|
Menu Close Menu

PW Ansor Jatim Gelar Multaqo Ulama Muda 2026, Bahas AI dan Masa Depan Keilmuan Santri

Jumat, 28 Agustus 2026 | 13.38 WIB

Kegiatan Multaqo Ulama Muda 2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur di Auditorium Nyai Azzah As’ad, Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu) Jombang.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jombang- Artificial intelligence (AI) perlahan mengubah cara masyarakat mencari dan memperoleh informasi. Di kalangan santri dan ulama muda, teknologi ini pun bukan lagi sesuatu yang asing.


Cukup mengetik pertanyaan, dalam hitungan detik jawaban bisa muncul di layar. Namun, kemudahan tersebut sekaligus melahirkan persoalan baru.


Ketika jawaban begitu mudah didapat, apakah proses berpikir manusia masih tetap berjalan?


Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Multaqo Ulama Muda 2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur melalui Ansor Universiti Jatim di Auditorium Nyai Azzah As’ad, Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jumat (28/8/2026).


Kegiatan tersebut mengangkat tema “Santri, Artificial Intelligence, dan Masa Depan Otoritas Keilmuan”.


Multaqo menghadirkan lima narasumber dengan latar belakang keilmuan yang beragam.


Mereka yakni Gus Rifqil Muslim Suyuti, Pengasuh Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu, Kendal; Habib Syauqi Al Mundhor, alumnus Ahqaff University, Yaman; Ning Imaz Fatimatuz Zahra dari Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur; Ainun Najib dari Nanyang Technological University (NTU) Singapore; serta Ibnu Harjo Al Jawi, alumni Muhaqqiq Al-Maktabah At-Turmusy.


Di hadapan peserta, Gus Rifqil Muslim Suyuti menyoroti pentingnya menggunakan AI secara bijak tanpa membiarkan teknologi tersebut mengambil alih peran manusia dalam proses mencari ilmu.


Ia mengawali pembahasannya dengan pertanyaan sederhana, tetapi cukup mengena.


“Saya ingin bertanya, siapa yang hari ini belum menggunakan AI? Rata-rata semua sudah pakai AI,” kata Gus Rifqil.


Menurutnya, kenyataan bahwa AI sudah digunakan secara luas membuat perdebatan mengenai boleh atau tidaknya menggunakan teknologi tersebut menjadi kurang relevan.


Persoalan yang lebih penting saat ini bukan lagi keberadaan AI, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.


“Pertanyaannya bukan ‘boleh tidak sih kita menggunakan AI?’, tidak, tapi bagaimana kita menggunakan AI ini dengan bijak,” ujarnya.


Gus Rifqil tidak mempersoalkan penggunaan AI untuk membantu pekerjaan. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai aktivitas menjadi lebih mudah dan cepat.


Namun, yang perlu dihindari adalah kebiasaan menyerahkan seluruh proses pencarian jawaban kepada mesin.


“Jadi gunakan misalkan AI ini untuk membantu kita, bukan kemudian untuk langsung mencari jawaban. Mempermudah iya, silakan tools-nya, tapi jangan kemudian AI ini menjadi satu-satunya standar untuk kita menggapai apa yang kita cari,” tuturnya.


Ia kemudian memberikan contoh penggunaan AI ketika seseorang membaca sebuah artikel.


Saat menemukan tulisan yang panjang dan membutuhkan pemahaman awal, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu membuat ringkasan. Menurutnya, cara tersebut masih menempatkan AI pada posisi sebagai alat bantu.


“Taruhlah misalkan kalau Anda memosisikan AI, baik itu ChatGPT ataupun tadi yang disebutkan ada beberapa tools, ini digunakan untuk membantu saja. Misalkan ‘artikel ini bantu saya untuk mempercepat pemahamannya’ atau ‘buatkan ringkasannya’,” kata Gus Rifqil.


Persoalan muncul ketika ringkasan tersebut justru dianggap sebagai pengganti bacaan. Terlebih apabila jawaban dari AI langsung diterima tanpa diperiksa kembali.


Dalam konteks dunia pesantren, hal tersebut menjadi perhatian tersendiri.


Tradisi keilmuan tidak hanya berbicara tentang menemukan jawaban. Lebih dari itu, proses mencari ilmu juga mencakup bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, memahami sumber, melihat konteks, serta memastikan informasi yang diterima benar.


AI memang dapat membantu seseorang menemukan informasi dengan cepat. Namun, cepat tidak selalu berarti tepat.


Di sinilah kemampuan manusia tetap dibutuhkan. Jawaban yang diberikan AI perlu dibaca kembali, dibandingkan dengan sumber lain, dan ketika menyangkut persoalan keilmuan, dikaji menggunakan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pesan Gus Rifqil juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kebiasaan untuk berpikir secara mandiri.


Sebab, ketika AI digunakan sebagai satu-satunya tempat mencari jawaban, ada risiko proses belajar berubah menjadi sekadar aktivitas mendapatkan hasil akhir.


Padahal, dalam proses mencari ilmu, perjalanan menuju jawaban juga memiliki nilai.


Multaqo Ulama Muda 2026 menjadi ruang untuk membicarakan tantangan tersebut dari perspektif santri dan ulama muda.


Kehadiran lima narasumber dengan latar belakang keilmuan yang beragam menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi.


Teknologi akan terus berkembang. Aplikasi baru akan bermunculan dan kemampuan AI kemungkinan semakin jauh melampaui apa yang dikenal saat ini.


Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan manusia harus kembali mengandalkan proses berpikirnya sendiri.


Bagi santri dan ulama muda, tantangan tersebut menjadi semakin penting. Mereka akan hidup di tengah generasi yang menjadikan internet dan AI sebagai bagian dari keseharian dalam memperoleh pengetahuan.


Maka, menggunakan AI bukan persoalan yang harus dihindari. Yang lebih penting, jangan sampai kemudahannya membuat orang berhenti bertanya, berhenti membaca, dan berhenti memeriksa.


Sebab, di tengah banjir jawaban yang bisa muncul dalam hitungan detik, kemampuan memastikan sebuah jawaban benar justru menjadi semakin berharga.


Kalau ingin dibuat lebih tajam sebagai berita utama portal, judul alternatif yang saya rekomendasikan: “Multaqo Ulama Muda Ansor Jatim Soroti AI: Santri Jangan Kehilangan Tradisi Berpikir”. (Fiq) 

Bagikan:

Komentar