|
Menu Close Menu

Ansor Jatim Perkuat Rantai Keilmuan Lewat Majelis Lailatul Isnād

Selasa, 17 Februari 2026 | 22.39 WIB

Kegiatan Majelis Lailatul Isnād di Graha Ansor Jawa Timur, Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya— GP Ansor Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat tradisi keilmuan Islam melalui penyelenggaraan Majelis Lailatul Isnād yang digelar di Graha Ansor Jawa Timur, Senin (16/2/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB hingga menjelang dini hari itu diikuti ratusan kader dan santri dengan penuh kekhusyukan.


Majelis tersebut menghadirkan Al-Musnid KH. Aly Mas’adi, yang dikenal sebagai katib dari ulama besar asal Padang, Syekh Yasin al-Fadani. Dalam forum ilmiah tersebut, para peserta mengikuti pembacaan sekaligus menerima ijazah 40 Hadits Musalsal, mata rantai transmisi ilmu yang tersambung secara otentik hingga kepada Rasulullah ﷺ.


Dalam tausiyahnya, KH. Aly Mas’adi menyampaikan ijazah ‘āmmah melalui dua hadis utama, yakni Hadis Musalsal bil Awwaliyah yang menekankan nilai kasih sayang, serta Hadis Musalsal bil Mahabbah tentang cinta. Ia menegaskan bahwa inti risalah kenabian adalah rahmah. Karena itu, siapa pun yang menapaki jalan ilmu harus terlebih dahulu menanamkan kasih sayang dalam dirinya sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Ia juga menyinggung kisah sahabat Mu‘adz bin Jabal yang menerima ungkapan cinta langsung dari Rasulullah sebagai bagian dari pendidikan ruhani yang mendalam.


Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Majelis Lailatul Isnād bagian dari strategi membangun kaderisasi berbasis sanad. Menurutnya, Ansor harus tampil sebagai penjaga tradisi sekaligus penggerak peradaban, aktif di ruang sosial, namun tetap berpijak pada otoritas keilmuan yang sahih.


Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM PW GP Ansor Jatim, Dr. Abdulloh Hamid, menekankan urgensi sanad di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menyebut bahwa sanad bukan hanya rangkaian nama ulama, melainkan sistem penjagaan metodologi, etika, dan otentisitas ilmu. Dengan sanad, ilmu tidak tercerabut dari akarnya dan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun moral.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, H. Shampton Masduqie, bersama Ning Raudloh Quds. Kehadiran unsur birokrasi ini menjadi simbol kolaborasi antara ulama, pemuda, dan pemerintah dalam merawat khazanah keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Majelis Lailatul Isnād pun menjadi penegasan bahwa Ansor Jawa Timur tidak hanya membangun militansi gerakan, tetapi juga memperkokoh fondasi intelektual dan spiritual kader. Dengan sanad yang terjaga, setiap langkah dakwah dan pengabdian tetap berada dalam koridor moderasi (wasathiyah), berakar kuat pada tradisi, dan tersambung secara sahih kepada mata air keilmuan Islam. (Red) 

Bagikan:

Komentar