|
Menu Close Menu

Gubernur Khofifah dan Menko Polkam Hadiri Rakernas Pergunu–JKSN, Tegaskan Peran Kyai-Santri sebagai Penyejuk Bangsa

Minggu, 15 Februari 2026 | 15.17 WIB

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama Menko Polkam RI saat hadir dalam acara Rakernas Pergunu dan JKSN di Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN), sekaligus peresmian Kantor Pusat JKSN di Surabaya, Sabtu (14/2/2026).


Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Djamari Chaniago, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra, serta Wakil Wali Kota Surabaya Armuji. Forum ini juga mempertemukan alim ulama dan tokoh pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.


Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakernas serta peresmian Kantor Pusat JKSN. Ia berharap, keberadaan JKSN dapat menjadi rumah besar bagi jaringan kyai dan santri yang berperan sebagai penyejuk kehidupan berbangsa. 


“Ini luar biasa. Jaringan santri dan kyai Indonesia diharapkan menjadi rumah besar yang menyejukkan. Para ulama selalu menjadi pendamai dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan,” ujarnya.


Menurut Khofifah, cita-cita sebagai penyejuk bangsa harus dimulai dari komitmen bersama untuk menghadirkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara wawasan global dan kearifan lokal dalam membangun kebijakan.


“Dari sisi pikiran kita harus memiliki global mindset, tetapi tetap berpijak pada local wisdom. Semua itu mesti dibangun di atas karakter akhlakul karimah yang menjadi pilar penguat negara,” tuturnya.


Kepada para ulama dari luar Jawa Timur, Khofifah juga menyampaikan selamat datang di Bumi Majapahit, yang dikenal sebagai tempat lahirnya semangat Bhinneka Tunggal Ika.


“Semoga pertemuan ini semakin mengukuhkan JKSN sebagai rumah besar yang menyejukkan dan mempererat persatuan,” katanya.


Sementara itu, Menko Polkam Djamari Chaniago menyoroti peran historis santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengingatkan kembali peran Hasyim Asy'ari dalam menggerakkan perlawanan yang memicu peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.


“Inilah yang kita peringati setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semangat itu lahir dari Jawa Timur dan harus terus kita kobarkan untuk pengabdian kepada bangsa,” ujarnya.


Ketua Umum JKSN yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Asep Saifuddin Chalim, menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam sejarah pendidikan dan perjuangan nasional.


Pondok pesantren telah hadir lebih dahulu sebagai lembaga pendidikan di Indonesia dan menjadi sentral perjuangan melawan penjajah,” katanya.


Ia menambahkan, lahirnya organisasi ulama berangkat dari komitmen menjaga persatuan dan mengembangkan paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang moderat serta inklusif.


“Orientasi kita hari ini bukan hanya menjaga kemerdekaan, tetapi memastikan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan sebagaimana cita-cita luhur kemerdekaan,” tuturnya.


Rakernas Pergunu dan JKSN di Surabaya ini diharapkan menjadi momentum penguatan konsolidasi ulama dan santri dalam memperkuat karakter kebangsaan, menjaga persatuan, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional. (Red) 

Bagikan:

Komentar