|
Menu Close Menu

Kasus HIV di Bangkalan Capai 235 Orang, Mayoritas Usia Produktif

Senin, 23 Februari 2026 | 14.35 WIB


BANGKALAN, lensajatim.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan mencatat sebanyak 235 warga terdiagnosis HIV/AIDS dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dari ratusan kasus tersebut, mayoritas penderitanya merupakan laki-laki usia produktif.


Kepala Dinkes Bangkalan, dr. Nunuk Kristiani, menyampaikan bahwa jumlah kasus baru dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren fluktuatif namun cenderung menurun. Pada 2023 tercatat 84 kasus, tahun 2024 sebanyak 85 kasus, dan pada 2025 turun menjadi 66 kasus baru.


“Memang trennya menurun, akan tetapi juga perlu kesadaran bersama terkait bahayanya HIV,” ujarnya. Senin (23/2/2026).


Menurutnya, dominasi kasus pada kelompok usia produktif menjadi perhatian serius. Selain berdampak pada kondisi kesehatan individu, situasi ini juga berpengaruh pada produktivitas kerja serta ketahanan ekonomi keluarga.


Secara medis, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel darah putih, khususnya sel CD4.


Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yakni fase lanjut ketika daya tahan tubuh menurun drastis dan rentan terhadap berbagai infeksi.


Nunuk menjelaskan, penularan HIV terjadi melalui pertukaran cairan tubuh dari orang yang telah terinfeksi, seperti penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian maupun hubungan seksual tanpa pengaman.


Untuk menekan angka penularan sekaligus meningkatkan deteksi dini, Dinkes Bangkalan menyediakan layanan tes HIV di sejumlah fasilitas kesehatan. Saat ini, layanan pemeriksaan tersedia di dua rumah sakit dan 12 puskesmas di wilayah Bangkalan.


Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan layanan terapi antiretroviral (ARV) bagi penyandang HIV. Total terdapat 14 fasilitas kesehatan terdiri dari dua rumah sakit dan 12 puskesmas yang melayani terapi ARV.


Terapi ARV tidak menyembuhkan HIV, namun mampu menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga serta risiko penularan dapat ditekan apabila pengobatan dijalani secara rutin.


Nunuk menegaskan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penyandang HIV/AIDS. Menurutnya, stigma dan rasa takut seringkali membuat masyarakat enggan melakukan pemeriksaan.


“HIV seharusnya bukan penyakit tabu di masyarakat. Banyaknya stigma membuat masyarakat belum membuka diri untuk pemeriksaan HIV secara langsung,” pungkasnya.


Dinkes berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pencegahan, pemeriksaan rutin bagi kelompok berisiko, serta memberikan dukungan kepada penyandang HIV/AIDS agar tidak mengalami diskriminasi. (Syaiful)

Bagikan:

Komentar