![]() |
| Pertemuan Bani Walisongo Se-Madura di Pamekasan.(Dok/Istimewa). |
Pertemuan tersebut menjadi kolom rutin perdana dan direncanakan berlanjut secara berkala. Forum ini digagas sebagai ruang silaturahmi, konsolidasi, sekaligus penguatan visi bersama keluarga besar Bani Walisongo.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan itu, di antaranya RKH M Husni Thamrin Gunung Tinggi Pakong, RKH Ja’far Shodiq Fauzi Batuampar, R Firman Syah Ali Wongsokusumorejo Surabaya, RKH Abdul Halim Bahwi Pamekasan, RKH Abdul Hamid Roqib Suryodirjo Palalang Pakong, RKH A Jamaluddin Sumenep, Ustad Zaini Advokat Pamekasan, RKH Abdusshomad Kolpoh selaku tuan rumah kolom, R Agung Saleh, Ustad Abdul Hasib Pakong Pamekasan, Ustad Agus Faqot Pamekasan, R Fathor Rahman Lenteng Sumenep, R Subki Abdul Hamid Muallim Sa’angan Pamekasan, Ustad Hasibullah Pakong, Ustad Misbahul Anam Sumenep, Ustad Rifa’i Sumenep, Ustad Syaiful Bahri Pakong Pamekasan, R Bahrul Ulum Lora Ombul, Lora Habiburrahman Kolpoh, Ustad Nawawi Plakpak, serta sejumlah tokoh lainnya.
RKH Abdul Hamid Roqib Suryodirjo menjelaskan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka preservasi silsilah dan nasab. Menurutnya, melalui kolom rutin, pohon keluarga diharapkan tetap terjaga akurasinya sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi mendatang.
“Generasi penerus harus mengetahui siapa leluhur mereka agar tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan tidak luntur ditelan zaman,” ujarnya kepada media, Kamis (12/02/2026).
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Panglima NABRAK itu menambahkan, kolom rutin juga bertujuan melestarikan warisan budaya adiluhung Walisongo. Bani Walisongo dinilai memiliki tanggung jawab moral sebagai penjaga tradisi dan budaya Nusantara.
Budaya yang dilestarikan meliputi tata krama, benda-benda pusaka, manuskrip kuno, tradisi endogami, hingga ritual turun-temurun yang menjadi bagian dari identitas keluarga besar tersebut.
Selain itu, forum ini diarahkan untuk memperkuat jaringan strategis dan distribusi putra-putra terbaik Bani Walisongo. Bentuknya antara lain saling mendukung dalam karier, pendidikan, maupun bidang usaha, serta membangun koneksi yang saling menguatkan.
Kolom juga difungsikan sebagai ruang rekonsiliasi dan penguatan solidaritas. Dalam keluarga besar, perbedaan pendapat dan dinamika internal dinilai sebagai hal yang wajar, sehingga diperlukan media resolusi konflik demi menjaga keutuhan bersama.
Tujuan berikutnya adalah membangun visi bersama dalam menghadapi ancaman eksternal. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa Bani Walisongo saat ini menghadapi tantangan serius, terutama dari pihak-pihak yang dinilai berupaya memanipulasi nasab dan sejarah perjuangan Walisongo. Melalui pertemuan rutin, strategi bersama dirumuskan untuk merespons tantangan tersebut.
Lebih jauh, kolom rutin juga diarahkan untuk meningkatkan manfaat Bani Walisongo bagi masyarakat luas. Para tokoh menilai, apabila kontribusi sosial tidak terus dikembangkan, maka peran Walisongo sebagai pembangun peradaban Islam Nusantara akan kehilangan maknanya. Karena itu, konsolidasi rutin dinilai penting untuk menjaga relevansi perjuangan leluhur.
Dalam diskusi yang berlangsung hingga dini hari, sejumlah pokok pikiran turut dirumuskan. Pertama, perjuangan kultural perlu diimbangi dengan perjuangan struktural, baik di ranah politik, birokrasi, maupun antarorganisasi kemasyarakatan.
Kedua, Madura disebut sebagai daerah istimewa bagi Bani Walisongo karena membutuhkan upaya dan perjuangan ekstra, sehingga kolom rutin harus terus ditingkatkan kualitas dan intensitasnya.
Ketiga, generasi Nusantara atau Nak Potoh Nusantara diajak bangga dengan identitas kenusantaraan tanpa bersikap jumawa. Forum menekankan pentingnya menjelaskan nasab Nusantara yang tersambung kepada Nabi Muhammad SAW agar semangat perjuangan tidak padam, serta melawan unsur-unsur asing yang dinilai berupaya memudarkan peradaban Walisongo.
Keempat, RKH M Husni Thamrin dalam dawuhnya mengingatkan, “Kita keturunan ahli tirakat yang sangat dekat dengan Allah, maka jangan sampai mau dijajah oleh sesama manusia.”
Kelima, perjuangan Bani Walisongo dan para santrinya ditegaskan mengedepankan rasionalitas serta tidak menyukai kekerasan.
Keenam, keberagaman dalam perbedaan dipandang sebagai kenikmatan dalam beragama yang harus disyukuri dengan terus membina kerukunan.
Ketujuh, warisan atau legacy Walisongo harus terus dikembangkan dan dijaga dari fitnah. Peserta menegaskan bahwa menghilangkan sejarah berarti menghilangkan masa depan.
Kedelapan, Bani Walisongo yang menduduki posisi kepemimpinan sebagai ulama maupun umara diharapkan senantiasa berkolaborasi dan bersinergi membangun kekuatan serta pertahanan bersama demi masa depan umat, bangsa, dan negara.
Kesembilan, semangat amar ma’ruf nahi munkar dengan cara-cara yang ma’ruf ditegaskan sebagai warisan terbaik Walisongo yang harus terus dipegang teguh oleh seluruh keturunannya. (Man)


Komentar