![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat berkunjung ke RS Menur, Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai bahwa kasus bullying saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan persoalan lain seperti kecanduan dunia digital, konflik keluarga, serta lemahnya pendidikan karakter sejak usia dini.
“Kasus bullying hari ini tidak lagi bersifat sporadis. Banyak terjadi di lingkungan terdekat anak, bahkan di tempat yang selama ini dianggap aman seperti rumah dan pesantren,” ujar senator muda yang akrab disapa Ning Lia, Kamis (15/1/2026).
Hal tersebut disampaikan Lia saat melakukan kunjungan ke RS Menur Surabaya. Ia mengungkapkan, meningkatnya laporan kasus perundungan hingga pelanggaran kecil seperti pencurian di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa persoalan mental dan karakter anak semakin kompleks dan tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Banyak sekali kasus yang muncul, mulai dari bullying sampai pencurian kecil di pesantren atau lingkungan rumah. Ini menandakan masalahnya semakin luas dan perlu penanganan bersama,” tegasnya.
Menurut Ning Lia, pembentukan mental dan karakter anak bukan semata tanggung jawab sekolah, melainkan membutuhkan peran aktif keluarga sebagai lingkungan utama tumbuh kembang anak.
“Mendidik anak itu harus dua arah. Orang tua perlu memastikan anak tidak menjadi pelaku perundungan, tetapi juga tidak menjadi korban,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan bullying harus dimulai dari penguatan mental anak sejak dini, dengan menanamkan keberanian, ketegasan, serta ketangguhan dalam menghadapi kehidupan nyata.
“Anak harus dibekali mental yang kuat agar tidak mudah menjadi objek perundungan. Jangan sampai mereka terlalu larut dalam dunia maya dan kehilangan fokus pada kehidupan nyata,” tambahnya.
Ning Lia juga menyoroti kecanduan game online sebagai pemicu baru gangguan belajar hingga depresi ringan pada anak dan remaja. Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada dunia digital membuat anak rentan mengalami masalah psikologis dan sosial.
“Banyak gangguan fungsi belajar muncul karena anak lebih tenggelam di dunia maya dibanding dunia nyata. Ini membuat mereka semakin rentan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ning Lia mengapresiasi hadirnya layanan kesehatan mental yang semakin ramah dan mudah diakses di Jawa Timur. Ia menilai, fasilitas kesehatan yang tidak menghakimi menjadi ruang aman bagi anak dan orang tua untuk mencari solusi.
“Rumah sakit hari ini hadir dengan sabar dan niat membantu, tanpa stigma. Ini sangat penting karena banyak orang tua sebenarnya bingung dan kelelahan, tetapi tidak tahu harus ke mana mencari bantuan,” ungkapnya.
Ia juga menyebut bahwa biaya layanan kesehatan mental kini semakin terjangkau dibandingkan sebelumnya, sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut untuk berkonsultasi.
“Sekarang biayanya lebih manusiawi dan fasilitasnya jauh lebih lengkap,” tambahnya.
Lebih jauh, Ning Lia mendorong pentingnya edukasi pra-nikah sebagai upaya preventif jangka panjang. Menurutnya, kesiapan menjadi orang tua tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga kesiapan mental dan emosional dalam mengasuh anak.
“Kita perlu menyiapkan calon orang tua, bukan hanya soal pernikahan, tetapi kesiapan mental dalam membesarkan anak. Jika ini dilakukan, banyak masalah bisa dicegah sejak awal,” tegasnya.
Ning Lia berharap sinergi antara keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan mental dapat terus diperkuat agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berdaya saing, dan berakhlak baik. (Red)


Komentar