> Filosofi Bakar Ikan di Tahun Baru
|
Menu Close Menu

Filosofi Bakar Ikan di Tahun Baru

Jumat, 01 Januari 2021 | 08.30 WIB



Oleh Moch Eksan


Dzaki Rabbani Ramadhan, anak lelaki saya, bersama teman-temannya menyambut tahun baru dengan bakar ikan. Hal yang sama, saya lihat di berbagai unggahan teman-teman di laman media sosialnya, juga menyambut pergantian tahun dengan bakar ikan. Meski sedang menghadapi Pandemi Covid-19, banyak orang yang tak ingin pergantian tahun 2020 ke 2021 ini berlalu begitu saja, tanpa momen yang mengesankan.


Robi--panggilan akrab Dzaki Rabbani Ramadhan, dan sekelompok teman-temannya, menikmati kebersamaan dengan makan bareng. Jauh-jauh hari sebelum Kamis, 31 Desember 2020, mereka sudah merancang acara sekaligus membahas pembiayaan dengan tanggung renteng. Sesungguhnya, yang paling penting dari semua itu adalah acara kumpul bareng. Bakar ikan dan makan bersama, sekadar sarana menikmati malam tahun baru.


Tahun baru bukan sekadar perubahan angka, bukan pula sekadar pergantian hari, bulan dan tahun, akan tetapi time change (pertukaran waktu) beserta harapan manusia di seluruh jagad raya. Harapan hidup lebih baik bagi diri, keluarga, warga bangsa dan dunia. Seluruh manusia punya cita-cita yang sama, ingin segera hidup normal dan bebas dari pandemi Covid-19 yang telah merusak ekonomi dan kesehatan dunia.


Di dunia tercatat, ada 82,8 juta kasus Corona. Yang sembuh, 46,8 juta, dan yang meninggal, 1,81 juta. Kasus yang tertinggi terjadi di Amerika Serikat, India, Brasil, Prancis, Argentina, Kolombia, Peru, Rusia, Mexico, Israil, Inggris dan Indonesia. Negeri ini berada pada urutan ke-12 dari negara-negara dengan kasus Corono terbanyak. Sungguh mengerikan dan menjadi hantu menakutkan di tengah hajatan tahun baru 2021.


Tahun baru sekarang, tak ada bunyi terompet. Tak ada konser musik. Dan, tak ada pesta kembang api. Seluruh penjuru dunia, menghindari perhelatan yang mengundang kerumunan massa dalam skala besar. Dunia sedang dalam keprihatinan. Banyak negara bukan hanya terpukul, negerinya sudah terlilit krisis multidimensional akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.


Jauh dari pusat-pusat kota, di berbagai pelosok rumah warga, banyak acara bakar ikan. Sebuah perhelatan yang mengandung filosofi mendalam. Api dan ikan sebagai bahan utama dari bakar ikan, sarat tafsir nilai. Antara lain:


Pertama, api merupakan oksidasi sebuah materi dalam proses pembakaran kimiawi yang menghasilkan panas, cahaya dan menilmbulkan asap. Ini arti api yang sesungguhnya, sedang makna kiasannya, api adalah semangat, spirit dan energi, seperti judul buku: Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner karya Ahmad Gaus AF,  Gelora Api Revolusi: Antologi Sejarah karya Colin Wild dan Peter Carey, Api Islam dalam Kobaran Api Revolusi Indonesia karya Roslan Abdulgani, dan lain sebagainya.


Kedua, ikan merupakan vertebrata yang hidup di air dan bernafas dengan insang. Terdapat 27 ribu spesies ikan di dunia. Ikan sumber makanan yang kaya gizi, mengandung omega, serat protein, asam amino dan taurin, vatamin A, D, B6 dan B12, zat besi, yodium, selenium, seng dan fluor.


Ketiga, bakar merupakan salah satu cara memasak sehat, dan masih lebih baik daripada goreng. Meskipun, cara masak yang paling sehat adalah rebus, sebab cara ini tak sampai merusak kandungan gizi dan nutrisi di dalam makanan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.


Keempat, masak bersama dan makan bersama merupakan hidangan dan cara makan yang terbaik. Tradisi mayoran dengan makan satu nampan dan makan rame-rame mengundang keberkahan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud.


Dari uraian di atas, bakar ikan di tahun baru, merupakan budaya yang relatif baik. Bahkan, suatu ikhtiar untuk mendapatkan imunitas fisik dan sosial sekaligus.  Di era Pandemi Covid-19, imunitas sangat penting untuk menghindari penularan virus corona yang mematikan.


Banyak petinggi negeri di belahan bumi yang terpapar. Banyak yang sembuh dan terlepas virus naas. Ada pula yang meregang nyawa gagal nafas. Bupati, wakil bupati, kiai, para pesohor di Indonesia yang menjadi korban virus ganas. Untuk mengatasi semua itu, mutlak membutuhkan langkah trengginas. Membebaskan warga bangsa dari mata rantai penyebaran Covid-19.


Akhirnya, atas nama keluarga besar Eksan Institute dan Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat DPW Partai NasDem Jawa Timur, mengucapkan, Selamat Tahun Baru 2021. Semoga sehat dan sukses selalu, seiring dengan doa:


Allohumma antal ilahul qodim, wa hadzihi sanatun jadidah. Fa as’aluka fihal ‘ishmata minas syaithon, wal quwwata ‘ala hadzihin nafsil ammaroti bis su’i, wal isytighola bi ma yuqorribuni ilaika ya karim, ya dzal jalali wal ikrom.


Ya ‘imadu man la ‘imada lahu, ya dzakhirotu man la dzakhirota lahu, ya hirzu man la hirza lahu, ya ghiyatsu man la ghiyatsa lahu, ya sanadu man la sanada lahu, ya kanzu man la kanza lahu, ya husnal bala’, ya ‘azhimar roja’, ya ‘izzad dhu’afa, ya munqidzal ghurqo, ya munjiyal halka.


Ya mun’imu, ya mujammilu, ya mufashilu, ya muhsinu, antal ladzi sujida laka sawadallail wa nuron nahar, wa dhou’al qomar, wa syu’aas syams, wa dawiyyal ma’, wa hafifas syajar, ya allah, la syarika lak


Allohummaj’alna khirom mimma yazhunnuna, waghfirl lana ma la ya’lamun, wa la tu’akhidzna bima yaqulun, hasbiyallah la ilaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhim. Amanna bihi kullum min ‘indi robbina, wa ma yadzdzakkaru illa ulul albab, robbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana, wahab lana mil ladunka rohmah, innaka antal wahha.


(Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Maha Terdahulu (Sebelum Ada Apapun). Hari ini adalah tahun yang baru. Maka aku memohon kepada-Mu perlindungan dari setan, kekuatan mengendalikan hawa nafsu dari amarah yang buruk, dan disibukkan dengan sesuatu yang mendekatkanku kepada Engkau, Yang Maha Mulia. Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. 


Yang Maha Dijunjung dimana tidak ada junjungan yang lain. Yang Maha Kaya dimana tidak ada yang kaya. Yang Maha Menolong dimana tidak ada yang bisa menolong. Yang Menjadi Sandaran dimana tidak ada yang bisa menjadi sandaran. Wahai Yang Memiliki Kekayaan. Wahai Yang memberikan cobaan dengan sangat baik. Wahai Yang Paling Agung untuk Diharapkan. Wahai Yang Maha Perkasa. Wahai Penyelamat Mereka yang tenggelam. Penyelemat mereka yang akan binasa.


Wahai Pemberi Nikmat. Wahai Yang membuat sesuatu menjadi indah. Wahai Yang memberikan kelebihan. Wahai Pemberi Kebaikan. Engkau yang membuat orang bersujud di gelapnya malam, terangnya siang, di bawah cahaya rembulan, di bawah sinar matahari, di dalam gemericik air, dan bersama lambaian pohon, Wahai Allah, Tiada Yang Bisa Menyekutukan Engkau.


Ya Allah jadikan kami menjadi baik seperti yang manusia sangka. Dan ampuni kami dari apa yang kami tidak ketahui. Dan jangan siksa kami akibat perkataan mereka. Cukuplah Allah (sebagai Pelindung), Tiada Tuhan Selain Dia. Kepadanyalah aku berserah diri, dan Dia adalah Tuhan ‘Arsy yang Agung. Kami beriman bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan kami. Dan tidaklah mengingat hal ini kecuali orang-orang yang berpikir. Ya Allah, janganlah gelincirkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Memberi Anugerah).


Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute dan Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat DPW Partai NasDem Jawa Timur.

Bagikan:

Komentar