|
Menu Close Menu

Patahkan Mitos Mahasiswa Aktivis, Ketua GMNI Surabaya Lulus Tepat Waktu dan Raih Gelar Sarjana Teknik

Selasa, 17 Februari 2026 | 12.46 WIB

Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., Ketua DPC GMNI Surabaya Raya saat wisuda ke-132 di Untag Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Stigma bahwa mahasiswa aktivis sulit lulus tepat waktu dan lemah secara akademik mulai terpatahkan. Hal itu dibuktikan oleh Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., lulusan Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang juga menjabat Ketua DPC GMNI Surabaya Raya.


Perempuan yang akrab disapa Kadek itu resmi menyandang gelar Sarjana Teknik dalam Wisuda ke-132 Untag Surabaya pada Minggu (15/2/2026). Keberhasilannya menjadi bukti bahwa aktivisme dan prestasi akademik dapat berjalan beriringan.


Bagi Kadek, organisasi bukan penghambat studi, melainkan ruang pembentukan karakter. Ia menilai pengalaman berorganisasi justru memperkaya kapasitas intelektual dan sosial mahasiswa.


“Bagi saya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau berdebat, melainkan ruang pembentukan karakter. Di dalamnya, mahasiswa belajar memimpin dengan bijaksana dan mengasah kepekaan sosial,” ujarnya.


Perjalanan aktivismenya dimulai sejak 2021. Selain fokus pada perkuliahan Teknik Industri, ia aktif di berbagai organisasi kampus dan pergerakan. Pada 2023, Kadek bahkan mengemban empat tanggung jawab sekaligus, mulai dari Bendahara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri hingga peran di Unit Kegiatan Mahasiswa Kebangsaan.


Puncaknya, ia terpilih sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya periode 2025–2027 melalui Konfercab XXIV. Jabatan tersebut tidak menghalanginya menyelesaikan studi tepat waktu.


Di tengah padatnya aktivitas organisasi, Kadek juga menuntaskan program magang di PT Bogasari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya pada 2024. Menurutnya, kunci utama adalah disiplin dan manajemen waktu.


“Pengalaman di luar ruang kelas justru memberikan pembelajaran menyeluruh yang melengkapi pengetahuan akademik. Kita diajak mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.


Kadek memahami kekhawatiran sebagian orang tua terhadap anak yang terlalu aktif berorganisasi. Namun ia menegaskan, masa kuliah adalah fase emas pembentukan jati diri.


Kemampuan public speaking, kepemimpinan, hingga membangun jejaring sosial, menurutnya, menjadi bekal penting yang tak sepenuhnya didapat dari ruang kuliah.


Sebagai kader GMNI yang berpegang pada ideologi Marhaenisme, Kadek berencana melanjutkan studi ke jenjang magister. Ia bercita-cita menjadi dosen agar dapat terus menyuarakan keberpihakan pada rakyat melalui jalur akademik.


“Marhaenisme bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi komitmen untuk mengangkat derajat rakyat kecil. Perjuangan itu harus dilanjutkan melalui kontribusi nyata, termasuk di ranah intelektual,” tegasnya.


Ia pun berpesan kepada mahasiswa di Surabaya dan seluruh Indonesia agar tidak takut berproses. Menurutnya, aktivis yang mampu mengelola waktu dengan baik justru akan memiliki mental tangguh dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun pengabdian sosial.


Keberhasilan Kadek menjadi simbol bahwa aktivisme kampus bukan alasan untuk kuliah molor, melainkan jalan membangun integritas, kapasitas, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. (Red) 

Bagikan:

Komentar