![]() |
| Anggota Ning Lia Istifhama DPD RI bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sebuah acara.(Dok/Istimewa). |
Menurut Lia Istifhama, perempuan memegang peran strategis dalam menyiapkan Indonesia menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Perempuan tidak hanya berperan sentral dalam keluarga, tetapi juga menjadi penggerak penting di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga kebudayaan.
“Perempuan adalah fondasi keluarga sekaligus kekuatan sosial. Ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi secara adil, maka kualitas generasi masa depan akan meningkat secara signifikan,” ujar Lia Istifhama di sela kunjungan kerjanya di Pacitan, Senin (22/12/2025).
Ia menegaskan, pemberdayaan perempuan harus menjadi arus utama dalam setiap kebijakan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Perempuan yang berdaya, lanjutnya, akan melahirkan keluarga yang kuat, memperkokoh ketahanan sosial, serta mempercepat kemajuan bangsa secara berkelanjutan.
Peringatan Hari Ibu Tahun 2025 mengusung tema “Perempuan Berkarya dan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut dinilai selaras dengan tantangan pembangunan ke depan yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai kunci utama daya saing bangsa.
Lia Istifhama menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan memperoleh akses setara terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang layak, peluang ekonomi yang adil, serta ruang kepemimpinan dan pengambilan keputusan di berbagai level.
“Perempuan yang berdaya bukan hanya aktif di ruang domestik, tetapi juga hadir sebagai inspirasi, penggerak ekonomi keluarga, serta aktor penting dalam kehidupan sosial dan kebijakan publik,” ujarnya.
Putri ulama kharismatik tersebut juga menyoroti karakter khas perempuan yang memiliki empati tinggi dan kemampuan menjalankan berbagai peran secara simultan. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi kekuatan besar dalam menciptakan keputusan yang berkeadilan dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Perempuan mampu menjalani peran sebagai ibu, pendamping keluarga, sekaligus profesional di dunia kerja. Dengan dukungan kebijakan dan lingkungan yang berpihak, peran ganda ini justru menjadi keunggulan,” tambahnya.
Di Jawa Timur, berbagai program pemberdayaan perempuan terus diperkuat, mulai dari pengembangan UMKM perempuan, perlindungan ibu dan anak, peningkatan literasi digital, hingga perluasan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan publik. Lia Istifhama menilai perempuan Jawa Timur telah terbukti menjadi pilar penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan ekonomi daerah, terutama di tengah tantangan global yang dinamis.
Ia menegaskan bahwa Hari Ibu tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, Hari Ibu harus menjadi momentum refleksi kolektif untuk menghadirkan lingkungan yang adil, inklusif, dan ramah bagi perempuan.
Menutup pernyataannya, Lia Istifhama mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama membangun ekosistem yang memungkinkan perempuan tumbuh, berkembang, dan berkontribusi secara optimal.
“Semangat Hari Ibu adalah semangat perjuangan dan pengabdian. Mari kita perkuat komitmen menghadirkan kebijakan dan tindakan nyata yang berpihak pada perempuan, demi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Red)


Komentar