|
Menu Close Menu

Ketua PW GP Ansor Jatim Musaffa Safril Tegaskan Masa Depan NU di Tangan Kader Muda Hari Ini

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00.46 WIB

Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa' Safril saat memberikan sambutan dalam acara Multaqo Ulama Muda 2026 yang digelar PW GP Ansor Jawa Timur di Auditorium Nyai Azzah As’ad, Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu) Jombang.(Dok/Had) 
Lensajatim.id, Jombang— Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, mengingatkan pentingnya peran generasi muda atau kader muda NU dalam menjaga masa depan Nahdlatul Ulama (NU).


Menurutnya, kader muda NU tidak cukup hanya hadir di ruang politik. Mereka juga harus mengisi ruang dakwah, keilmuan, pesantren, serta ikut melahirkan figur-figur baru dari kalangan anak muda.


Pesan itu disampaikan Musaffa dalam kegiatan Multaqo Ulama Muda 2026 yang digelar PW GP Ansor Jawa Timur di Auditorium Nyai Azzah As’ad, Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jumat (28/8/2026).


Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyoroti sejumlah dinamika yang berkembang di ruang publik dan meminta kader NU membacanya secara lebih kritis.


“Entah ini dirancang secara serius atau hanya temporer, wallahu a’lam. Tetapi kalau kita melihat pola belakangan ini, mulai dari kasus Trans7 sampai adanya elemen-elemen yang menyerang pondok pesantren, walaupun alasannya membuka borok-borok di pondok pesantren,” kata Musaffa.


Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan Islam, tetapi salah satu fondasi utama NU.


Pesantren menjadi tempat tumbuhnya kader dan tradisi keilmuan, sekaligus basis yang selama ini membuat NU tetap memiliki akar kuat di tengah masyarakat.


“Polanya bisa kita baca sebagai serangan sistematis terhadap dunia pondok pesantren yang notabene menjadi akar rumputnya Nahdlatul Ulama dan menjadi pupuknya Nahdlatul Ulama,” ujarnya.


Musaffa menilai, melemahkan pesantren dan mengurangi daya tariknya di mata masyarakat dapat berdampak panjang terhadap keberlangsungan NU.


“Kalau ingin menghancurkan Nahdlatul Ulama, ya tinggal dihancurkan pondok-pondok pesantren ini atau minat masyarakat terhadap pondok pesantren dikerdilkan, dibuat tidak memiliki daya tarik,” tegasnya.


Dorong Munculnya Ulama Muda


Di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat, terutama generasi muda, Musaffa melihat Ansor University dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan gagasan dan sosok ulama muda secara lebih luas.


Menurutnya, dakwah tidak selalu harus berupa ceramah panjang. Gagasan singkat dari para ulama muda pun bisa menjadi bahan menarik bagi publik.


“Potongan-potongan dawuh penting dari Ning Imaz maupun maqolah-maqolah pendek dari Sahabat Gus Rifqil harus bisa dibaca dan dinikmati oleh masyarakat di luar sana,” katanya.


Ia juga mendorong agar Ansor University tidak hanya bertumpu pada figur yang sudah dikenal. Banyak kiai muda, kata dia, memiliki kapasitas keilmuan, tetapi belum memperoleh ruang yang cukup untuk dikenal publik.


“Di Ansor University ini kita perlu menghadirkan dan memunculkan sosok-sosok baru yang bisa digandrungi kalangan muda. Jangan Gus Rifqil saja,” ujarnya.


Bagi Musaffa, proses tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi NU. Kiai-kiai muda yang kini tumbuh di berbagai pesantren bisa menjadi pemimpin NU pada masa mendatang.


“Ansor University ini juga menjadi ruang untuk memunculkan sosok-sosok baru, kiai-kiai muda yang selama ini terpendam. Kalau tidak melalui Gerakan Pemuda Ansor, agak sulit mengangkat dan menampilkan sosok-sosok yang punya potensi,” tuturnya.


Ia bahkan membuka kemungkinan tokoh-tokoh muda yang kini sedang dibesarkan dapat menempati posisi strategis di masa depan.


“Ke depan mungkin bisa menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, bisa juga menjadi Rais ‘Aam PBNU. Bisa saja nanti Gus Rifqil ternyata menjadi Rais ‘Aam PBNU, saya doakan,” kata Musaffa.


Jangan Sibuk Mencari Kekurangan


Namun, membesarkan kader bukan berarti mengabaikan kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan.


Musaffa mengajak kader NU lebih banyak menonjolkan kebaikan dan membantu sesama untuk tumbuh, bukan justru sibuk mencari kelemahan.


“Masa depan Nahdlatul Ulama adalah kita. Tinggal mari kita besarkan bersama, kita goreng kebaikannya. Kalau ada aib atau hal-hal yang sekiranya bisa menurunkan citra tokoh-tokoh muda di antara kita, ayo simpan dengan rapi,” ujarnya.


Musaffa juga mengingatkan kader muda NU agar tidak seluruh energi organisasi terserap ke dalam politik.


Menurutnya, ruang-ruang kecil yang bergerak di bidang dakwah, keilmuan, dan penguatan nilai tetap dibutuhkan untuk menjaga masa depan NU.


“Jangan semuanya membahas politik. Harus ada ruang-ruang kecil, walaupun tidak begitu diminati. Dalam rangka menjaga masa depan Nahdlatul Ulama, perlu ada elemen-elemen kecil seperti ini melalui Ansor  University yang masih mampu bersuara,” katanya.


Tetap Idealis di Tengah Kekuasaan


Ia mengakui menjaga idealisme bukan perkara mudah. Namun, kader NU tetap harus berani mempertahankan prinsip dan tidak kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan kekuasaan.


“Saya sebetulnya tidak idealis-idealis banget. Kalau melihat uang, ya sedikit gatal juga. Tetapi kalau saya kemudian ikut-ikutan berburu hal-hal seperti itu, ya sudah, tambah selesai, tambah habis. Karena itu, kita tetap harus menjaga idealisme di tubuh Nahdlatul Ulama dan menunjukkan bahwa kita patut dipercaya oleh jamaah dan umat,” ucapnya.


Di akhir sambutannya, Musaffa mengajak generasi muda NU tetap bersuara kritis tanpa kehilangan adab dan tanggung jawab.


Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan pada akhirnya akan berakhir, sementara jejak seseorang akan terus dikenang.


“Mari kita tetap bersuara baik dan kritis. Tidak perlu menunjukkan kalau Panjenengan takut kepada Istana, pura-pura tidak takut saja. Karena semuanya nanti akan mati dan kita semua akan dimintai pertanggungjawaban. Pejabat yang hari ini terlihat hebat dan gagah juga akan selesai. Yang kemudian dikenang adalah nama dan jejak yang kita tinggalkan,” pungkasnya. (Fiq) 

Bagikan:

Komentar