![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat jadi narasumber dalam acara Women’s Inspiration Talk PW IPPNU Jawa Timur di Aula Gedung Serba Guna (GSG) PP Nurul Islam, Mojokerto.(Dok/Istimewa). |
Mengusung tema "Women Inspire, Women Lead, Meneguhkan Perempuan Tangguh dalam Kepemimpinan yang Berdampak", kegiatan berlangsung hangat, interaktif, dan dipenuhi gagasan tentang kepemimpinan perempuan di era digital.
Ratusan pimpinan PC IPPNU se-Jawa Timur yang terdiri atas ketua, sekretaris, wakil ketua II, hingga Komandan KPP memadati lokasi acara. Kehadiran Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, M.E.I., sebagai pembicara utama menjadi daya tarik tersendiri.
Sebagai alumni PW IPPNU Jawa Timur, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu mendapat sambutan hangat dari peserta. Antusiasme peserta terlihat dari respons aktif terhadap berbagai gagasan yang disampaikannya.
Ketua PW IPPNU Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah, mengatakan forum tersebut dirancang untuk menumbuhkan semangat kepemimpinan kader agar tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi rekanita IPPNU Jawa Timur untuk menjadi perempuan yang tangguh dan memiliki leadership yang berdampak di masyarakat," ujarnya.
Aprilia menilai perjalanan Ning Lia yang kini berkiprah di MPR RI menjadi teladan bagi para kader IPPNU.
"Kami ingin benar-benar merasakan bagaimana menjadi perempuan yang berdaya, inovatif, dan berdampak seperti Ning Lia," katanya.
Dalam pemaparannya, Ning Lia mengulas peran strategis perempuan dalam mengawal demokrasi di tengah arus globalisasi. Materinya memadukan perspektif pemikiran Ibnu Khaldun tentang kepemimpinan dan garis keturunan, teori agenda setting, strategi membangun branding di media sosial, hingga pengalaman hidup yang menjadi titik balik perjalanan pribadinya.
Ning Lia mengawali kisahnya dengan menceritakan pengalaman pada masa transisi 2004 hingga awal 2005. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa dan tengah mempersiapkan diri mengikuti sebuah kompetisi bakat.
Di saat yang sama, ia mengaku berada dalam fase terpuruk setelah mengetahui pria yang berjanji akan melamarnya ternyata telah beristri dan memiliki anak. Fakta tersebut bahkan ia terima hanya melalui pesan singkat.
Namun, perasaan itu berubah ketika ia menyaksikan pemberitaan bencana Tsunami Aceh pada akhir Desember 2004. Tayangan seorang anak kecil yang berdiri menangis di atas reruntuhan rumahnya menggugah kesadarannya.
"Saya tersadar, saat saya merasa dunia runtuh hanya karena kehilangan seorang pria, anak kecil di layar televisi itu justru telah kehilangan segalanya, mulai orang tua, keluarga, dan tempat tinggalnya. Kenyataan pahit itu menyentil saya. Jika saudara-saudara kita di Aceh mampu berjuang untuk bangkit dari musibah sedahsyat itu, mengapa saya harus terus terpuruk?" ungkap Ning Lia.
Pengalaman tersebut kemudian ia tuangkan dalam karya tulis yang dipresentasikan di hadapan dewan juri kompetisi yang diikutinya.
Melalui kisah itu, Ning Lia menegaskan penolakannya terhadap narasi beauty privilege yang hanya menilai perempuan dari aspek fisik.
"Bagi saya, kecantikan sejati adalah akronim dari Cantik, yaitu cerdas, inovatif, dan kreatif. Di mana perempuan memegang peranan sebagai fondasi utama peradaban bangsa," tuturnya.
Selain membahas pentingnya mentalitas dan kepemimpinan, Ning Lia juga menyoroti relevansi teori agenda setting dalam komunikasi modern. Menurutnya, media sosial memiliki kekuatan besar dalam mengarahkan perhatian publik sekaligus membentuk citra atau branding suatu gagasan.
"Melalui media sosial, sebuah brand atau gagasan dapat dengan sengaja dibentuk dan dipopulerkan agar menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran media digital dalam mempengaruhi persepsi publik," ujar lulusan doktoral UINSA tersebut.
Karena itu, ia mendorong kader IPPNU mengambil peran aktif di ruang digital untuk memperkuat citra positif Nahdlatul Ulama di kalangan Generasi Z.
Menurutnya, kader IPPNU tidak cukup hanya menjadi penonton di media sosial, tetapi harus tampil sebagai kreator melalui video kreatif, tulisan informatif, maupun berbagai narasi digital yang mampu memberi dampak positif.
"Para kader diharapkan dapat lebih aktif dan kreatif memanfaatkan media sosial, baik melalui pembuatan video konten yang menarik, tulisan yang informatif, maupun aktivitas digital lainnya. Hal ini demi memperkuat peranan individu dan keberadaan organisasi," pungkasnya.
Melalui perpaduan diskusi teoretis, refleksi pengalaman hidup, dan strategi komunikasi digital, Women’s Inspiration Talk berhasil membangkitkan semangat ratusan kader IPPNU Jawa Timur untuk menjadi pemimpin perempuan yang adaptif, berdaya saing, dan mampu membawa perubahan positif. (Red)


Komentar