![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam sebuah acara. (Dok/Istimewa). |
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh refleksi, ia mengungkap pengalaman hidup saat berada di titik nol secara finansial.
Lia bercerita, pernah ada momen ketika dirinya hanya memegang uang Rp5.000 di rumah. Di saat bersamaan, beberapa tamu datang berkunjung.
Persediaan makanan kala itu hanya nasi putih. Ia pun bertanya kepada anak-anaknya apakah mereka lapar.
Ketika anak-anak menjawab tidak, uang Rp5.000 tersebut dibelikan satu bungkus mi instan dan satu butir telur untuk disajikan kepada tamu.
“Setelah makan, anak saya baru bertanya apakah mi gorengnya sudah matang. Di situ saya terdiam. Tapi alhamdulillah mereka mengerti ketika saya jelaskan,” tuturnya.
Ia mengakui, setelah uang tersebut digunakan, kondisi keuangan keluarga benar-benar nol rupiah.
Namun, keesokan harinya selalu ada jalan. Ada saja rezeki yang datang melalui berbagai perantara.
“Yang pasti sabar dan yakin. Itu kuncinya,” ujar senator yang dikenal aktif menyuarakan isu perempuan dan generasi muda tersebut.
Bagi Lia, pengalaman itu bukan untuk membangun citra, melainkan refleksi perjalanan hidup yang membentuk keteguhan hati.
Ia menegaskan bahwa politik tidak selalu ditentukan oleh kekuatan materi.
Menurutnya, keberhasilan bisa lahir dari niat baik, kerja keras, dan ketulusan.
Perjalanan politiknya pun menjadi bukti. Dalam kontestasi terakhir, ia meraih 2,7 juta suara dan menjadi salah satu senator perempuan non-petahana dengan perolehan suara signifikan.
Capaian itu, kata dia, merupakan buah dari proses panjang yang tidak selalu mudah.
Ia juga mengaku pernah diremehkan karena dianggap tidak memiliki kekuatan finansial besar.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi energi untuk terus melangkah.
“Peristiwa nol rupiah itu tidak perlu gengsi untuk diceritakan. Itu bagian dari proses hidup,” katanya.
Kisah tersebut menjadi inspirasi tersendiri, terutama di bulan Ramadan yang identik dengan refleksi dan penguatan spiritual.
Lia menunjukkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari kenyamanan.
Dari cerita tentang Rp5.000, tersirat pesan tentang kesederhanaan, keteguhan, dan keyakinan.
Sebuah pengingat bahwa setiap orang memiliki peluang untuk bangkit, selama tetap sabar, berikhtiar, dan percaya pada pertolongan Tuhan. (Red)


Komentar