|
Menu Close Menu

Intens Turun ke Madura, Ning Lia Silaturahmi dengan Kiai hingga Sapa Mahasiswa di Sejumlah Kampus

Selasa, 01 September 2026 | 15.46 WIB

 

Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam sebuah rapat.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Sepanjang 2026, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia, tercatat cukup intens turun ke Madura. Hampir setiap bulan, ia memiliki agenda di Pulau Garam yang tersebar di empat kabupaten, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.


Kunjungan tersebut tidak sebatas agenda reses maupun penyerapan aspirasi. Ning Lia juga memanfaatkan berbagai kesempatan untuk membangun silaturahmi dan berdialog langsung dengan masyarakat.


Mulai dari bersilaturahmi dengan para kiai dan ulama di pondok pesantren, menyapa mahasiswa di sejumlah kampus, hingga bertemu kelompok pemuda, aktivis organisasi, jurnalis, pengusaha, pemangku kebijakan, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.


Ragam pertemuan itu menjadi ruang bagi Ning Lia untuk mendengar langsung berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat sekaligus menjaga komunikasi dengan warga Jawa Timur yang diwakilinya di DPD RI.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, hampir setiap bulan sepanjang 2026 terdapat agenda kunjungan Ning Lia ke Madura. Selain menghadiri kegiatan formal, ia juga terlibat dalam kegiatan sosial, intelektual, dan kemasyarakatan.


Salah satu agenda tersebut berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sekitar pukul 10.26 WIB, Ning Lia menghadiri bedah buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru, Madura.


Forum tersebut dihadiri sejumlah kiai, pejabat, dan pengusaha. Pembahasan buku tidak hanya mengulas perjalanan diaspora Madura, tetapi juga proses masyarakat membangun kembali kehidupan sosial setelah mengalami konflik.


Buku tersebut mengangkat tiga gagasan utama, yakni resiliensi, strategi, dan transformasi.


Resiliensi digambarkan melalui kemampuan masyarakat diaspora Madura untuk bangkit dari pengalaman traumatis dan beradaptasi secara konstruktif dengan lingkungan sosial baru.


Sementara aspek strategi terlihat dari upaya memperluas orientasi pendidikan, membangun sumber daya manusia, menolak stereotip etnik, serta mengembangkan organisasi yang dapat menciptakan ruang publik yang inklusif, moderat, dan toleran.


Adapun transformasi ditandai dengan munculnya peran-peran baru diaspora Madura. Mereka tidak hanya mempertahankan budaya dan tradisi berdagang, tetapi juga mulai berperan dalam politik formal, baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif.


Perubahan tersebut menunjukkan bahwa diaspora Madura dapat mengambil bagian dalam membangun masyarakat multikultural yang rukun, adil, dan berdaya.


Ning Lia menilai salah satu kekuatan buku tersebut terletak pada keberaniannya melihat persoalan pascakonflik dalam perspektif jangka panjang.


“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” kata Ning Lia, Selasa (01/09/2026). 


Menurut dia, fase setelah konflik justru menyimpan proses penting. Masyarakat harus membangun kembali kepercayaan, memperbaiki hubungan sosial, dan menciptakan ruang kehidupan bersama yang lebih damai.


Ning Lia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep peacebuilding yang dikembangkan John Paul Lederach. Dalam buku Building Peace (1997), Lederach menekankan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga melalui pemulihan hubungan sosial dan tumbuhnya kembali kepercayaan di masyarakat.


Dalam konteks tersebut, pesantren, organisasi kemasyarakatan, serta forum lintas etnik dapat menjadi ruang untuk membangun kembali kepercayaan.


Ia juga melihat adanya irisan dengan pemikiran Ashutosh Varshney dalam Ethnic Conflict and Civic Life (2002), terutama mengenai pentingnya jejaring sipil lintas etnik dalam mencegah konflik.


Menurut Ning Lia, pengalaman diaspora Madura menunjukkan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Hubungan sosial yang berlangsung secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai.


Meski memberikan apresiasi, Ning Lia mengatakan dirinya masih perlu membaca keseluruhan buku secara lebih mendalam sebelum memberikan penilaian lebih jauh.


“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” ujarnya.


Kehadiran Ning Lia dalam forum tersebut sekaligus memperlihatkan pola komunikasinya selama berada di Madura. Sebagai anggota DPD RI, ia tidak hanya mengandalkan forum resmi untuk menyerap aspirasi, tetapi juga membangun komunikasi melalui berbagai perjumpaan dengan masyarakat.


Pertemuan dengan pemuda, aktivis, jurnalis, pejabat, pengusaha, kiai, ulama, hingga mahasiswa menjadi bagian dari ruang dialog yang memungkinkan berbagai persoalan daerah disampaikan secara langsung.


Dalam konteks fungsi representasi, komunikasi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu cara anggota DPD RI memahami persoalan di daerah pemilihan sebelum membawanya ke tingkat nasional.


Kehadiran senator di daerah juga menunjukkan bahwa fungsi representasi tidak berhenti di ruang sidang parlemen. Hubungan dengan masyarakat di daerah pemilihan tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan mandat sebagai wakil daerah.


Sepanjang 2026, Madura menjadi salah satu wilayah yang cukup sering dikunjungi Ning Lia. Dari Sumenep hingga Bangkalan, berbagai agenda tersebut menjadi ruang perjumpaan antara senator dengan masyarakat serta tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam kehidupan sosial Madura.


Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari agenda reses, tetapi juga memperlihatkan upaya membangun kedekatan, mendengar aspirasi secara langsung, dan menjaga komunikasi dengan masyarakat Jawa Timur. (Red) 

Bagikan:

Komentar