![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Dok/Istimewa). |
Dalam sejumlah kegiatan buka bersama, santunan anak yatim, hingga silaturahmi dengan tokoh masyarakat, Lia konsisten mengangkat pesan-pesan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai pijakan.
Salah satu hadis yang ia jadikan pegangan adalah riwayat Tirmidzi: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
Menurut Lia, pesan itu sangat relevan bagi pejabat publik.
“Ramadan ini momentum fokus pada kerja nyata. Tinggalkan polemik yang tidak produktif dan perbanyak kontribusi yang berdampak,” ujarnya, kemarin, Minggu (22/02/2026).
Dalam tausiyahnya yang melalui media sosial, Lia juga mengingatkan hadis tentang orang yang bangkrut di hari kiamat (HR Muslim). Yakni mereka yang datang dengan pahala ibadah, tetapi semasa hidupnya gemar menyakiti orang lain.
“Jangan sampai kita rajin ibadah, tetapi melukai orang lain dengan ucapan atau tindakan,” tegasnya.
Baginya, Ramadan adalah momentum audit moral tahunan—terutama bagi pemegang amanah publik.
Mengutip hadis dari Abu Ya’la yang disahihkan Imam Hakim, Lia menekankan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi orang lain dengan harta semata, tetapi bisa dengan wajah yang bersahabat dan akhlak yang baik.
Ia menyebut pendekatan humanis dalam pelayanan masyarakat jauh lebih membekas dibanding bantuan material semata.
“Empati itu ibadah sosial,” katanya.
Memasuki hari-hari berikutnya, Lia mengingatkan tentang dua nikmat yang kerap membuat manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang (HR Bukhari).
Menurutnya, Ramadan adalah sekolah disiplin.
“Kalau kita mampu mengatur waktu selama Ramadan, artinya kita sedang melatih kualitas diri,” jelasnya.
Dalam forum keluarga muda, Lia juga menyampaikan hadis tentang pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga dan menjadi pribadi terbaik bagi pasangan.
Ia meyakini ketahanan keluarga adalah fondasi ketahanan bangsa.
Tak hanya itu, ia juga mengutip hadis riwayat Tirmidzi tentang besarnya pahala yang sebanding dengan ujian.
“Kalau diuji, jangan marah. Bisa jadi itu tanda Allah mencintai dan sedang menaikkan derajat kita,” ucapnya.
Di hari kesepuluh Ramadan, Lia menegaskan pentingnya menjaga integritas dengan mengingat hadis tentang tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat (Muttafaq ‘alaih).
Menurutnya, jabatan bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
“Ramadan adalah alarm moral bagi siapa pun yang memegang amanah,” tandasnya.
Menutup catatan sepuluh hari pertama Ramadan, Lia mengutip hadis Ibnu Mas’ud tentang dua jenis iri yang dibolehkan: kepada orang yang menggunakan hartanya di jalan kebaikan dan kepada orang yang berilmu serta mengamalkannya.
Ia berharap Ramadan melahirkan pribadi-pribadi dermawan sekaligus cerdas.
“Ramadan bukan hanya ritual, tapi sekolah akhlak dan kepemimpinan,” pungkasnya.
Sepuluh hari pertama pun berlalu dengan pesan yang kuat: ibadah harus berjalan beriringan dengan integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. (Red)


Komentar