![]() |
| Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam dan Direktur Utama IBS PKMKK. (Dok/Istimewa). |
Lensajatim.id, Pamekasan-Puasa dalam Islam kerap dipersepsikan secara sempit sebagai praktik asketis yang berjarak dari dunia kerja dan produktivitas. Di ruang publik modern, bahkan muncul anggapan bahwa puasa menurunkan kinerja, melemahkan fokus, dan memperlambat laju ekonomi.
“Namun pembacaan semacam ini mengabaikan dimensi filosofis dari puasa sebagai institusi etika yang justru merekonstruksi makna produktivitas,” ujar Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura.
Dalam Islam, terang Direktur Utama IBS PKMKK itu, puasa tidak dimaksudkan untuk melumpuhkan kerja, melainkan untuk mendidik kerja agar beradab, produktif tanpa rakus, disiplin tanpa eksploitatif, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Dijelaskan, etos kerja selalu berhubungan dengan sistem nilai yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai religius akan membentuk rasionalitas kerja dan akumulasi ekonomi. Dalam konteks ini, puasa Ramadan membentuk etika kerja yang berbeda orientasi. Jika modernitas kapitalistik menekankan produktivitas sebagai akumulasi output dan efisiensi tanpa batas, puasa menghadirkan logika self-limitation, yakni pembatasan diri sebagai fondasi etos kerja.
Selama Ramadan, ritme kerja memang berubah, tetapi bukan berarti kerja kehilangan makna, ia justru diorientasikan ulang dari sekadar hasil menuju nilai.
Data sosial menunjukkan bahwa di banyak masyarakat Muslim, aktivitas ekonomi tetap berjalan selama Ramadan, bahkan dalam sektor tertentu meningkat, seperti layanan publik dan ekonomi kreatif.
Hal itu menandakan bahwa puasa tidak identik dengan kemalasan struktural. Yang berubah hanya pola, yakni jam kerja menyesuaikan, intensitas spiritual meningkat, dan relasi sosial di tempat kerja cenderung lebih empatik.
Puasa berfungsi sebagai mekanisme moral kolektif yang menata ulang norma kerja, menekankan solidaritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Disamping itu, puasa memiliki implikasi signifikan terhadap pengelolaan diri (self-regulation), salah satunya akan memiliki kemampuan menunda gratifikasi berkorelasi dengan kinerja jangka panjang, ketahanan mental, dan pengambilan keputusan yang lebih etis.
Puasa melatih penundaan ini secara sistematis, lapar dan haus dihadapi dengan kesadaran tujuan. Dalam Islam, latihan ini dikenal sebagai istilah tazkiyat al-nafs, pembersihan jiwa dari dominasi impuls, yakni pengendalian nafsu merupakan prasyarat kebijaksanaan dan kerja yang bermakna.
Namun demikian, akan ada potensi kelelahan jika puasa dipahami secara keliru. Artinya ketika organisasi atau pimpinan tidak menyesuaikan beban kerja dan mengabaikan kesejahteraan pekerja, puasa akan dapat menjadi faktor stres.
Di sinilah etika Islam berperan, puasa bukan legitimasi untuk menurunkan kualitas kerja atau menambah beban secara sewenang-wenang, melainkan ajakan untuk mengelola energi, waktu, dan emosi secara bijak.
Produktivitas dalam perspektif Islam tidak diukur semata oleh kuantitas output, tetapi oleh kualitas niat, proses, dan dampak sosial.
Puasa dalam perspektif berbeda merupakan kurikulum pembentukan etos kerja beradab. Islam memandang kerja (‘amal) sebagai bagian integral dari ibadah. Banyak Hadis Nabi yang menegaskan keutamaan bekerja dengan tangan sendiri dan mengecam kemalasan yang merugikan orang lain. Ramadan, dengan latihan disiplin waktunya seperti sahur, imsak, berbuka, tadarus dan tarawih, akan mendidik manajemen waktu dan komitmen.
“Konsep ini sebenarnya menjelaskan bagaimana nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab ditransmisikan melalui praktik puasa dalam keluarga, sekolah, dan pesantren,” ujarnya.
Secara empiris, studi-studi kontemporer menunjukkan bahwa praktik spiritual yang terintegrasi, seperti puasa, dapat meningkatkan makna kerja (work meaningfulness) dan etika organisasi. Pekerja yang memaknai pekerjaannya sebagai ibadah cenderung memiliki komitmen moral lebih tinggi, meskipun tantangan fisik meningkat.
Namun, integrasi ini menuntut kebijakan organisasi yang adaptif, fleksibilitas jam kerja, budaya empati, dan kepemimpinan yang memberi teladan.
Puasa juga mengandung kritik ontologis terhadap produktivitas yang terlepas dari etika. Ia menegaskan bahwa manusia bukan mesin produksi, melainkan subjek bermoral.
Produktivitas yang sejati bukanlah bekerja tanpa henti, melainkan bekerja dengan kesadaran tujuan. Dalam filsafat Islam, kerja bernilai ketika ia menjaga martabat manusia, melayani kepentingan umum, dan mendekatkan pelakunya pada Allah.
Pada akhirnya, puasa dan etos kerja bertemu pada satu titik, yakni pembentukan manusia produktif yang beradab. Puasa bukan penghalang produktivitas, melainkan sarana reinterpretasi produktivitas itu sendiri.
“Ramadan mengajarkan bahwa bekerja adalah ibadah ketika dijalankan dengan disiplin, kejujuran, dan kepedulian sosial. Di tengah dunia kerja yang kerap rakus dan eksploitatif, puasa menghadirkan etos alternatif, bekerja secukupnya, berkarya sebaik-baiknya, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama,” tukasnya. (Red)


Komentar