> Dari Guru Besar ke Guru Bangsa
|
Menu Close Menu

Dari Guru Besar ke Guru Bangsa

Rabu, 06 Januari 2021 | 14.41 WIB



 Oleh : Moch Eksan


Namanya, Prof Dr KH Abd Halim Soebahar MA, biasa dipanggil Prof Halim, dosen senior  Universitas Islam Negeri KH Achmad Shiddiq. Seorang guru besar pendidikan Islam yang banyak menginspirasi mahasiswa, termasuk saya yang sangat kagum atas kemampuannya.


Prof Halim saat mengajar atau seminar, cara berpresentasi memukau dan materinya penuh kebaruaan. Memang, Direktur Pascasarjana UIN Khas ini, kuliah tatap muka terkadang cuma 3 kali dalam satu semester. Namun, dalam satu kali tatap muka, materi kuliahnya sangat padat, dan mahasiswa yang ikut pasti terkesan serta terpengaruh terhadap cara berfikir yang bersangkutan.


Prof Halim sangat piawai "mematrikulasi" sistem pendidikan nasional yang rumit dan jlimet menjadi mudah dan dalam. Saya menikmati betul Mata Kuliah Matriks Pendidikan Islam pada semester akhir di UIN Khas dulu. Sebuah mata kuliah yang menawarkan paradigma matrikulasi dalam memahami pendidikan Islam secara holistik dan komprehensif.


Paradigma matrikulatif merupakan sebuah cara memahami sesuatu dengan susunan angka, simbol, ekspresi menjadi suatu bangunan konsep. Dalam banyak bukunya, Prof Halim, menggunakan paradigma matrikulatif ini untuk mempermudah memahami konsep besar dengan cepat, tepat dan akurat. Antara lain, Modernisasi Pesantren: Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren, Filsafat Pendidikan Islam dari Zaman ke Zaman, Kebijakan Pendidikan Islam dari Ordonansi Guru sampai UU Sisdiknas, dan masih banyak artikel dan kertas kerja lainnya yang bertebaran di media.


Terus terang, paradigma matrikulatif ini yang membantu  saya memahami sesuatu di luar disiplin keilmuaan yang pernah ditekuni. Pada saat menjadi guru honorer di SMK Walisongo, MA Miftahul Ulum, MAN 1 dan dosen luar biasa di UIN Khas dan Universitas Islam Jember (UIN), saya juga mengampu pelajaran di luar Pendidikan Bahasa Arab (PBA), semisal Ilmu Tafsir, Sosiologi dan Antropologi, Tata Negara, PPKn, Ilmu Alamiah Dasar, Ekonomi dan Akuntansi.


Demikian pula, tatkala saya menjadi anggota Komisi E DPRD Propinsi Jawa Timur yang membidangi kesejahteraan rakyat, dalam membahas Raperda dan RAPBD, mengunakan paradigma matrikulatif ala Prof Halim di atas. Sungguh, sangat membantu menguasai materi secara capat, tepat dan akurat. Selama menjadi wakil rakyat, yang dituntut untuk menjawab semua pertanyaan awak media, saya lazim membuat matriks persoalan yang menjadi concern publik.


Jadi, Prof Halim "guru para guru" yang pernah menjadi dosen pembimbing skripsi saya tentang Profil KH A Muchith Muzadi, Pemikiran dan Perjuangannya dalam Pendidikan Islam. Skripsi ini, atas usaha Kiai Muchith diterbitkan menjadi buku Kiai Kelana, Biografi KH A Muchth Muzadi LKIS Yogjakarta, 2000.


Prof Halim ikut mensupport terbitnya buku pertama tentang Kiai Muchith ini. Sejak itulah, saya belajar menulis di media massa sampai sekarang. Tentu, Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Arjasa Jember ini, yang menginspirasi dunia tulis-menulis dari dulu sampai kini. 


Saya yakin, banyak "murid" yang mengikuti fatwa aqwali (pendapat) dan minhaji (metode) Prof Halim dalam berbagai hal. Mereka yang tertambat fikiran dan hatinya pada apa dan bagaimana Prof Halim mengajar dan berseminar. Sungguh, merepresentasikan intelektual ulama dan ulama intelektual yang memadukan akal dan wahyu sekaligus pada horison pemikirannya.


Memang, capaian struktural Prof Halim tak semoncer prestasi akademiknya. Dalam beberapa kali maju menjadi orang nomor satu di UIN Khas, Prof Halim, nasibnya belum mujur. Namun, pengaruh intelektualitas terhadap para mahasiswa di atas capaian struktural tersebut. Hal itu lebih dari cukup dari seorang cendikiawan pergerakan yang mendharma-baktikan hidupnya untuk kaderisasi dan regenerasi intelektual ulama dan ulama intelektual dari Bumi Tapal Kuda.


Prof Halim merupakan santri kesayangan KH Achmad Shiddiq yang punya sanad fiqrah nadhliyah, ideologi Islam dan Pancasila, Konsep Triukhuwah dari sumber pertama. Konsep-konsep tersebut, sangat urgen kala Indonesia didera masalah radikalisme. Faham ini telah menjerat perguruan tinggi, pesantren, sekolah, BUMN, kelas menengah muslim dan lain sebagainya, pada sikap yang anti-Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Di usia ke-60 tahun, Prof Halim masih sangat aktif berkontribusi bagi umat dan bangsa, sebagai seorang kiai dan dosen. Usia yang sangat matang, dan sudah selesai dengan hidupnya. Tinggal, memantapkan diri sebagai teacher of nation (guru bangsa) berbekal keunggulan spiritual dan intelektual pada seluruh anak umat dan bangsa. Indonesia, Jawa Timur dan Jember, sangat membutuhkan sumbangan pemikiran lelaki kelahiran, 4 Januari 1961 ini dalam modernisasi pondok pesantren sebagai inti kekuatan pendidikan nasional. Milad Mubarak  Ya Murabbi Rohi!


Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.

Bagikan:

Komentar