Oleh: Firman Syah Ali Wongsokusumorejo
Lensajatim.id, Opini- Setiap tanggal 9 Februari, kita memperingati Hari Pers Nasional (HPN) untuk mengenang kelahiran Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Mari kita jadikan peringatan rutin bukan sekadar seremoni tahunan yang terkesan membosankan. Kita jadikan HPN sebagai momen kontemplasi di tengah dunia yang semakin bising dan beringas, di mana batas antara fakta dan rekayasa digital menjadi semakin kabur.
Secara historis, pers di Indonesia adalah senjata perlawanan. Sejak era Tirto Adhi Soerjo dengan Medan Prijaji-nya di awal abad ke-20, pers telah menjadi mesin gerakan kemerdekaan bangsa. Di masa revolusi fisik, jurnalis bukan sekadar pembawa berita, melainkan pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi menyebarkan kabar kemerdekaan.
Pers Indonesia lahir dari rahim idealisme dan patriotisme. Pers adalah alat untuk mendobrak kolonialisme, mengawal transisi Orde Lama ke Orde Baru, hingga menjadi salah satu lokomotif gerakan reformasi 1998. Sejarah membuktikan bahwa saat pilar-pilar kekuasaan goyah, pers yang kuatlah yang menjaga arah kompas bangsa tetap pada jalurnya.
Kini tantangan pers berbeda dengan masa lalu, kini kita sedang berhadapan dengan disrupsi, bukan hanya disrupsi digital konvensional, melainkan Disrupsi Inteligensi. Kecerdasan Buatan (AI) kini mampu memproduksi konten dalam hitungan detik, sementara algoritma media sosial berbasis AI seringkali lebih memprioritaskan sensasi daripada esensi. Tantangannya adalah bagaimana pers dengan muatan substantifnya tetap menarik di mata Gen Z dan Gen Alpha yang lebih tertarik mengonsumsi informasi sensasional lewat potongan video singkat di media sosial.
Untuk mengimbangi kecepatan informasi media sosial tersebut, awak jurnalistik ditekan untuk selalu meniadi yang pertama mengabarkan peristiwa. Tekanan tersebut seringkali mengorbankan proses verifikasi dan validasi yang merupakan jantung jurnalisme. Ini menjadi tantangan kedua.
Tantangan ketiga adalah iklan. Mengandalkan iklan konvensional kini sulit dilakukan di tengah dominasi raksasa teknologi global, sehingga dibutuhkan inovasi periklanan yang luar biasa, sambil terus berpacu dengan disruspi. Tentu saja pers akan ngos-ngosan, tapi memang begitulah cara sejarah memeras keringatnya.
Dengan beberapa tantangan di atas, lantas bagaimana pers Indonesia menyapa masa depan?
Di masa depan, peran pers akan bergeser menjadi Sense-Maker atau pemberi makna.
Di saat AI bisa membuat berita secapat kilat, jurnalis manusia harus memberikan konteks, empati, dan investigasi mendalam yang tidak dimiliki mesin. Masa depan pers terletak pada Jurnalisme Nilai—bukan sekadar informasi, tapi pemahaman.
Agar tetap kokoh sebagai pilar keempat demokrasi, komunitas pers harus mengambil langkah strategis berupa
kembali ke khittah ssbagai verifikator. Di tengah banjir hoaks, "kebenaran" adalah produk yang paling mahal. Media yang memiliki standar verifikasi ketat akan menjadi pelabuhan terakhir masyarakat saat mereka ragu.
Selain itu, pers harus mandiri secara teknologi. Bergantung sepenuhnya pada algoritma pihak ketiga hanya akan membuat pers menjadi "budak" traffic. Ingat, membangun komunitas pembaca yang setia (loyal audience) lebih penting daripada sekadar mengejar clickbait. Oleh karena itu,media-media lokal dan nasional harus berkolaborasi dalam investigasi dan distribusi untuk menghadapi dominasi platform global.
Tidak kalah penting dari itu semua adalahliterasi media. Pers harus ikut mendidik pembacanya agar mampu membedakan mana karya jurnalistik dan mana sekadar konten media sosial. Dengan begitu, masyarakat akan tetap lebih memilih pers sebagai referensi utama dan pertama dalam mencari informasi yang benar dan presisi.
Hari Pers 2026 mengingatkan kita bahwa teknologi boleh berevolusi dari kertas ke layar, lalu dari layar ke ruang virtual (metaverse) atau AI, namun nurani jurnalisme tidak boleh berubah. Pers yang kuat tidak akan runtuh oleh disrupsi, justru ia akan menggunakan disrupsi tersebut untuk memperkuat pengawasan terhadap kekuasaan.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Tetaplah menjadi cahaya di tengah gelapnya seliweran informasi tak bertepi.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)/Aktivis 98/Wartawan/Kolumnis
Oleh: Firman Syah Ali Wongsokusumorejo
Setiap tanggal 9 Februari, kita memperingati Hari Pers Nasional (HPN) untuk mengenang kelahiran Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Mari kita jadikan peringatan rutin bukan sekadar seremoni tahunan yang terkesan membosankan. Kita jadikan HPN sebagai momen kontemplasi di tengah dunia yang semakin bising dan beringas, di mana batas antara fakta dan rekayasa digital menjadi semakin kabur.
Secara historis, pers di Indonesia adalah senjata perlawanan. Sejak era Tirto Adhi Soerjo dengan Medan Prijaji-nya di awal abad ke-20, pers telah menjadi mesin gerakan kemerdekaan bangsa. Di masa revolusi fisik, jurnalis bukan sekadar pembawa berita, melainkan pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi menyebarkan kabar kemerdekaan.
Pers Indonesia lahir dari rahim idealisme dan patriotisme. Pers adalah alat untuk mendobrak kolonialisme, mengawal transisi Orde Lama ke Orde Baru, hingga menjadi salah satu lokomotif gerakan reformasi 1998. Sejarah membuktikan bahwa saat pilar-pilar kekuasaan goyah, pers yang kuatlah yang menjaga arah kompas bangsa tetap pada jalurnya.
Kini tantangan pers berbeda dengan masa lalu, kini kita sedang berhadapan dengan disrupsi, bukan hanya disrupsi digital konvensional, melainkan Disrupsi Inteligensi. Kecerdasan Buatan (AI) kini mampu memproduksi konten dalam hitungan detik, sementara algoritma media sosial berbasis AI seringkali lebih memprioritaskan sensasi daripada esensi. Tantangannya adalah bagaimana pers dengan muatan substantifnya tetap menarik di mata Gen Z dan Gen Alpha yang lebih tertarik mengonsumsi informasi sensasional lewat potongan video singkat di media sosial.
Untuk mengimbangi kecepatan informasi media sosial tersebut, awak jurnalistik ditekan untuk selalu meniadi yang pertama mengabarkan peristiwa. Tekanan tersebut seringkali mengorbankan proses verifikasi dan validasi yang merupakan jantung jurnalisme. Ini menjadi tantangan kedua.
Tantangan ketiga adalah iklan. Mengandalkan iklan konvensional kini sulit dilakukan di tengah dominasi raksasa teknologi global, sehingga dibutuhkan inovasi periklanan yang luar biasa, sambil terus berpacu dengan disruspi. Tentu saja pers akan ngos-ngosan, tapi memang begitulah cara sejarah memeras keringatnya.
Dengan beberapa tantangan di atas, lantas bagaimana pers Indonesia menyapa masa depan?
Di masa depan, peran pers akan bergeser menjadi Sense-Maker atau pemberi makna.
Di saat AI bisa membuat berita secapat kilat, jurnalis manusia harus memberikan konteks, empati, dan investigasi mendalam yang tidak dimiliki mesin. Masa depan pers terletak pada Jurnalisme Nilai—bukan sekadar informasi, tapi pemahaman.
Agar tetap kokoh sebagai pilar keempat demokrasi, komunitas pers harus mengambil langkah strategis berupa
kembali ke khittah ssbagai verifikator. Di tengah banjir hoaks, "kebenaran" adalah produk yang paling mahal. Media yang memiliki standar verifikasi ketat akan menjadi pelabuhan terakhir masyarakat saat mereka ragu.
Selain itu, pers harus mandiri secara teknologi. Bergantung sepenuhnya pada algoritma pihak ketiga hanya akan membuat pers menjadi "budak" traffic. Ingat, membangun komunitas pembaca yang setia (loyal audience) lebih penting daripada sekadar mengejar clickbait. Oleh karena itu,media-media lokal dan nasional harus berkolaborasi dalam investigasi dan distribusi untuk menghadapi dominasi platform global.
Tidak kalah penting dari itu semua adalahliterasi media. Pers harus ikut mendidik pembacanya agar mampu membedakan mana karya jurnalistik dan mana sekadar konten media sosial. Dengan begitu, masyarakat akan tetap lebih memilih pers sebagai referensi utama dan pertama dalam mencari informasi yang benar dan presisi.
Hari Pers 2026 mengingatkan kita bahwa teknologi boleh berevolusi dari kertas ke layar, lalu dari layar ke ruang virtual (metaverse) atau AI, namun nurani jurnalisme tidak boleh berubah. Pers yang kuat tidak akan runtuh oleh disrupsi, justru ia akan menggunakan disrupsi tersebut untuk memperkuat pengawasan terhadap kekuasaan.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Tetaplah menjadi cahaya di tengah gelapnya seliweran informasi tak bertepi.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)/Aktivis 98/Wartawan/Kolumnis


Komentar