|
Menu Close Menu

MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning: Kepercayaan Masa Depan Datang Sebelum Anak Memasuki Gerbang Madrasah

Senin, 31 Agustus 2026 | 21.07 WIB

Tampak murid MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning saat perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 tahun 2026.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Pamekasan – Kepercayaan masyarakat terhadap sebuah lembaga pendidikan tidak selalu hadir ketika anak memasuki gerbang madrasah. Di MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning, kepercayaan itu bahkan datang beberapa tahun sebelumnya melalui daftar inden peserta didik.


Untuk penerimaan tahun 2029 yang diperuntukkan bagi siswa SD/MI kelas 4, dari total kuota 120 seat, sebanyak 42 calon santri telah tercatat sebagai santri inden. Dengan demikian, masih tersedia 78 seat.


Sementara untuk penerimaan tahun 2030 yang diperuntukkan bagi siswa SD/MI kelas 3, tercatat 33 santri inden dari total kuota 120 seat. Saat ini masih tersedia 87 seat. 


Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengatakan angka tersebut bukan alasan untuk berbangga secara berlebihan.


Menurut Ketua Senat UIN Madura itu, daftar inden merupakan pesan moral sekaligus amanah bagi pengelola madrasah.


“Bagi pengelola, angka tersebut bukan alasan untuk berbangga secara berlebihan, melainkan sebuah pesan moral: semakin awal kepercayaan datang, semakin panjang amanah yang harus dipersiapkan,” ujar Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, Senin (31/8/2026).


Ia menegaskan, pendidikan bukan pekerjaan untuk hari ini semata. Pendidikan merupakan ikhtiar menyiapkan manusia yang akan hidup pada masa yang belum sepenuhnya dikenal.


Anak-anak yang saat ini duduk di kelas 3 dan 4 SD/MI kelak akan menghadapi dunia yang lebih kompleks, cepat, digital, dan penuh perubahan. Karena itu, mempersiapkan pendidikan mereka berarti mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ruang kelas, yakni masa depan dan peradaban manusia.


Atas dasar itu, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning memandang daftar inden sebagai amanah yang harus dijawab melalui peningkatan mutu.


Kepercayaan yang datang lebih awal harus dibalas dengan pembelajaran berkualitas, karakter yang kokoh, pembinaan keagamaan yang mendalam, lingkungan pendidikan yang sehat, serta layanan pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman.


“Madrasah tidak ingin sekadar menjadi tempat anak memperoleh pengetahuan. Madrasah harus menjadi ruang tempat ilmu bertemu dengan adab, kecerdasan bertemu dengan spiritualitas, kebebasan berpikir bertemu dengan tanggung jawab, dan kemajuan zaman tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman,” ujarnya.


Menurutnya, pendidikan sejati tidak hanya bertanya tentang apa yang diketahui seorang anak, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang terbentuk setelah memperoleh pengetahuan.


Semangat tersebut kemudian dirumuskan dalam konsep “Sembilan Bintang”, yang terdiri atas tujuh pilar utama dan dua pilar penopang.


Konsep itu menjadi arah pengembangan ekosistem pendidikan agar pembentukan santri tidak berlangsung secara parsial. Akademik, karakter, keagamaan, keterampilan, kemandirian, literasi, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman dipertemukan dalam satu visi pendidikan yang integral.


Prof. Achmad menilai kuota inden bukan sekadar persoalan jumlah kursi yang telah terisi dan yang masih tersedia. Lebih dari itu, angka tersebut menjadi cermin ekspektasi masyarakat terhadap masa depan lembaga pendidikan.


Karena itu, capaian tersebut harus melahirkan pertanyaan yang lebih serius: apakah mutu yang dipersiapkan hari ini akan mampu menjawab kebutuhan anak-anak di masa mendatang?


Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari komitmen MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning untuk terus belajar, berbenah, berinovasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan.


Kuota yang masih tersedia, yakni 78 seat untuk tahun 2029 dan 87 seat untuk tahun 2030, bukan sekadar ruang kosong dalam daftar penerimaan. Di dalamnya terdapat ruang bagi harapan, ikhtiar, dan masa depan.


Anak-anak yang hari ini belum memasuki gerbang MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning telah menghadirkan satu pesan bahwa masa depan harus dipersiapkan jauh sebelum waktunya tiba.


“Karena pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita memenuhi kursi, melainkan seberapa sungguh kita mempersiapkan manusia yang kelak duduk di dalamnya. Dan setiap kepercayaan yang datang lebih awal adalah amanah untuk menghadirkan pendidikan yang semakin bermutu, berkeadilan, berkarakter, religius, dan relevan dengan zaman,” tukasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar