![]() |
| Presiden RI, Prabowo Subianto saat sambutan dalam acara pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.(Dok/Istimewa). |
Refleksi Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang
H. Muzammil Syafi’i
Lensajatim.id, Opini- Seratus tahun lalu, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menulis Muqaddimah Qanun Asasi sebagai fondasi ideologis bagi jam'iyah yang baru lahir bernama Nahdlatul Ulama.
Di dalamnya, beliau menegaskan pentingnya persatuan (al-ittihad), bahaya perpecahan (at-tafarruq), serta kewajiban umat untuk saling mengenal, berkumpul, dan bersatu padu.
Seratus tahun kemudian, tepatnya pada pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, ajaran tersebut seolah kembali diuji sekaligus dibuktikan kebenarannya di hadapan mata.
Pembukaan yang Sarat Makna
Upacara pembukaan Muktamar yang semula dijadwalkan pukul 19.00 dimajukan menjadi pukul 15.00.
Sembari menanti kedatangan Presiden, acara diisi penampilan grup nasyid dan simfoni pesantren Tambakberas, kemudian dilanjutkan dengan tahlil untuk mendoakan para muassis serta seluruh warga jama'ah dan jam'iyah.
Beberapa kiai sepuh kemudian menutup rangkaian tersebut dengan doa, di antaranya KH Nurul Huda Jazuli, KH Aqil Siroj, dan KH Ma'ruf Amin sebagai sesepuh NU.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto disambut dengan Thola'al Badru 'Alaina oleh Nasyid Tambakberas.
Acara resmi dibuka dengan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan Mars Syubbanul Wathan atau Ya Lal-Wathan, mars gubahan KH A. Wahab Hasbullah.
Sebagai shohibul bait, KH Hasib Wahab diminta membacakan doa. Namun, ia sempat berkelakar dengan memainkan angka 35 sebagai simbol 3+5=8 yang mengisyaratkan Presiden ke-8 Republik Indonesia.
Ketua Panitia dan Ketua Umum PBNU dalam sambutannya juga memainkan angka, yang memang menjadi salah satu kegemaran Presiden Prabowo.
Menariknya, seluruh tokoh yang memberikan sambutan sama-sama menekankan pentingnya persatuan NU ke depan.
Rais Aam kemudian menyampaikan khutbah iftitah dalam bahasa Arab yang panjang, dengan banyak mengutip ayat-ayat suci Al-Qur'an dan hadis Nabi. Khutbah tersebut memuat banyak nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah bagi warga NU.
Presiden Prabowo kemudian tampil menyampaikan pidato. Meski membawa teks, pidato tersebut tidak dibacanya.
Ia menyebut, jika Bung Karno mengingatkan dengan istilah “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah, dirinya menyerukan “Jas Hijau”: jangan melupakan jasa NU.
Presiden mengingatkan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, dari kalangan NU telah lahir Syubbanul Wathan yang menyatukan keimanan dengan kecintaan terhadap tanah air.
“Indonesia tidak akan ada tanpa NU,” tegasnya.
Dinamika di Bawah, Islah di Atas
Di balik seremoni yang berlangsung khidmat itu, dinamika menjelang Muktamar sesungguhnya berlangsung sangat keras.
Persaingan antarkandidat, dengan dukungan akar rumput yang kuat, telah bergeser dari kritik yang wajar menjadi upaya saling menjatuhkan melalui berbagai isu.
Pola semacam ini persis seperti yang pernah diperingatkan Kiai Hasyim seabad silam. Perpecahan, egoisme golongan, dan sikap saling mendengki hanya akan melemahkan umat serta membuka celah bagi pihak luar untuk memecah belah.
Namun, NU rupanya memiliki cara sendiri untuk merawat dirinya.
Pembukaan Muktamar kemarin seakan menepis anggapan bahwa NU akan pecah. Panitia mengumpulkan tokoh-tokoh sentral NU untuk berfoto bersama sembari menyerukan ukhuwah nahdliyah.
Ini bukan sekadar seremoni kosong. Ada pesan penting di baliknya, yakni bentuk konkret islah, mekanisme penyelesaian konflik internal yang telah lama menjadi tradisi NU.
Langkah tersebut juga sejalan dengan pesan Kiai Hasyim tentang tanggung jawab ulama untuk menuntun umat dan meluruskan penyimpangan.
Yang menarik, islah dilakukan secara preventif, bahkan sebelum forum resmi Muktamar dimulai.
Ini menjadi sinyal bahwa apa pun hasil kompetisi nantinya, ukhuwah nahdliyah tidak boleh menjadi korban.
Rame di Luar, Solid di Dalam
Fakta paling nyata yang membuktikan kuatnya ikatan jama'ah dengan jam'iyah justru terlihat dari kehadiran fisik warga NU.
Aula pembukaan yang menampung sekitar 5.000 undangan penuh sesak.
Sementara di luar arena, tidak kurang dari 50.000 orang hadir hingga menimbulkan kemacetan total selama lima jam.
Kerumunan sebesar itu merupakan wujud paling nyata dari apa yang disebut Kiai Hasyim sebagai al-ijtima' atau perkumpulan dan at-ta'alluf atau kekompakan.
Bukan lagi sekadar konsep yang tertulis dalam kitab, tetapi telah menjadi fenomena sosial yang dapat disaksikan dan diukur secara langsung.
Di sinilah letak paradoks yang menarik untuk direnungkan.
Persoalan internal NU ramai diperbincangkan di media. Namun di lapangan, jama'ah tetap solid dan berbondong-bondong hadir.
Jika NU benar-benar terancam pecah sebagaimana dikhawatirkan sebagian pihak, mustahil puluhan ribu orang rela berdesakan dan terjebak kemacetan selama berjam-jam hanya demi hadir.
Kehadiran massal tersebut menunjukkan bahwa loyalitas nahdliyin kepada jam'iyah jauh lebih dalam dan tidak mudah tergoyahkan oleh riuhnya kontestasi di tingkat elite.
Kontestasi kepemimpinan pada dasarnya adalah persoalan siapa yang akan memegang kemudi organisasi.
Sementara kehadiran jama'ah adalah persoalan ideologi dan identitas, yakni ruh dari jam'iyah itu sendiri.
Warga nahdliyin di akar rumput boleh saja memiliki preferensi berbeda mengenai siapa yang layak memimpin. Namun, perbedaan itu tidak menggoyahkan keyakinan mereka bahwa NU adalah rumah bersama.
Barangkali inilah makna paling dalam dari ajaran Kiai Hasyim tentang ruh dan jasad dalam berorganisasi.
Jasad—struktur, kepengurusan, dan kandidasi—boleh berdinamika dan berkompetisi.
Namun ruh—ukhuwah nahdliyah dan kecintaan kepada jam'iyah—tetap utuh, bahkan dapat menguat ketika sedang diuji.
Belajar dari Relasi Islam dan Negara
Kehadiran Presiden dalam pembukaan Muktamar, sebagaimana kedekatan NU dan Muhammadiyah dengan pemerintah selama ini, kerap menuai kritik dari sebagian kalangan.
Namun, hal tersebut sesungguhnya merupakan muara yang wajar dari dinamika relasi Islam dan negara yang senantiasa berubah.
Kadang mendekat, merapat, renggang, menjauh, bahkan pernah berkonfrontasi.
Sulit menentukan pola mana yang paling tepat karena sikap umat Islam dalam relasi dengan negara tidak pernah tunggal.
Ukuran ketepatannya pun berbeda-beda. Apakah demi keuntungan kelompok, kepentingan bangsa secara keseluruhan, keadilan bagi seluruh warga, atau kecepatan dalam menangani persoalan rakyat.
Yang pasti, keamanan dan ketenteraman merupakan syarat penting bagi tercapainya kemakmuran dan kemajuan.
Peran NU bersama Muhammadiyah dalam menjaga hal tersebut melalui kerja sama dengan pemerintah juga tidak dapat diingkari.
Namun, bergandengan tangan bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki.
Itulah makna sesungguhnya dari persahabatan: menolong saudara, baik ketika ia berbuat zalim maupun ketika ia diperlakukan tidak adil.
Ketika ditanya bagaimana menolong orang yang berbuat zalim, Nabi Muhammad menjawab dengan memegang tangannya agar ia berhenti melakukan kezaliman.
Penutup: Warisan yang Tetap Hidup
Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi cermin yang jernih bagi keseluruhan ajaran Muqaddimah Qanun Asasi.
Persatuan yang ditekankan Kiai Hasyim bukanlah keseragaman sikap politik atau hilangnya kompetisi internal.
Persatuan adalah kesatuan tujuan dan ruh yang tetap terjaga di tengah dinamika yang wajar terjadi dalam sebuah organisasi besar.
Islah yang dilakukan para sesepuh, serta kehadiran puluhan ribu jama'ah yang rela berdesakan demi hadir, menjadi bukti bahwa fondasi yang diletakkan seratus tahun lalu masih kokoh berdiri hingga hari ini.
Kepercayaan sebesar ini merupakan amanah berat bagi siapa pun yang kelak terpilih memimpin NU.
Islah yang telah dicontohkan para sesepuh di panggung pembukaan semestinya diteruskan hingga ke akar rumput.
Sebab, massa yang datang bukan untuk menyaksikan siapa yang menang dalam kontestasi, melainkan untuk merayakan sekaligus menjaga rumah bersama mereka.
Pada akhirnya, benarlah kesan yang muncul dari peristiwa ini: NU boleh saja ramai diperbincangkan di luar, tetapi di dalam, ia tetap solid.
Solid sebagaimana ruh persatuan yang diwariskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, yang terus hidup dan teruji dari generasi ke generasi.
Jombang, 27 Agustus 2026


Komentar