Oleh: Firman Syah Ali
Lensajatim.id, Opini- Jum'at pagi di awal Agustus 2026, saat saya menyalakan mesin mobil untuk mengantar anak saya Tsarina ke sekolah, saya lihat ada jejak panggilan tak terjawab dari Mas Rub'ie Advokat. Mas Ruba'ie jarang telepon kalau bukan karena ada sesuatu yang penting dan strategis. Maka segera saya telepon kembali "siap senior, ada perintah?". Dari seberang telepon beliau menjelaskan "nggak mas, tadi saya telepon mau bertanya, apa benar sholeh meninggal? Tapi ini saya sudah dapat konfirmasi dari story WA isterinya". Saya terdiam sejenak, menahan nafas, kemudian bertanya "bagaimana stroy WA isterinya mas?". Mas Ruba'ie menjawab "ya memang meninggal dunia". Tak terasa mata saya berkaca-kaca, sebait doa diucapkan, dan saya sampaikan terima kasih kepada Mas Ruba'ie atas informasinya sebelum akhirnya kami menutup pembicaraan.
Hp saya pegang kuat-kuat, air mata semakin deras, kemudian pelan-pelan saya masukkan gigi mobil dan menuntaskan kewajiban antar anak ke sekolah.
Walaupun sama-sama aktivis 98, sebetulnya saya jarang ngopi bahkan jarang telepon almarhum. Kami hanya sering saling komen di beberapa grup WA. Terakhir telepon setahun lalu, membahas beberapa kader PMII yang ditahan oleh polisi pasca kerusuhan akhir Agustus 2025.
Saya selalu bertemu sholeh di alam pemikiran dan alam medsos, terutama grup WA. Selain itu, konten-kontennya terutama no viral no justice selalu berseliweran di beranda saya. Melalui medsos, saya mengikuti informasi-informasi perjuangan idealismenya yang tak pernah padam. Sementara teman-teman seperjuangannya sudah berada di zona nyaman, termasuk saya sendiri, almarhum masih konsisten berteriak di jalanan dan di media sosial.
Sebetulnya banyak teman saya yang sedang dihajar oleh almarhum, minta tolong ke saya agar dipertemukan dengannya untuk mengkomunikasikan kasusnya, namun saya selalu menolak, saya bilang "saya nggak mau mengintervensi sholeh, komunikasi saya dengan dia selama ini selalu tentang isu2 kebangsaan, bukan kasus per kasus".
Yang kita warisi dari almarhum adalah legacy-legacynya di bidang hukum terutama konstitusi. Yang kita kenang dari almarhum adalah idealismenya yang tak pernah padam. Bahkan ketika namanya selalu muncul sebagai bakal calon dalam pemilu, baik sebagai calon gubernur, calon walikota, calon bupati dan calon legislatif, dia bilang untuk mewujudkan idealismenya melalui jalur strutural.
Saya tau alasan itu ketika nama saya dan almarhum sama-sama muncul sebagai bakal calon walikota Surabaya tahun 2019. Waktu bertemu tak sengaja dalam pengajian Majelis Istighotsah Tarbiyatul Qulub asuhan RKH Zainuddin Husni Asemrowo, almarhum bilang "saya maju Pilwali ini dalam rangka mempercepat terwujudnya idealisme 98 kita bro".
Kini Sholeh telah mendahului kita. Usianya boleh berakhir, namun api perjuangannya tak pernah padam. Apa yang telah dia lakukan tetap akan membersamai kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama beberapa putusan MK yang kita nikmati saat ini.
Sahabatku Sholeh, titip salam kepada teman-teman kita sesama angkatan 98 yang telah berjumpa denganmu di kehidupan pasca kehidupan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kemuliaan dan kebahagiaan kepadamu disisiNya. Selamat jalan dan sampai jumpa.


Komentar