|
Menu Close Menu

Hadiri Haul Gus Dur ke-16 di Surabaya, Ning Lia Istifhama Ajak Teladani Sikap Humanis

Jumat, 19 Desember 2025 | 12.28 WIB

Ning Lia Istifhama, Anggota DPD RI saat wawancara dengan wartawan dalam acara Haul Gus Dur di Taman Bungkul Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Lia Istifhama, menghadiri Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16 yang dirangkai dengan tasyakuran atas gelar Pahlawan Nasional. Acara tersebut digelar oleh DPW Barikade Gus Dur Jawa Timur pada Kamis (18/12/2025) malam di Taman Bungkul, Surabaya dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai latar belakang.


Kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia itu menarik perhatian sejak awal acara. Saat turun dari kendaraan, ia disambut para pedagang asongan di sekitar lokasi. Dengan sikap ramah dan penuh empati, Ning Lia menyapa mereka sekaligus memborong sejumlah dagangan sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kecil.


Di panggung utama, Ning Lia duduk berjejer bersama sejumlah tokoh nasional dan pejabat, termasuk putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid. Suasana haul berlangsung khidmat, menjadi ruang doa sekaligus refleksi atas nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan Presiden ke-4 RI tersebut.


Dalam kesempatan itu, Ning Lia juga menyampaikan testimoni tentang sosok Gus Dur. Ia menegaskan bahwa salah satu identitas kultural Gus Dur yang paling menonjol adalah sikap humanis dan humoris yang selalu hadir dalam kepemimpinan maupun kesehariannya.


“Yang menjadi identitas kultur Gus Dur adalah bagaimana beliau humanis dan humoris. Akan sangat memprihatinkan jika kita tidak menjadikan beliau sebagai teladan dan gagal mengimplementasikan pesan-pesan beliau dalam kehidupan berbangsa,” ujar Ning Lia kepada wartawan.


Menurutnya, peringatan haul ke-16 Gus Dur harus dimaknai sebagai pengingat bersama bahwa Gus Dur bukan hanya pahlawan nasional dan tokoh bangsa, tetapi juga sumber nilai moral yang relevan sepanjang zaman. Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum haul sebagai self reminder untuk terus menjaga kebersamaan dan persatuan.


“Kita ini sama-sama makhluk sosial dan memiliki kewajiban menjaga entitas negeri ini serta keberlangsungan bangsa. Tidak boleh lagi merasa paling hebat, terutama dalam urusan agama,” tegasnya.


Ning Lia juga menekankan pentingnya mengamalkan prinsip Islam rahmatan lil alamin sebagaimana dicontohkan Gus Dur. Menurutnya, keberagamaan sejatinya menjadi jalan untuk menebar kebaikan dan kedamaian bagi seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang.


Menanggapi tema acara Meneladani Etika Demokrasi Gus Dur, Ning Lia memandang demokrasi harus dijalankan secara holistik, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.


“Etika demokrasi ala Gus Dur tidak boleh dipahami secara sempit atau kotak-kotak. Demokrasi harus dimaknai sebagai bagian dari kehidupan bernegara, sehingga politik apa pun tetap bermuara pada kepentingan Indonesia, tanpa chauvinisme sempit,” jelasnya.


Haul ke-16 Gus Dur ini turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur Imam Jazuli, perwakilan Pemerintah Kota Surabaya Arif Budiarto, Ketua DPW Barikade Gus Dur Jawa Timur Ahmad Arizal, Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur Sudarsono Rahman, Direktur Eksekutif ARCI Baihaki Sirajt, Kepala Kementerian Agama Kota Surabaya Dr. H. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy., serta para kiai, aktivis masyarakat sipil, dan tokoh lintas agama.


Peringatan haul tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenang sosok Gus Dur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan etika demokrasi yang dinilai semakin relevan dalam menghadapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. (Had) 

Bagikan:

Komentar