|
Menu Close Menu

UNAIR Naik ke Tiga Besar Nasional, Firman Dorong Penguatan Hilirisasi Riset untuk Kemaslahatan Masyarakat

Jumat, 19 Juni 2026 | 18.40 WIB

Firman Syah Ali. (Dok/AI). 
Lensajatim.id, Surabaya– Universitas Airlangga (UNAIR) mencatatkan capaian membanggakan dalam pemeringkatan perguruan tinggi dunia terbaru yang dirilis oleh Quacquarelli Symonds (QS). Dalam daftar terbaru tersebut, UNAIR berhasil menembus posisi tiga besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia sekaligus naik ke peringkat 276 dunia.


Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting bagi perguruan tinggi yang bermarkas di Surabaya itu. Berdasarkan rilis QS terbaru, posisi pertama nasional ditempati Universitas Indonesia (UI), disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat kedua, sementara UNAIR berada di posisi ketiga nasional. Capaian ini sekaligus menempatkan UNAIR di atas Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pemeringkatan domestik.


Kabar tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk salah satu alumninya, Firman Syah Ali. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu mengaku bersyukur dan bangga atas prestasi yang diraih almamaternya.


"Sebagai Ksatria Airlangga tentu saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, berterima kasih kepada segenap civitas akademika dan bangga kepada almamater tercinta," ujar keponakan Mahfud MD tersebut, Jumat (19/06/2026). 


Menurut Firman, peningkatan peringkat UNAIR merupakan buah dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat tata kelola kampus, kualitas riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Namun demikian, ia menilai capaian akademik tidak semata-mata diukur dari angka dan posisi dalam pemeringkatan.


"Tentu saja capaian UNAIR yang kini menempati peringkat ketiga nasional membuktikan bahwa ikhtiar perbaikan tata kelola, riset, dan pengabdian masyarakat di kampus kita membuahkan hasil. Namun, bagi saya, angka dan peringkat hanyalah dampak dari dedikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana para Ksatria Airlangga dengan semangat Excellence with Morality terus menjadi lokomotif solusi bagi persoalan umat dan bangsa, serta bersinergi dengan kampus-kampus besar lainnya seperti ITB untuk memajukan pendidikan tinggi Indonesia," lanjut Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU tersebut.


Firman juga menaruh harapan besar agar prestasi akademik yang diraih UNAIR dapat berjalan beriringan dengan peningkatan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, tantangan perguruan tinggi saat ini tidak hanya mempertahankan reputasi akademik, tetapi juga memastikan hasil-hasil penelitian dapat memberikan dampak langsung bagi pembangunan.


"Pada akhirnya, tantangan kita ke depan bukanlah sekadar mempertahankan angka di atas kertas, melainkan bagaimana mengakselerasi hilirisasi riset menjadi kebijakan yang solutif bagi masyarakat. Saya menaruh harapan besar agar inovasi-inovasi dari civitas akademika UNAIR dapat terus disinergikan secara konkret dengan kebutuhan riil bangsa dan negara, terutama pemerintah daerah dan masyarakat Jawa Timur," katanya.


Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) itu menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun pembangunan.


"Inilah saatnya membuktikan bahwa universitas bukan lagi sekadar menara gading, melainkan lokomotif perubahan yang membumi, memberikan kemaslahatan nyata bagi bangsa, sekaligus menjadi kebanggaan kita bersama," tutupnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar