|
Menu Close Menu

Doa dan Seruan Bangkit untuk Sumatra: Ning Lia Istifhama Ajak Indonesia Peduli dan Belajar dari Bencana

Jumat, 28 November 2025 | 16.17 WIB

Ning Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya- Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda duka yang dalam. Hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar menghantam permukiman, memicu banjir bandang dan longsor, meninggalkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Rumah menjadi puing, jalan tertutup lumpur, sementara malam-malam pengungsian berjalan penuh kekhawatiran dan dingin. Di tengah kepiluan itu, doa dan empati mengalir dari berbagai penjuru, salah satunya datang dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama.


“Semoga Allah memberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan kepada seluruh saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ucap Ning Lia, Jumat, (28/11/2025) dalam pesan doa yang tersebar luas di media.


Senator asal Jawa Timur itu menegaskan, bencana ini bukan hanya milik Sumatra, tetapi luka seluruh bangsa. Ia menyebut musibah bukan sekadar deretan kerusakan fisik, melainkan ujian kemanusiaan yang memperlihatkan solidaritas Indonesia. Relawan berdatangan tanpa henti, warga berbagi logistik seadanya, dan doa mengalir dari berbagai daerah sebagai penanda kuatnya ikatan sosial.


“Ketika satu wilayah tertimpa bencana, seluruh Indonesia merasakan. Ini menunjukkan bahwa kita bangsa yang kuat, yang tak pernah meninggalkan saudaranya,” ujar Lia, keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu.


Lebih jauh, penerima DetikJatim Award 2025 tersebut menilai bencana ini menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan. Menurutnya, mitigasi bencana dan kesadaran ekologis harus diperkuat agar tragedi serupa tidak berulang.


“Setiap musibah mengajarkan kita pentingnya menjaga bumi dan membangun mitigasi bencana yang lebih kuat. Indonesia harus melangkah ke depan dengan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan,” tegasnya.


Ia menyoroti transisi energi sebagai salah satu agenda strategis bangsa. Subsidi energi fosil, ujar Lia, perlu dialihkan secara bertahap ke energi bersih seperti surya, angin, dan air. Masyarakat juga perlu diberdayakan agar dapat memproduksi energi terbarukan secara mandiri.


BMKG melaporkan, cuaca ekstrem ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang terbentuk dari bibit siklon 95B pada 26 November 2025. Fenomena langka di wilayah khatulistiwa ini menimbulkan banjir besar dan longsor di banyak titik. Peneliti BRIN, Erma Yulihastin bahkan menyebut kejadian tersebut sebagai fenomena yang hampir tak pernah terjadi.


Namun organisasi lingkungan seperti Walhi mengingatkan, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, dan industri ekstraktif disebut memperburuk skala bencana.


Saat ini sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat berada dalam status waspada cuaca ekstrem. Di Sibolga, belasan kelurahan mulai Angin Nauli hingga Pasar Belakang masuk kategori rawan longsor.


UNDP mencatat, 60% masyarakat kini semakin khawatir akan dampak krisis iklim, sementara 86% menginginkan pemerintah memperkuat penanganannya. BNPB juga melaporkan peningkatan tajam frekuensi bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir. Suhu ekstrem, gagal panen, dan krisis air menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini.


Pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah adaptasi, mulai dari sistem peringatan dini, Sekolah Lapang Iklim, hingga percepatan transisi energi. Namun rencana pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara dan gas dalam RUPTL 2025–2034 masih menimbulkan kritik terkait komitmen energi bersih.


Presiden telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) dengan target energi surya 32% di tahun 2060. Meski ambisi transisi jelas, sejumlah pasal dinilai masih memberikan ruang untuk energi fosil.


Lia Istifhama menutup pesannya dengan ajakan untuk terus menguatkan Sumatra dalam doa dan aksi nyata. Baginya, solidaritas adalah kunci pemulihan.


“Mari kita doakan, bantu, dan kuatkan saudara-saudara kita. Duka mereka adalah duka kita. Kebangkitan mereka adalah kebangkitan Indonesia,” ucapnya.


Bencana mungkin meruntuhkan bangunan, namun tak mampu memadamkan semangat persaudaraan bangsa. Dari puing-puing itu, Indonesia belajar, memperbaiki, dan bangkit kembali. (Had) 

Bagikan:

Komentar