![]() |
| Foto: Terlihat pengunjung pasar murah dipadati ASN di Bangkalan. Jum'at (27/2/2026) |
Sejak pagi, kawasan pendopo dipadati pengunjung. Namun pantauan di lapangan, menunjukkan mayoritas yang hadir merupakan ASN beserta keluarga. Sejumlah pegawai terlihat mengabadikan momen sebagai bukti kehadiran, memunculkan kesan bahwa absensi menjadi daya tarik tersendiri.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bangkalan, Ismed Efendi, menegaskan tidak ada instruksi khusus agar ASN melakukan presensi di lokasi kegiatan. Meski demikian, ia membenarkan adanya kelonggaran bagi ASN yang hadir.
“Bukan imbauan untuk absen di lokasi. Tetapi bagi ASN yang hadir boleh melakukan presensi di lokasi kegiatan pangan murah,” ujarnya.
Pernyataan itu memicu kritik keras dari anggota Komisi II DPRD Bangkalan, Samsol Arif Marla. Ia menilai kebijakan tersebut secara tidak langsung membuka ruang mobilisasi terselubung demi menciptakan kesan ramai.
“Secara redaksi memang tidak mewajibkan. Tapi ketika presensi difasilitasi di lokasi kegiatan, itu sinyal yang sangat jelas. Ini mobilisasi halus agar kegiatan terlihat penuh,” tegas Samsol.
Menurutnya, jika keramaian pasar murah lebih banyak ditopang ASN yang hadir pada jam kerja, maka orientasi program patut dipertanyakan.
“Pasar murah itu untuk masyarakat kecil yang terdampak lonjakan harga. Kalau yang dikejar hanya tampilan ramai dan foto dokumentasi, ini sudah bergeser menjadi panggung pencitraan,” katanya.
Sorotan semakin tajam karena komoditas yang paling diburu cabai rawit dan cabai merah habis sekitar pukul 09.00 WIB. Padahal dua bahan tersebut tengah melonjak di pasaran dan menjadi alasan utama warga datang lebih awal.
Risma, salah satu pengunjung, mengaku kecewa karena tak kebagian cabai murah. “Kami senang ada pasar murah karena harga kebutuhan dapur sekarang berat. Tapi kenapa masih pagi sudah habis? Stoknya memang terbatas atau yang beli membludak?” ujarnya.
Samsol menilai habisnya stok dalam waktu singkat menunjukkan lemahnya perencanaan distribusi.
“Kalau benar ingin membantu, komoditas strategis harus dipastikan cukup. Jangan sampai masyarakat datang dengan harapan, lalu pulang kecewa. Itu bukan solusi, itu menambah kekecewaan publik,” tandasnya.
Ia mengingatkan, program pro-rakyat seharusnya berorientasi pada dampak nyata, bukan sekadar keramaian sesaat. Menurutnya, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar pasar murah benar-benar memberi manfaat, bukan sekadar menjadi etalase kegiatan pemerintah.
“Rakyat butuh harga yang benar-benar lebih murah dan stok yang memadai. Jangan sampai program bagus rusak karena cara pelaksanaannya keliru,” pungkasnya. (Syaiful)


Komentar