> Komunisme Bukan Satu-satunya Hantu di Indonesia Lensajatim.id
|
Menu Close Menu

Komunisme Bukan Satu-satunya Hantu di Indonesia

Senin, 15 Juni 2020 | 09.58 WIB


Oleh : Firman Syah Ali

Saat ini masyarakat indonesia heboh dengan hantu komunisme gara-gara Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang diajukan oleh DPR-RI. Namun warganet indonesia banyak yang salah paham atau memang sengaja pura-pura salah paham, hari-hari ini pemerintah dihajar habis-habisan, untunglah pemerintah tanggap, Menkopolhukam RI Mahfud MD segera menyampaikan dengan jelas dan terang benderang bahwa RUU HIP ini bukan inisiatif pemerintah. Mahfud MD juga berjanji akan pasang badan untuk memperjuangkan poin-poin anti komunisme dalam RUU tersebut.

Mari kita kilas balik sejenak sekedar untuk menyadari bahwa hantu yang bergentayangan di bumi Indonesia saat ini bukan hanya ekstrim kiri (komunisme) tapi juga ekstrim kanan (radikalisme pemeluk agama). Selain kedua hantu tersebut, ada hantu lain yaitu diktatorisme, baik diktatorisme orde lama maupun diktatorisme orde baru. Hantu Praetorianisme adalah hantu kebangkitan kembali pemerintahan junta militer ala orde Baru. Korupsi Kolusi dan Nepotisme juga hantu yang sangat seram, ibarat vampir hantu ini menggigit leher bangsa kemudian menghisap darahnya.

Sebetulnya mereka itu bukanlah hantu, ideologi ekstrim pasti masih punya penganut hingga detik ini, walaupun dalam jumlah yang tidak signifikan. Atau bisa jadi aslinya signifikan hanya saja mereka pandai  berkamuflase. Tapi karena organisasi mereka telah dibubarkan atau dicabut izinnya, ya kita anggap saja hantu. KKN juga bukan hantu, tapi karena sulit dideteksi dan lebih banyak yang bisa meloloskan diri ya kita anggap saja hantu. Diktatorisme atau otoritarianisme ini bisa bangkit kapanpun, kita harus waspada, terus kontrol pemerintah agar tidak kesurupan hantu diktatorisme. Hantu Praetorianisme militer ala orde baru juga bisa bangkit kapan saja kalau kita tidak waspada.

Tentu saja masih banyak jenis hantu yang lain di bumi pertiwi kita tercinta, saya hanya menyebut beberapa contoh. Yang belum disebut antara lain narkoba, pocong, kuntilanak, zuster ngesot dan lain-lain.

Selain memiliki banyak hantu, berdasarkan kajian sejarah, bangsa besar ini juga pernah memiliki banyak Tuhan. Jauh sebelum datang agama Hindhu-Buddha, bangsa kita menyembah super realitas yang maha tunggal yang mereka sebut Sang Hyang Taya Yang Maha Esa. Kemudian cukup disingkat Hyang. Itulah asal mula kata Sembahyang, Kahyangan dan Parahyangan. Nenek moyang kita meyakini "Hyang" itu hampa, kosong, suwung, awang-uwung, tidak bisa dicapai oleh panca indera.

Agar dikenal oleh makhluk, Sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat ilahiah yang disebut Tu. Tu bermakna "adikodrati/ daya ghaib".

Tu punya dua sifat yaitu baik dan buruk. Tu yang baik disebut "Tu-han", atau sering disebut Sang Hyang Wenang. Tu yang tidak baik disebut Sang Manikmaya. Demikianlah Sang Hyang Wenang dan Sang Manikmaya merupakan sifat dari Sang Hyang Tunggal yaitu Sanghyang Taya.

Sang Hyang Taya bersembunyi di dalam segala sesuatu atau menjadi hakikat dari segala realitas yang ada di muka bumi, makanya benda-benda di muka bumi banyak yang bernama "Tu", misalnya watu, tugu, tungkub, tulang, tunggul, tunggal, tumbak/tombak, turumbukan, untu, topong dll.

Dalam rangka puja bhakti kepada sang Hyang Taya, nenek moyang kita menyediakan sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-mpi, Tu-mbu, Tu-ak dan Tu-kung. (Agus Sunyoto : 2012).

Nenek moyang kita yang rajin sembahyang akan dikarunia kekuatan adikodrati, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kekuatan adikodrati positif disebut tuah, sedangkan kekuatan adikodrati negatif disebut tulah. Mereka yang telah dikarunai tuah dan tulah itu dianggap berhak menjadi imam masyarakat, yang digelari Ra-Tu atau Dha-Tu. Sebetulnya gelar pemimpin masyarakat di nusantara adalah Ratu bukan Raja, tapi entah kenapa perkembangan jaman mengubah gelar pemimpin masyarakat menjadi Raja, sedangkan gelar Ratu digunakan hanya jika pemimpinnya adalah seorang perempuan.

Nenek moyang kita di Kalimantan menyembah Tuhan Ranying Yang Maha Esa (menurut mereka). Nenek Moyang Jawa Bali juga menyembah Tuhan Sri untuk kesuburan pertanian. Nenek moyang Sunda menyembah Sang Hyang Kersa atau Batara Tunggal Yang Maha Esa (menurut mereka). Begitupun suku-suku lain punya "nama Tuhan" sendiri-sendiri tapi maksudnya sama yaitu Sang Hyang Taya.

Kemudian datanglah agama Hindhu dan Buddha. Agama Hindhu menyembah Tuhan Brahman beserta segenap manifestasinya, yaitu Tuhan Wisnu, Tuhan Syiwa, Tuhan Agni, Tuhan  Indra, Tuhan Baruna dll. Oposisi dari Tuhan Brahman beserta semua manifestasinya itu adalah Asura. Nama Brahman mirip nama Abram di Babilonia. Abram disebut juga Avram, Abraham dan Ibrahim as. Ada oposisi Tuhan juga sebagaimana diajarkan oleh Abram di Kana'an. Hanya mirip jangan dihubung-hubungkan haha.

Buddha menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak boleh diberi nama. Tuhan tidak boleh terikat dalam nama. Tapi orang Jawa terbiasa memberi nama pada Tuhannya, oleh karena itu penduduk Buddha Jawa kuno menyebut Tuhan mereka Sang Hyang Manon.

Kemudian datanglah agama-agama padang pasir Ibrani yang meliputi Islam, Kristen dan Yahudi, namun hanya Islam dan Kristen yang saat ini diakui oleh negara. Sahabat saya Nur Hamid Ketang, yang pindah agama dari Islam ke Yahudi terpaksa ber-KTP Kristen karena Yahudi tidak diakui. Nama Nur Hamid Ketang berubah jadi Benjamin Ketang. Kini beliau sudah tiada, mendahului kita beberapa tahun lalu, meninggal dunia di Jember.

 Islam menyembah Allah Yang Maha Esa. Sebagian ilmuwan muslim tidak menyebut "Tuhan Allah" karena Tuhan itu adalah konsep agama Kapitayan untuk menyebut manifestasi positif Sang Hyang Taya. Jadi langsung saja Allah SWT tanpa awalan Tuhan. Orang Kristen juga memberi nama Tuhan dengan el, eloah, YHWH, Yahweh, Jehovah dan sebagainya, itu semua sekedar nama, tapi yang mereka maksud sama dengan yang dimaksud Abram. Bahkan kristen kontemporer juga memberi nama Allah kepada Tuhannya, dengan penyebutan satu "L" bukan double "L" sebagaimana muslim.

Selain agama-agama padang pasir dan agama-agama india, nenek moyang kita juga dimasuki oleh agama-agama cina, diantaranya Kong Hu Chu. Kong Hu Chu ini diakui oleh Pemerintah RI, Tuhan yang mereka sembah adalah Tian Yang Maha Esa (menurut mereka). Semakin banyaklah nama Tuhan di bumi Indonesia.

Dari sekian nama Tuhan di atas, Allah SWT yang paling banyak disebut orang di Indonesia. Dari sekian hantu di atas, Komunisme atau PKI yang paling ditakuti sehingga banyak disebut oleh bangsa indonesia.

Tapi kita jangan kagetan dan jangan khawatir berlebihan, bangsa Indonesia punya Pancasila. Pancasila kemungkinan besar digali dari agama kapitayan, agama asli austro-melanesia (nenek moyang kita) jauh sebelum datangnya agama-agama ibrani (padang pasir), agama-agama india dan agama-agama cina.

Nenek moyang kita adalah monotheis, penyembah Tuhan Yang Maha Esa, bukan penyembah batu, pohon dan sebagainya. Oleh karena itu sila pertama Pancasila tegas "Ketuhanan Yang Maha Esa", kelima sila tidak boleh diperas-peras lagi, nanti hantunya datang.

*) Penulis adalah Pengurus NU dan IKA PMII Wilayah Jawa Timur.

Bagikan:

Komentar