![]() |
| Pemdes dan masyarakat Desa Lancar memperbaiki jalan guna menyambut kehadiran ulama kondang Prof. Dr. KH. Abdul Somad. (Ist/Kabar Madura) |
Agenda keagamaan tahunan tersebut tidak hanya menjadi ruang silaturahmi spiritual, tetapi juga memantik semangat gotong royong masyarakat dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan menjelang hadirnya ribuan jamaah dari berbagai daerah.
Di balik persiapan penyelenggaraan haul, tersimpan visi besar yang sedang dirintis bersama antara Pemerintah Desa Lancar dan IBS PKMKK, yakni membangun kawasan berbasis pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan wisata edukatif-religius.
Komitmen itu terlihat dari langkah nyata Kepala Desa Lancar, H. Mohammad Hosli, yang memberikan perhatian khusus terhadap perbaikan dan pelebaran akses jalan menuju kawasan IBS PKMKK.
Peningkatan infrastruktur tersebut tidak semata ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu dan jamaah yang akan menghadiri Haul Akbar. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mendukung pertumbuhan kawasan pendidikan, ekonomi, dan wisata di Desa Lancar.
Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Prof. Dr. Achmad Muhlis, menilai aksesibilitas merupakan faktor utama dalam menentukan perkembangan suatu kawasan.
"Aksesibilitas merupakan fondasi utama yang menentukan tumbuh atau tidaknya sebuah kawasan pendidikan, ekonomi, maupun wisata. Karena itu, langkah Pemerintah Desa Lancar sesungguhnya mencerminkan cara pandang yang progresif bahwa pembangunan fisik harus diarahkan untuk menopang pembangunan manusia dan peradaban," ujarnya.
Menurutnya, perbaikan akses jalan juga menjadi bukti komitmen Pemerintah Desa Lancar dalam mendukung rencana besar pengembangan destinasi wisata edukatif-religius yang tengah dirancang bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lancar.
Konsep tersebut lahir dari keyakinan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
Kawasan yang dirancang nantinya tidak hanya berorientasi pada aspek rekreasi, melainkan mengintegrasikan pendidikan, spiritualitas, lingkungan, ekonomi kreatif, olahraga sunnah, serta pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Sebagai bagian dari persiapan, IBS PKMKK dalam beberapa bulan terakhir aktif melakukan penjajakan dan silaturahmi dengan sejumlah pengusaha, praktisi, serta pengembang kawasan wisata dari berbagai daerah, termasuk Kota Malang yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan wisata edukatif dan wisata keluarga di Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkaya referensi dan pengalaman dalam merancang kawasan wisata yang profesional, terukur, dan berkelanjutan.
Achmad Muhlis menegaskan bahwa gagasan besar membutuhkan kolaborasi luas dan kemauan untuk belajar dari berbagai pihak yang telah berhasil mengembangkan konsep serupa.
Keseriusan pengembangan kawasan semakin terlihat saat IBS PKMKK menerima kunjungan investor sekaligus praktisi pengembangan wisata dari Timur Tengah, Dr. Eng. Waleed, pada Selasa, 23 Juni 2026.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang kerja sama pengembangan wisata edukatif-religius di kawasan IBS PKMKK dan Desa Lancar.
Diskusi juga berkembang pada peluang kolaborasi internasional di bidang pertukaran pelajar, pengembangan tenaga kependidikan, penguatan jejaring pendidikan dengan Timur Tengah, hingga pengembangan pembelajaran Bahasa Arab bagi penutur non-Arab.
Dr. Eng. Waleed menilai konsep wisata berbasis pesantren yang dirancang IBS PKMKK memiliki prospek yang sangat baik apabila dikelola secara profesional.
Menurutnya, kekuatan utama kawasan tersebut terletak pada kemampuannya mengintegrasikan nilai keagamaan, pendidikan, sains, teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu konsep pembangunan yang utuh.
Model seperti itu dinilai sejalan dengan kebutuhan pembangunan modern yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial, pendidikan, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya fondasi perencanaan yang matang melalui penyusunan master plan, blueprint kawasan, studi kelayakan, analisis sumber daya alam, pemetaan potensi sosial masyarakat, hingga perencanaan bisnis jangka panjang.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kawasan wisata tidak hanya ditentukan oleh konsep yang menarik, tetapi juga oleh kualitas perencanaan dan konsistensi pelaksanaannya.
Dukungan dari berbagai kalangan, baik pengusaha nasional maupun pemerhati pendidikan dan wisata religi dari Timur Tengah, menjadi suntikan optimisme bagi IBS PKMKK untuk terus melangkah mewujudkan visi tersebut.
Achmad Muhlis menyebut kawasan yang dirintis di Desa Lancar kini mulai mendapat perhatian lebih luas karena dinilai mampu memadukan pendidikan, spiritualitas, lingkungan hidup, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu model pembangunan yang terintegrasi.
"Seluruh ikhtiar ini merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun peradaban. Kehadiran Prof. Dr. KH. Abdul Somad pada Haul Akbar nanti menjadi simbol bertemunya tradisi keilmuan, dakwah, dan pembangunan masyarakat," katanya.
Ketua Senat UIN Madura itu menambahkan, perbaikan jalan yang dilakukan Pemerintah Desa Lancar menjadi simbol keterhubungan dan kemajuan. Sementara kolaborasi dengan BUMDes, pengusaha nasional, serta mitra internasional mencerminkan keterbukaan terhadap perubahan dan pengembangan masa depan.
Ia berharap pengembangan wisata edukatif-religius tersebut dapat memperkuat peran pesantren sebagai pusat transformasi sosial yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
"Semoga Allah menakdirkan segala ikhtiar baik ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya sepanjang masa," pungkasnya. (Red)


Komentar