|
Menu Close Menu

Dari Modal Tabungan, Reynaldi Bangun Brand Parfum hingga Punya Toko Sendiri

Jumat, 28 Agustus 2026 | 20.22 WIB

Reynaldi saat menunjukkan produk parfumnya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Bangkalan— Berawal dari pemasaran sederhana kepada keluarga dan teman dekat, Reynaldi Dwi Anugerah, 27, warga Perumahan Griya Abadi, Bangkalan, berhasil mengembangkan bisnis parfum bermerek Lunōre Fragrance. Usaha yang dirintis sejak akhir 2024 itu kini telah berkembang hingga memiliki toko sendiri di Jalan Sidingkap, Kemayoran, Bangkalan.


Saat pertama kali memulai usaha, Reynaldi hanya memasarkan produk kepada orang-orang terdekat. Respons positif yang diterima kemudian mendorongnya memperluas pemasaran melalui stand di berbagai event hingga akhirnya berani membuka toko.


“Untuk skalanya dulu hanya skala kecil, pemasarannya dulu hanya ke keluarga-keluarga, teman-teman terdekat. Dari situ responsnya baik, berjenjang kita buka stand di event-event kemudian sampai saat ini bisa buka toko,” kata Reynaldi, Rabu (26/08/2026).


Lunōre memiliki konsep berbeda dari parfum refill pada umumnya. Produk yang ditawarkan merupakan parfum bermerek dengan kemasan dan segel sendiri. Reynaldi juga tidak menjual merek parfum lain di tokonya.


Pengembangan setiap varian dilakukan melalui riset dan pengembangan (R&D). Sejumlah aroma dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari parfum lokal maupun parfum high-end yang sedang diminati pasar.


Untuk proses produksi, Lunōre bekerja sama dengan pabrik. Meski demikian, Reynaldi tetap terlibat dalam pengembangan varian parfum yang dipasarkan.


Salah satu produk yang saat ini banyak diminati konsumen adalah Royal Majestic, varian inspired dari parfum lokal yang sedang populer.


Dari sisi harga, parfum Lunōre saat ini dibanderol sekitar Rp75 ribu hingga Rp85 ribu. Penjualan di toko rata-rata mencapai 10–15 produk per hari.


Jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar 30 produk per hari jika digabungkan dengan penjualan melalui event, reseller, dan kanal pemasaran lainnya.


Dalam menjalankan bisnis tersebut, Reynaldi pada awalnya menangani seluruh pengelolaan usaha seorang diri. Namun, setelah memiliki usaha lain, pengelolaan Lunōre kemudian dibantu oleh pasangannya, terutama dalam bidang branding.


Reynaldi sendiri tetap memantau perkembangan usaha dan ikut menangani berbagai kendala yang muncul.


Sebelum terjun ke dunia usaha, Reynaldi pernah bekerja di salah satu perbankan. Sebagian tabungan yang dimilikinya kemudian digunakan sebagai modal awal untuk merintis Lunōre.


Kini, Lunōre menjadi salah satu usaha sampingannya. Sementara pendapatan utamanya berasal dari usaha pemasok bahan baku, seperti beras dan susu.


Meski demikian, sebagian besar pendapatan dari Lunōre masih diarahkan untuk kebutuhan ekspansi usaha. Reynaldi juga tetap menyisihkan sebagian hasil usaha untuk orang tua, terutama sebagai uang pegangan dan memenuhi kebutuhan dapur.


“Pastinya iya, terutama untuk orang tua tetap saya menyisihkan untuk itu,” ujarnya.


Bagi Reynaldi, membangun branding menjadi tantangan terbesar dalam mengembangkan Lunōre. Karena itu, berbagai event dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat.


Tak hanya membuka stand, Reynaldi juga memberikan sponsor dan doorprize dalam sejumlah kegiatan sebagai salah satu strategi agar masyarakat tertarik mengenal dan mencoba produk Lunōre.


Setelah memilih keluar dari pekerjaan kantoran dan membangun usaha sendiri, Reynaldi menyebut apresiasi dari keluarga menjadi salah satu pencapaian yang paling berkesan baginya.


Ke depan, ia menargetkan Lunōre Fragrance terus berkembang dan memiliki cabang di setiap kecamatan di Kabupaten Bangkalan. (Rif) 

Bagikan:

Komentar