![]() |
| Kegiatan Halaqoh Tani Muda PW GP Ansor Jatim di Jombang.(Dok/Istimewa). |
Halaqoh Tani Muda merupakan bagian dari upaya Ansor Jatim membangun ekosistem pertanian yang tidak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga inovasi, teknologi, penguatan kelembagaan petani hingga peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Ketua PW Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril, S.H., M.H., mengatakan persoalan pertanian tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional. Diperlukan keberanian menghadirkan inovasi sekaligus membuka ruang lebih besar bagi anak muda untuk terlibat langsung di sektor pertanian.
“Pertanian harus kita lihat sebagai masa depan. Jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi penonton, sementara sektor pertanian justru menghadapi persoalan regenerasi. Karena itu, Ansor ingin hadir untuk mendorong anak muda agar melihat pertanian sebagai ruang pengabdian sekaligus ruang untuk membangun kemandirian ekonomi,” ujar Musaffa.
Ia menegaskan, Halaqoh Tani Muda bukan sekadar forum diskusi, melainkan bagian dari agenda Ansor Jatim untuk menemukan praktik-praktik baik yang telah dilakukan kader di berbagai daerah.
Menurut Musaffa, inovasi yang tumbuh di tingkat desa perlu mendapatkan ruang untuk dipertemukan, dikembangkan, dan direplikasi di daerah lain.
“Kita memiliki banyak kader yang bergerak di desa, termasuk para kepala desa dan sahabat-sahabat Ansor yang mengembangkan berbagai inovasi pertanian. Ini yang harus kita angkat. Apa yang berhasil di satu daerah bisa menjadi inspirasi dan dikembangkan di daerah lain,” katanya.
Musaffa juga menilai sektor pertanian memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat desa, serta penguatan ekonomi lokal.
Karena itu, Ansor Jatim melalui jaringan kadernya didorong tidak hanya menjadi organisasi kepemudaan, tetapi juga ikut mengambil peran dalam menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
“Kita ingin Ansor hadir dengan kerja nyata. Problem petani harus kita dengarkan, kemudian kita cari solusinya bersama. Mulai dari persoalan produksi, pemasaran, teknologi, regenerasi petani sampai bagaimana hasil pertanian bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tutur Musaffa.
Beri Penghargaan bagi Kader Inovatif
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, PW Ansor Jawa Timur juga memberikan Ansor Agro Inovasi Award sebagai bentuk apresiasi terhadap kader yang dinilai berhasil mengembangkan inovasi di bidang pertanian dan pembangunan desa.
Juara pertama diraih Sahabat Moh. Hamid Al Maududi, Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PC Ansor Kabupaten Blitar.
Posisi juara kedua diraih Sahabat Erwan Santoso, Kepala Desa Krisik, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo, sekaligus Kasatkoryon Banser Pudak.
Sementara juara ketiga diraih Sahabat Fadal, Kepala Desa Lebak, Bawean, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PC Ansor Bawean.
Ketua Tani Kebun PW Ansor Jatim, H. Deni Prasetya, mengatakan penghargaan tersebut diberikan untuk memberikan apresiasi sekaligus mendorong semakin banyak kader Ansor yang bergerak di sektor pertanian.
Menurut Deni, salah satu persoalan mendasar pertanian saat ini adalah bagaimana menciptakan inovasi yang sesuai dengan karakter dan potensi masing-masing daerah.
“Kita melihat potensi pertanian di Jawa Timur sangat besar, tetapi setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, inovasi tidak bisa diseragamkan. Kita ingin menggali apa yang menjadi kekuatan masing-masing desa, kemudian dikembangkan menjadi sebuah model yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Deni.
Ia mengatakan, para penerima Ansor Agro Inovasi Award menunjukkan bahwa kader Ansor memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak pembangunan berbasis potensi desa.
“Tiga pemenang ini menjadi contoh bahwa kader Ansor bisa bergerak dari desa. Mereka tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga hadir sebagai kepala desa dan penggerak masyarakat. Ini yang ingin kita dorong agar semakin banyak kader yang mampu menciptakan inovasi di sektor pertanian,” katanya.
Deni menambahkan, Tani Kebun PW Ansor Jatim akan terus mendorong penguatan jaringan petani muda serta membuka ruang kolaborasi antara kader, pemerintah desa, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap sektor pertanian.
“Kita tidak ingin berhenti pada pemberian penghargaan. Setelah ini harus ada tindak lanjut. Inovasi yang sudah berjalan harus diperkuat, dipertemukan dengan jejaring yang lebih luas dan kalau memungkinkan direplikasi di daerah lain,” ungkapnya.
Dorong Anak Muda Masuk Sektor Pertanian
Halaqoh Tani Muda juga menjadi momentum untuk memperkuat perspektif baru bahwa pertanian bukan sektor yang identik dengan pekerjaan generasi tua.
Musaffa menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk membawa perubahan melalui pemanfaatan teknologi, digitalisasi, inovasi budidaya, pengolahan hasil pertanian hingga pemasaran.
“Anak muda memiliki keunggulan dalam teknologi dan kreativitas. Kalau keunggulan itu dipadukan dengan pengalaman para petani, kita bisa membangun pertanian yang lebih maju dan memiliki daya saing,” jelasnya.
Ia berharap forum tersebut menghasilkan gagasan konkret yang dapat diterapkan di tingkat desa.
“Kita ingin dari halaqoh ini lahir gagasan, kemudian menjadi program, dan pada akhirnya memberikan dampak kepada petani. Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” pungkas Musaffa.
Sementara itu, Deni menegaskan bahwa penguatan pertanian harus dilakukan secara berkelanjutan dengan membangun ekosistem yang melibatkan seluruh mata rantai sektor pertanian.
“Pertanian tidak hanya berbicara soal menanam dan panen. Ada teknologi, kelembagaan, distribusi, pengolahan, pemasaran dan regenerasi. Semua mata rantai itu harus kita perkuat bersama,” tandasnya.
Kawasan Hutan Bisa Dikembangkan secara Produktif
Sementara itu, Ketua Departemen Pemanfaatan Kawasan Hutan Ansor Jatim sekaligus Kepala Perhutani Bondowoso, H. Misbahul Munir, mengatakan kawasan hutan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi area produktif melalui pola pemanfaatan yang tepat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemanfaatan kawasan hutan tidak semata-mata diarahkan untuk kepentingan produksi pertanian, tetapi harus mampu menciptakan keseimbangan antara aspek ekonomi masyarakat dengan fungsi ekologis kawasan.
“Kawasan hutan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi area produktif, termasuk untuk mendukung sektor pertanian masyarakat. Tetapi pemanfaatannya harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, terencana dan tetap menjaga fungsi hutan,” ujar Misbahul Munir.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Kita ingin bagaimana lahan yang ada bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi jangan sampai kemudian pemanfaatan itu justru menghilangkan fungsi hutan. Jadi produktivitas dan kelestarian harus berjalan bersama,” katanya.
Misbahul menilai keterlibatan generasi muda menjadi penting dalam mengembangkan model pertanian di kawasan hutan. Dengan dukungan teknologi dan inovasi, pemanfaatan lahan dapat diarahkan pada komoditas yang sesuai dengan karakter wilayah serta memiliki nilai ekonomi.
“Anak-anak muda harus mulai melihat bahwa ruang pertanian itu luas. Tidak hanya sawah, tetapi ada berbagai model pemanfaatan lahan yang bisa dikembangkan. Tinggal bagaimana kita memilih komoditas yang tepat, menggunakan teknologi yang sesuai dan membangun tata kelola yang baik,” jelasnya. (Red)


Komentar