|
Menu Close Menu

Dunia Berduka, Lia Istifhama Soroti Wafatnya Ali Khamenei dan Pendidikan Empati pada Anak

Selasa, 03 Maret 2026 | 15.20 WIB


Lensajatim.id, Surabaya– Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara di Teheran pada 1 Maret 2026, memicu gelombang reaksi dari berbagai tokoh dunia. Peristiwa yang disebut melibatkan militer Amerika Serikat dan Israel itu menempatkan situasi geopolitik Timur Tengah kembali dalam sorotan internasional.


Kabar meninggalnya ulama berpengaruh tersebut disiarkan media resmi Iran pada Minggu (1/3/2026). Sejumlah pemimpin dan tokoh nasional Indonesia turut menyampaikan pernyataan sikap atas peristiwa tersebut.


Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, menyatakan keprihatinannya. Ia menilai tindakan militer di tengah proses perundingan antarnegara sebagai langkah yang tidak beretika.


“Dari segi etik, kalau sedang berunding jangan serang. Ini keadaan yang sangat memprihatinkan,” ujar JK di Jakarta, Minggu (2/3/2026). Ia juga mengaku bersedih atas wafatnya Khamenei.


Senada dengan itu, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, turut menyampaikan duka dan keprihatinan. Selama ini, Lia dikenal aktif menyuarakan isu kemanusiaan, termasuk kemerdekaan Gaza, Palestina.


“Tentu ini menjadi keprihatinan bersama. Kita wajib menghormati semua agama dan para pemuka agama. Beliau adalah salah satu ulama besar di era kontemporer,” ujar Lia, Selasa (3/3/2026).


Di tengah duka tersebut, Lia mengungkapkan momen personal yang menyentuh. Ia mengaku bangga ketika putranya yang masih duduk di bangku SMP mengunggah kolase foto Khamenei di media sosial sebagai bentuk penghormatan.


Lia kemudian membagikan ulang unggahan itu melalui akun Instagram pribadinya. Menurutnya, hal tersebut menjadi cerminan bahwa nilai empati dan penghormatan terhadap ulama telah tertanam dalam diri anak-anaknya.


“Saya bersyukur anak-anak memiliki kepekaan dan atensi yang sama. Mereka sering mengikuti konten religi dan memahami isu-isu kemanusiaan global, termasuk Palestina,” tuturnya.


Ia menambahkan, sebagai orang tua, dirinya kerap menanamkan kesadaran bahwa mereka beruntung lahir di Indonesia yang damai, berbeda dengan anak-anak di wilayah konflik seperti Palestina.


“Ketika anak-anak bisa mengambil hikmah positif dari apa yang diajarkan orang tua, itu kebahagiaan tersendiri,” imbuhnya.


Lebih jauh, Lia menekankan pentingnya Indonesia memperkuat fondasi internal di tengah dinamika global yang kian bergejolak. Menurutnya, negara tidak boleh hanya menjadi penonton dalam percaturan internasional.


“Situasi global adalah bagian dari dinamika peradaban. Fokus kita adalah membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal,” tegasnya.


Ia menilai ketahanan bangsa tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemandirian ekonomi dan stabilitas sosial yang tumbuh dari akar masyarakat.


Sebagai informasi, Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989. Selama menjabat, ia menjadi figur sentral dalam politik dan keagamaan Iran, serta dikenal konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina.


Di dalam negeri, sosoknya lekat dalam simbol-simbol patriotisme, mulai dari poster hingga mural bertema perlawanan. Ia juga pernah mengalami percobaan pembunuhan yang menyebabkan cedera permanen pada salah satu lengannya.


Wafatnya Khamenei kini menjadi perhatian dunia internasional, sekaligus menambah babak baru dalam dinamika politik Timur Tengah yang penuh ketegangan. (Red) 

Bagikan:

Komentar