Oleh : Firman Syah Ali
Lensajatim.id, Opini- Di ruang publik hari ini, suara-suara sumbang mengenai dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU), sebut saja gegeran NU 2026, sering kali terdengar begitu nyaring, bahkan terkadang mengandung sinisme. Berbagai spekulasi mengenai keretakan, perdebatan runcing, hingga fluktuasi gesekan antar-kubu, kerap dianggap sebagai tanda "gawat darurat" bagi organisasi.
Namun, jika kita menarik garis sejarah yang panjang, kita akan menemukan sebuah pola yang berulang (arketipe). NU adalah organisasi yang "hidup" justru karena ia terus-menerus berdialektika dalam keberagaman, perbedaan, pertentangan, bahkan pergelutan.
Sejarah mencatat, NU bukan organisasi monolitik. Ketegangan, perdebatan, dan silang pendapat adalah bahan bakar yang selama hampir satu abad menjaga NU tetap relevan.
TRADISI IKHTILAF
Sejak awal berdirinya, NU sudah dirancang di atas fondasi Ahlussunnah wal Jama'ah yang menghargai perbedaan pendapat (ikhtilaf). Mu'assisun menanamkan prinsip bahwa perbedaan pendapat di kalangan kiai bukanlah sebuah aib, melainkan kekayaan khazanah intelektual NU.
Ketika para pengurus, aktivis dan kader NU hari ini berselisih, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan tradisi perdebatan yang sudah diwariskan dari Taswirul Afkar hingga meja-meja Bahtsul Masail. Hanya saja, ketika perdebatan itu keluar dari ruang akademis, pindah gawang ke lapangan politik praktis, ia sering kali terlihat seperti perpecahan. Padahal, sejarah membuktikan bahwa friksi tersebut adalah mekanisme alamiah NU untuk menemukan titik keseimbangan baru.
BELAJAR DARI SEJARAH
Jika kita menengok ke belakang, ada momen-momen krusial di mana NU berada di titik nadir perpecahan, namun selalu berhasil menemukan jalan pulang menuju keutuhan organisasi dan kebesaran jamaah.
Pertama, Pada zaman penjajahan, selalu terjadi gesekan pemikiran antara kelompok yang kooperatif dan non kooperatif dengan penjajah. Yang paling terkenal adalah pertentangan pendapat tentang kewajiban Seikerei pada zaman penjajahan Jepang. Namun KH Hasyim Asy'ari selalu berhasil menjembatani kedua kubu ini, dengan cara menjaga kemandirian organisasi namun tetap berkomunikasi dengan pemerintah demi kemashlahatan umat.
Kedua, Keputusan Keluar dari Masyumi (1952). Ini adalah salah satu konflik paling hebat dalam sejarah NU. Perbedaan pandangan mengenai posisi NU dalam partai Masyumi membelah organisasi hingga ke akar-akarnya (polarisasi). Situasinya sangat panas, penuh perdebatan ideologis dan politik. Namun, konflik ini justru melahirkan "NU Baru" yang lebih mandiri, berdaulat, dan mampu menunjukkan kekuatannya sebagai partai politik independen (Partai NU). Perpecahan ini justru menjadi titik tolak kemandirian NU, boleh juga dibaca kemerdekaan NU dari Masyumi.
Ketiga, Konflik NASAKOM. Saat elit NU menerima konsep NASAKOM-nya Bung Karno, terjadi gegeran skala besar di dalam internal NU, terutama dengan kelompok anti NASAKOM. Namun jamaah NU waktu itu tetap solid, terbukti bahwa ketika PKI diyakini memberontak, NU satu komando ikut memberantasnya. Ini membuktikan bahwa NU memiliki mekanisme pertahanan yang unik, ketika elit di atas melakukan diplomasi politik yang tampak lunak, akar rumput tetap menjaga marwah ideologis dan identitas organisasi agar tidak tergerus. Ada yang menyebutnya politik dua kaki, ada yang menyebutnya adaptasi taktis, sedangkah Choirul Anam penulis buku sejarah NU, menyebutnya manuver bertahan hidup, agar tidak dibubarkan sebagaimana Masyumi.
Keempat, Pergolakan Khittah 1984. Ini adalah konflik internal yang sangat dalam antara kelompok pragmatis yang ingin tetap dalam politik praktis, melawan kelompok reformis yang dipimpin oleh KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Perdebatan saat itu bukan sekadar adu argumen, tetapi adu agitasi. Banyak yang mengira NU akan runtuh. Namun, alih-alih hancur, NU justru mengalami proses "reborn" (kelahiran kembali) yang luar biasa melalui keputusan kembali ke Khittah 1926, di mana NU berhasil melepaskan diri dari jeratan kekuasaan dan kembali ke masyarakat.
Kelima, Konflik yang paling legendaris adalah perseteruan antara Gus Dur (pendiri PKB) dengan keponakannya, A Muhaimin Iskandar, pada tahun 2008. Konflik ini membelah loyalitas warga NU di akar rumput. Terjadi dualisme kepengurusan di PKB yang berlarut-larut, yang secara tidak langsung menciptakan ketegangan di tubuh NU, mengingat banyak elit PKB juga menjabat di struktural NU. Peristiwa tersebut adalah "titik balik" yang memaksa NU untuk berevolusi menjadi organisasi yang lebih mandiri, plural dalam pilihan politik, dan tidak lagi bergantung pada satu poros kekuasaan saja.
Keenam, Munculnya kelompok yang menyebut dirinya sebagai NU Garis Lurus (NU GL), yang memicu polarisasi antara kelompok yang ingin NU tetap inklusif, moderat, dan akomodatif terhadap perubahan zaman, melawan kelompok yang cenderung lebih eksklusif, keras dan kaku. Tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan narasi NU GL sering kali melontarkan kritik keras kepada kebijakan struktural PBNU, bahkan terhadap figur struktural NU, jika struktural NU dianggap terlalu condong kepada ideologi yang mereka tolak, atau terlalu mesra dengan pihak-pihak yang mereka anggap berseberangan dengan nilai-nilai Aswaja versi mereka. Kelompok ini berkelindan dengan kelompok di luar NU, misalnya dengan FPI. Konflik berakhir dengan kesadaran kolektif bahwa NU adalah raksasa yang di dalam tubuhnya banyak sekali elemen.
MENGAPA TETAP UTUH DAN BESAR?
Mungkin kita bertanya, mengapa setelah konflik sebesar apapun, NU
selalu bisa kembali utuh? Jawabannya terletak pada beberapa fondasi kuat.
Pertama, Ikatan Sanad dan Kiai. Otoritas di NU tidak hanya bersifat administratif dan birokratis, tetapi karismatik. Kiai sepuh tetap menjadi rujukan terakhir. Ketika konflik mencapai titik jenuh, biasanya para kiai sepuh akan turun gunung untuk menengahi. Sejarah membuktikan, suara kiai sepuh masih jauh lebih didengar daripada struktur organisasi formal. Van Bruinessen berpendapat bahwa kekuatan NU bukan terletak pada struktur birokrasi di PBNU Jakarta, melainkan pada otonomi ribuan kiai dan pesantren di daerah. Karena loyalitas warga NU bersifat "kiai-sentris" (patuh pada kiai lokal/pengasuh pesantren masing-masing), maka konflik di tingkat elit PBNU sering kali tidak beresonansi secara destruktif ke akar rumput. Jika pimpinan pusat sedang berkonflik, santri dan jamaah tetap beraktivitas seperti biasa karena mereka tidak merasa "diurus" oleh Jakarta, melainkan oleh kiai mereka. Struktur ini membuat NU tidak mudah runtuh karena satu titik kegagalan di pusat.
Kedua, Aswaja sebagai Common Language. NU memiliki bahasa universal yang sama, yakni tradisi intelektual Aswaja. Sekeras apa pun debat yang terjadi, mereka masih merujuk pada kitab yang sama dan tradisi yang sama. Ini membuat para aktor konflik tetap merasa berada dalam "rumah bersama".
Ketiga, Kesadaran Jam’iyah vs Jama’ah. Ada kesadaran kolektif yang tertanam kuat bahwa organisasi (Jam'iyah) bisa berdinamika, tetapi umat (Jama'ah) adalah kewajiban yang harus dijaga. Kesadaran bahwa "NU adalah rumah bersama yang besar" sering kali mengalahkan ego sektoral saat krisis benar-benar terjadi. Cak Anam menjelaskan bahwa karena NU memiliki akar kultural yang kuat, seperti tradisi tahlilan, ziarah kubur, amaliyah Aswaja, maka ketika "baju politiknya" robek, "tubuh kulturalnya" tetap sehat. Warga NU menganggap politik hanyalah sarana, sementara ke-NU-an adalah identitas. Inilah yang menjaga NU tetap utuh meski "kendaraan politiknya" sering gonti-ganti atau mengalami dualisme.
Keempat, Karakteristik tenda besar (big tent). NU memiliki mekanisme tawasuth (moderat/jalan tengah/equilibrium) yang bukan sekadar doktrin agama, tapi juga strategi organisasi. NU selalu mampu "berbelok" untuk menghindari konfrontasi total. Kemampuan untuk menjadi "tenda besar" yang menampung berbagai aliran dan pemikiran membuat konflik internal menjadi dialektika yang memperkaya, bukan memecah organisasi. Hal ini diungkapkan oleh Greg Fealy.
Kelima, Struktur kepemimpinan ganda dan pola kepengurusan federasi (bukan satu komando), juga berperan besar dalam menyelamatkan NU dari keruntuhan setiap dihantam oleh badai konflik internal
APA YANG AKAN TERJADI PASKA MUKTAMAR ke-35 Tahun 2026?
Apa yang kita saksikan hari ini adalah bagian dari siklus sejarah yang lazim. NU sedang beradaptasi dengan tantangan zaman yang semakin kompleks.
Perdebatan hari ini, seberat apa pun terdengar, sebenarnya adalah tanda bahwa NU masih memiliki daya hidup.
Sejarah NU adalah sejarah tentang "kembali bersatu dan tetap utuh."
Organisasi ini sudah kenyang dengan konflik, namun sejarah selalu berpihak pada kemampuannya untuk mendamaikan diri sendiri. Dinamika saat ini hanyalah satu bab dalam buku tebal sejarah NU. Jika bab-bab sebelumnya berhasil dilalui dengan pendewasaan, maka bab saat ini pun akan mengantarkan NU pada format organisasi yang lebih kokoh di masa depan.
Bagi NU, perpecahan hanyalah jeda untuk berkaca, dan persatuan adalah takdir sejarah yang selalu dijemput kembali.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU/Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)


Komentar