|
Menu Close Menu

Gunung Kawi Berselimut Spirit Budaya, Grebek Suro 2026 Satukan Tradisi dan Harapan

Kamis, 18 Juni 2026 | 07.45 WIB

Kegiatan Kirab Budaya Grebek Suro di Kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Malang– Suasana sakral dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti kawasan Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, saat masyarakat menggelar Puncak Festival 1 Suro 2026, Selasa (16/6/2026).


Ratusan peserta dan warga tumpah ruah mengikuti Kirab Budaya Grebek Suro yang menjadi agenda utama festival tahunan tersebut. Mengusung tema "Tradisi Hidup, Budaya Lestari, Bangsa Bermartabat", kegiatan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat lintas generasi.


Kirab budaya yang dimulai dari Terminal Wonosari berlangsung meriah dengan iringan kesenian tradisional, penampilan Tari Topeng, hingga Tari Gunung Kawi yang memukau para pengunjung. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.


Ketua panitia melalui perwakilannya, Muji Santoso, menyampaikan bahwa Festival 1 Suro bukan hanya perayaan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa dan Islam, tetapi juga momentum memperkuat persatuan serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa.


Kepala Desa Wonosari, Suwito, menegaskan bahwa Grebek Suro merupakan tradisi yang sarat makna. Selain sebagai ungkapan syukur atas nikmat dan hasil bumi yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga menjadi sarana doa bersama agar masyarakat senantiasa mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan.


Sementara itu, Camat Wonosari, A.K. Wisnu Aji, S.IP., M.Si, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai identitas bangsa yang tidak boleh hilang di tengah perkembangan zaman.


Puncak acara ditandai dengan perjalanan kirab menuju Pesarean R.M. Imam Soedjono dan Kyai Zakaria II Gunung Kawi untuk melaksanakan doa dan syukuran bersama. Selanjutnya, prosesi Pembakaran Buto Sengkolo menjadi simbol pembuangan segala bentuk keburukan, kesialan, dan energi negatif, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.


Selain menjadi agenda budaya, Festival 1 Suro Gunung Kawi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku seni, pemerintah, hingga wisatawan menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah modernisasi.


Berkat sinergi seluruh unsur pengamanan dari TNI, Polri, pemerintah daerah, Linmas, dan panitia, rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Festival ini kembali menegaskan posisi Gunung Kawi sebagai salah satu pusat tradisi budaya spiritual yang tetap lestari dan menjadi kebanggaan Kabupaten Malang. (Den) 

Bagikan:

Komentar