|
Menu Close Menu

Lokakarya Fesmed Selat Malaka 2026 Soroti Tantangan AI, Pewarta Foto Diminta Perkuat Kejujuran Visual

Selasa, 22 September 2026 | 15.47 WIB

Kegiatan lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 yang digelar di Ruang Rapat TA 9.4 Lantai 9, Gedung Tower A, Politeknik Negeri Batam.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Batam – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi dunia jurnalistik, termasuk bagi pewarta foto. Di tengah kemudahan manipulasi visual, kejujuran foto jurnalistik dinilai semakin penting sebagai bagian dari literasi publik.


Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 yang digelar di Ruang Rapat TA 9.4 Lantai 9, Gedung Tower A, Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026).


Kegiatan tersebut diikuti 29 peserta dari kalangan umum, termasuk kreator konten dan jurnalis. Lokakarya dimoderatori Fara Verwey dari AJI Tanjungpinang, dengan menghadirkan Hendra Syamhari selaku Koordinator Wilayah (Korwil) Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera dan M. Noor Kanwa selaku fotografer lepas (freelance) sebagai narasumber.


Hendra membawakan materi bertajuk “Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalistik Sebagai Literasi Publik”. Sementara M. Noor Kanwa menyampaikan materi “Etika Penggunaan AI dalam Foto Jurnalistik”.


Dalam pemaparannya, Hendra menegaskan bahwa fotografer jurnalistik harus memegang teguh etika dalam menjalankan tugas. Menurutnya, etika menjadi salah satu benteng pertahanan untuk mencegah penyebaran hoaks visual.


“Sebuah foto disajikan secara jujur dan transparan sehingga publik dapat memahami suatu peristiwa secara utuh tanpa dimanipulasi,” kata Hendra.


Ia menjelaskan, dalam etika jurnalistik, karya visual harus mencerminkan kondisi sebenarnya ketika peristiwa berlangsung. Selain foto, takarir atau caption juga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari produk jurnalistik.


“Foto jurnalistik itu juga ada takarir (caption). Keterangan foto ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari produk jurnalistik,” tuturnya.


Menurut Hendra, di tengah krisis kejujuran visual yang terjadi saat ini, dominasi teknologi AI dan kemudahan manipulasi instan justru membuat foto jurnalistik memiliki peran penting dalam merekam fakta.


“Foto itu akan menjadi saksi dan perekaman sejarah. Peristiwa yang terjadi direkam melalui bidikan lensa, kemudian menghasilkan foto yang kita bagikan untuk menjadi informasi publik,” ujarnya.


Hendra juga tidak memungkiri sebuah foto dapat memicu kepanikan di era digital. Terlebih, masih banyak orang yang menilai keaslian sebuah foto berdasarkan jumlah like terbanyak di media sosial, meski kebenarannya belum tentu dapat dipastikan.


Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi visual yang meragukan. Verifikasi terhadap foto maupun berita menjadi langkah penting sebelum informasi tersebut dipercaya atau disebarluaskan.


“Tipsnya, jika melihat sesuatu yang meragukan—baik berita maupun foto—kita harus mencari tahu kebenarannya. Kalau tidak ada media yang memberitakan, skip,” tutur Hendra.


Dalam lokakarya tersebut, Hendra juga menampilkan sejumlah foto dan meminta peserta membedakan antara foto hasil AI dan foto asli. Dari sesi itu, terlihat bahwa tidak sedikit peserta yang terkecoh dan menganggap foto hasil AI sebagai foto asli.


Sementara itu, M. Noor Kanwa membahas materi “Jurnalistik Foto antara Teknologi dan Etika”. Ia menegaskan bahwa foto jurnalistik wajib dilengkapi dengan keterangan foto yang memuat unsur 5W+1H.


“Keterangan foto ini biasanya terdiri atas dua kalimat. Kalimat pertama terkait dengan fotonya, sedangkan kalimat kedua berisi keterangan tambahan. Di dunia jurnalistik, keterangan foto ini wajib hukumnya,” ujar Kanwa.


Ia melanjutkan, dalam menjalankan tugas jurnalistik, hal utama yang dikejar seorang pewarta foto adalah momen. Menurutnya, momen merupakan peristiwa atau kejadian yang ditangkap kamera dan tidak dapat diulang untuk kedua kalinya.


“Momen adalah peristiwa atau kejadian yang ditangkap oleh kamera dan tidak dapat diulang untuk kedua kalinya,” katanya.


Kemampuan menangkap momen tersebut, lanjut Kanwa, menjadi salah satu pembeda seorang fotografer jurnalistik.


“Pembuat foto bagus itu banyak, tetapi yang mendapatkan momen hanya orang-orang tertentu,” tutur Kanwa.


Dalam pembahasannya, Kanwa juga menegaskan bahwa perkembangan fotografi tidak dapat dilepaskan dari penggunaan AI di era digital. Kehadiran teknologi tersebut turut mengubah cara produksi foto jurnalistik.


“AI ini adalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis. Ada yang bilang 'biarkan foto berbicara'. Apakah AI bisa seperti itu?” ujarnya.


Kanwa kemudian menjelaskan batasan sentuhan digital AI dalam jurnalistik foto. Menurutnya, AI dapat digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis dalam proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, selama tidak mengubah makna dan arti foto.


“AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis yang ada dalam proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, tanpa mengubah makna dan arti foto tersebut,” katanya.


“AI ini berfungsi sebagai alat penyuntingan teknis untuk koreksi warna, tetapi tidak untuk mengubah warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia dan sebagainya,” sambungnya.


Melalui lokakarya tersebut, kegiatan Fesmed Selat Malaka 2026 diharapkan menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kualitas jurnalisme visual sekaligus memperkuat sinergi antara AJI, PFI, dan masyarakat dalam mengawal demokrasi melalui informasi visual yang benar.


Pada akhir acara, peserta juga disuguhi foto-foto dari buku foto jurnalistik berjudul “Prahara Pulau Emas”. Buku tersebut memuat dokumentasi mengenai korban dan dampak bencana banjir di Aceh serta wilayah Sumatera lainnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar