|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Lia Istifhama Sebut Koperasi Desa Merah Putih Jadi Instrumen Strategis Ketahanan Bangsa

Selasa, 03 Maret 2026 | 00.03 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Panasnya Geopolitik Kian Meluas. Kalimat itu tampak nyata pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, tokoh Sentral Republik Islam Iran, dalam serangan udara yang dilakukan oleh pasukan militer Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran, 1 Maret 2026.


Situasi tersebut berdampak banyak hal, termasuk berhentinya penerbangan udara di sejumlah negara Timur Tengah saat ini. Atensi publik pun tak terbantahkan, termasuk politisi Perempuan yang kerap berbicara lantang menyikapi beragam isu terkini, Dr. Lia Istifhama.


“Hal pertama, tentu ini keprihatinan bersama, juga sekaligus kedukaan karena bagaimanapun kita harus menghormati semua agama, termasuk pemimpin agama, dan beliau (Ali Khamenei), adalah salah satu identitas ulama besar di era kontemporer,” jelasnya, 3/3/26.

 

Senator Perempuan non petahana dengan suara terbesar nasional tersebut juga menambahkan tentang potret geopolitik global peradaban dunia. Menurutnya, memanasnya situasi geopolitik global bukan fenomena baru dalam perjalanan peradaban dunia. 


“Peradaban dunia selalu menyajikan keragaman, heteregonitas dan segala dinamika sosial yang memang sangat memungkinkan menjadi ruang-ruang konflik, perdebatan, hingga potensi peperangan. Ini semua merupakan keniscayaan dan konsekuensi dari perkembangan zaman yang selalu diwarnai perbedaan kepentingan antar bangsa,” jelasnya, 3/3/26.


Anggota DPD RI asal Jawa Timur tersebut kemudian menyampaikan pentingnya negara hadir bukan sebagai “penonton: situasi global, melainkan bagaimana Indonesia memperkuat fondasi internal agar tetap aman dan berdaulat. Ia menekankan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemandirian ekonomi yang tumbuh dari akar masyarakat.


“Situasi global yang bergejolak adalah bagian dari dinamika peradaban sejak dahulu. Yang harus menjadi fokus kita adalah membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa ini tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal,” ujarnya.


Lia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi berbasis kerakyatan menjadi kunci utama dalam menciptakan ketahanan nasional yang berkelanjutan. Peran UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dinilai mampu membangun struktur kesejahteraan yang dimulai dari tingkat keluarga.


Ketika ekonomi masyarakat di lapisan bawah kuat, stabilitas sosial akan ikut terjaga. Orang tua memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pendidikan anak, menjaga kesehatan mental keluarga, serta membangun kualitas hidup yang lebih baik. Dari unit terkecil inilah, kata dia, ketahanan nasional terbentuk secara alami.


Ia menilai konsep Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu instrumen strategis yang mampu menghubungkan kearifan lokal dengan sistem ekonomi produktif. Koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan yang memperkuat solidaritas dan kemandirian masyarakat.


“Ketika ekonomi keluarga kuat, maka bangsa ini juga kuat. Koperasi desa menjadi fondasi penting untuk memastikan masyarakat produktif, mandiri, dan memiliki daya tahan menghadapi tekanan global,” ungkap, Lia, pada Senin (2/3).


Selain ekonomi, Lia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor pertahanan negara. Ia menyebut langkah Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan militer hingga ke tingkat wilayah sebagai strategi yang sejalan dengan konsep ketahanan nasional berbasis lokal.


Baginya, kekuatan pertahanan tidak hanya bertumpu pada pusat, tetapi juga harus tumbuh dari daerah dengan melibatkan potensi lokal. Sinergi antara pertahanan militer dan kemandirian ekonomi akan menciptakan sistem perlindungan negara yang lebih komprehensif.


“Penguatan di tingkat wilayah menunjukkan bahwa pertahanan negara dibangun secara menyeluruh. Ketika ekonomi rakyat kuat dan sistem pertahanan kokoh, maka Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi dalam menghadapi dinamika global,” tegasnya.


Lia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menghindari dampak dari situasi global. Namun, bangsa ini memiliki modal besar berupa kearifan lokal, kekuatan sosial, dan semangat gotong royong yang dapat menjadi tameng menghadapi berbagai krisis.


Dengan memperkuat koperasi desa, UMKM, serta pertahanan wilayah, ia optimistis Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.


“Ketahanan bangsa bukan hanya soal menghadapi ancaman dari luar, tetapi memastikan rakyat hidup sejahtera, mandiri, dan memiliki rasa aman dalam segala aspek kehidupan,” tuturnya.

Bagikan:

Komentar