|
Menu Close Menu

PWNU Jatim Dorong Aswaja Center Jadi Lembaga Khusus NU Jelang Muktamar ke-35

Kamis, 16 April 2026 | 11.03 WIB

Kegiatan Muskerwil PWNU Jawa Timur.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan pelembagaan Aswaja Center sebagai lembaga atau badan khusus dalam struktur Nahdlatul Ulama. Usulan tersebut akan dibawa dalam forum Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) menjelang Muktamar ke-35 NU.


Gagasan ini merupakan hasil kesepakatan dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim yang digelar di Tuban pada 11–12 April 2026. Forum tersebut dibuka oleh Rais Syuriah PBNU Prof. Mohammad Nuh dan ditutup Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar.


Delegasi Aswaja Center dalam Muskerwil, MZ Muhaimin, menjelaskan bahwa usulan tersebut lahir dari sidang pleno dan diperkuat dalam komisi program yang dipimpin Wakil Ketua PWNU Jatim KH Firjaun Barlaman.


“Pelembagaan Aswaja Center sudah menjadi kesepakatan bersama. Selanjutnya perlu dikawal dalam Konbes dan Munas agar dapat masuk dalam AD/ART NU atau Peraturan PBNU sebagai lembaga resmi,” ujar Muhaimin dalam keterangannya di Surabaya, Senin, (13/04/2026). 


Menurutnya, langkah ini penting agar keberadaan Aswaja Center memiliki landasan hukum yang kuat dalam tubuh organisasi. Ia menekankan perlunya pasal khusus yang mengatur keberadaan lembaga tersebut dalam struktur resmi NU.


Muhaimin juga mengingatkan bahwa aspirasi serupa sebenarnya telah muncul dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. Saat itu, usulan pelembagaan Aswaja Center telah diterima dalam sidang pleno dan direncanakan untuk ditindaklanjuti pada forum berikutnya.


“Karena itu, momentum Konbes dan Munas harus dimanfaatkan untuk memastikan ada penguatan regulasi terkait Aswaja Center,” tegasnya.


Di Jawa Timur sendiri, Aswaja NU Center telah berjalan sejak 2011 dan berkembang cukup masif. Keberadaannya tidak hanya di tingkat wilayah, tetapi juga telah terbentuk di hampir seluruh PCNU hingga tingkat MWCNU.


Perkembangan serupa juga mulai terlihat di sejumlah daerah lain, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang telah menginisiasi lembaga sejenis dengan kepemimpinan masing-masing tokoh lokal.


Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr. KH Wafiul Ahdi, menilai pelembagaan Aswaja Center menjadi kebutuhan mendesak di tengah dinamika zaman, terutama di era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan kontestasi ideologi.


“Aswaja adalah ruh NU. Di era digital ini, ‘perang ideologi’ semakin terbuka. Karena itu, penguatan kelembagaan menjadi penting untuk memastikan syiar dan kaderisasi Aswaja berjalan sistematis,” ujarnya.


Ia juga menyoroti tantangan internal, terutama di kalangan generasi muda NU. Berdasarkan sejumlah temuan, masih banyak generasi Z NU yang belum memahami secara mendalam ajaran Aswaja An-Nahdliyah.


“Kondisi ini perlu direspons serius melalui penguatan literasi, advokasi pemahaman Aswaja, hingga penerbitan buku dan program kaderisasi yang berkelanjutan,” imbuhnya.


Secara keilmuan, Aswaja An-Nahdliyah berlandaskan pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, yakni mengikuti pemikiran Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah, berpegang pada empat mazhab dalam fikih, serta merujuk pada ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.


Selain usulan pelembagaan Aswaja Center, Muskerwil PWNU Jatim juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis lain untuk dibawa ke Munas dan Konbes. Di antaranya penguatan tiga pilar pemberdayaan ekonomi berbasis umat, pengembangan layanan kesehatan berbasis jamaah melalui rumah sakit dan klinik NU, serta penguatan kelembagaan lainnya.


Langkah-langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan di tengah perubahan zaman. (Red) 

Bagikan:

Komentar