapasitas dan integritasnya.
Pengamat sosial, Mubarok, menilai daya tarik Ning Lia terletak pada kombinasi citra religius, kecerdasan, dan kemampuan membangun komunikasi emosional.
Menurutnya, interaksi spontan Ning Lia dengan jamaah Muslimat di Malang menunjukkan bagaimana figur publik tetap dekat dengan basis kulturalnya.
“Dengan rekam jejak organisasi, pendidikan, dan politik yang solid, Ning Lia Istifhama dipandang sebagai representasi generasi muda NU yang mampu menjembatani tradisi dan dinamika zaman,” ujar Mubarok. (Red)


Komentar