|
Menu Close Menu

Gus Amri : Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Harus Beradaptasi di Era Digital

Minggu, 23 Juli 2023 | 10.14 WIB

Mohammad Haerul Amri, anggota Komisi X DPR RI saat memberikan sambutan dalam acara Workshop Pendidikan yang diselenggarakan oleh Kemendikbud-ristek RI di Kabupaten Pasuruan, Jaw Timur. (Dok/Istimewa).

Lensajatim.id, Pasuruan-  Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud-ristek) RI kembali menyelenggarakan kegiatan Workshop Pendidikan.  Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh anggota Komisi X DPR RI, Mohammad Haerul Amri, S.P,.M.Pd.  mengangkat tema Digitalisasi Pembelajaran Dalam Mendukung Program Merdeka Belajar bertempat di Hotel Taman Dayu Golf club dan Resort Kabupaten Pasuruan. Sabtu (22/07/2023).


Turut hadir dalam kegiatan itu diantaranya,  Kementerian Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus yang diwakili oleh Taufik Pasaribu.  Hadir sebagai narasumber Muhammad Nana Suprihatna, S.T, Imron Rosyadi, S.Pd.I, Dr. Amang Fathurrohman, M.Pd.I, serta Guru Honorer se-Kabupaten Pasuruan.


Dalam sambutannya, Moh. Haerul Amri, S.P., M.Pd, yang akrab disapa Gus Amri menuturkan, jika implementasi kurikulum merdeka telah diinternalisasikan oleh setiap sekolah. Dan berdasarkan bahan rapat kerja pada  24 Januari 2023 dengan Kementerian Pendidikan kebudayaan Riset dan Teknologi.


" Ada  156.937 sekolah yang terdaftar telah mengimplementasikan kurikulum merdeka, dan 1.820.690 Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) terdaftar telah mengimplementasikan kurikulum merdeka," jelas politisi muda yang juga Sekjen DPP Garda Pemuda NasDem ini.


Baginya, Merdeka belajar adalah menjadi kurikulum terbaru yang di dorong dengan akselerasi digital, dan ini harus menjadi lompatan dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia. 


" Kurikulum merdeka belajar yang terbaru ini, tidak hanya menjadi kebutuhan administrasi. Saya akan mendorong pendidikan di Indonesia ini harus mampu mentransformasikan dirinya ke dalam digitalisasi. Artinya pendidikan kita harus bisa beradaptasi dengan akselerasi digital,  yang kemudian ini menjadi lompatan untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain," beber Gus Amri.


Wakil Ketua Umum PP GP Ansor ini menambahkan, kalau kurikulum merdeka belajar tidak akan mengurangi apalagi menghapus budaya dan tradisi yang ada di setiap daerah Indonesia. Justru akan melindungi dan mendorong kebudayaan menjadi pusat keistimewaan peradaban pendidikan.


" Kurikulum merdeka belajar ini telah banyak sekolah yang mengimplementasikan, dan tidak mengurangi apalagi menghapus budaya Indonesia," pungkas penerima penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif dari Forkom Jurnalis Nahdliyin ini.


Selain itu, Taufik Pasaribu dari Kementerian Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, juga menyampaikan  bahwa sekolah itu selain menjadi tempat menimba ilmu, harus jadi tempat yang membahagiakan baik siswa maupun guru nya. 


" Sekolah itu harus menjadi tempat membahagiakan siswa. Agar tidak membosankan yang berakibat malas dalam proses belajar mengajar. Terutama guru nya. Kalau Guru nya tidak bahagia bagaimana guru itu bisa mengajar muridnya untuk belajar ,"  kata Taufik.


Ditempat yang sama, Kabid Pendidikan Kabupaten Pasuruan M. Syafi'i, S. Pd., M.Pd, ucapkan terima kasih kepada Gus Amri atas perjuangannya untuk dunia pendidikan di Pasuruan, bahkan mengundang para guru honorer untuk terlibat dalam Workshop Pendidikan.


" Menjadi penghargaan bagi seluruh guru honorer dan yang lainnya, Pak Haerul Amri telah mengundang Bapak Ibu sekalian bisa hadir di forum ini. Saya tahu yang hadir disini jaraknya sangat jauh bahkan sampai 50 km dari lokasi ini seperti kecamatan Tosari, Puspo, Tutur,"  ucapnya saat sambutan mewakili Kadis Pendidikan Kabupaten Pasuruan. (Ham)

Bagikan:

Komentar