|
Menu Close Menu

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim–DKI, Transaksi Tembus Rp5,7 Triliun

Selasa, 03 Maret 2026 | 00.04 WIB

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin misi dagang Jatim-DKI Jakarta di Ballroom Menara Peninsula Hotel Jakarta. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali mencatatkan rekor transaksi dalam gelaran Misi Dagang dan Investasi bersama DKI Jakarta. Kegiatan yang dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini membukukan komitmen transaksi final sebesar Rp5.744.955.800.000.


Angka tersebut menjadi capaian tertinggi sepanjang penyelenggaraan Misi Dagang Jawa Timur, baik di tingkat nasional maupun internasional. Nilainya bahkan melampaui rekor sebelumnya saat Misi Dagang Jatim–Jakarta tahun 2021 yang tercatat Rp750,44 miliar.


Kegiatan yang digelar di Ballroom Menara Peninsula Hotel Jakarta itu mempertemukan pelaku usaha dari dua provinsi dengan skema Government to Business (G to B) dan Business to Business (B to B). Hingga penutupan pukul 17.00 WIB, total transaksi berhasil menembus angka Rp5,7 triliun.


“Di antara 50 perjalanan misi dagang yang sudah kami lakukan, ini yang tertinggi,” ujar Khofifah.


Dari total transaksi, Jawa Timur mencatat penjualan ke Jakarta sebesar Rp5,615 triliun, sedangkan pembelian dari Jakarta mencapai Rp129,6 miliar.


Komoditas yang dipasok Jawa Timur meliputi daging unggas, anak ayam, ternak sapi, biji kopi, fillet dori, aneka olahan seafood dan daging, susu, telur ayam, gula kristal putih hingga pakan ikan. Selain sektor pangan, produk industri dan UMKM juga mendominasi, seperti produk fashion, batik tulis, bumbu dapur, rokok, karpet, kayu gergajian, custom resin, ikan hias, hingga cerutu.


Sementara komoditas utama yang dibeli Jawa Timur dari Jakarta adalah daging sapi.


Khofifah menilai sinergi dua provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pertama dan kedua di Indonesia ini akan memberi efek berganda bagi penguatan ekonomi nasional.


“Jakarta adalah pembuka pintu market yang lebih luas, tidak hanya domestik tapi juga global. Karena itu, kemitraan pelaku usaha harus terus dibangun,” ujarnya optimistis.


Menurut Khofifah, misi dagang menjadi instrumen strategis untuk memperlancar arus informasi barang dan pasar, sekaligus memperbesar peluang kesepakatan bisnis. Selain memperluas pasar, langkah ini juga diarahkan untuk mendukung substitusi impor bahan baku dan memperkuat industri dalam negeri.


Data perdagangan antarwilayah tahun 2024 menunjukkan total nilai perdagangan Jawa Timur dengan DKI Jakarta mencapai Rp89,21 triliun. Dari angka tersebut, nilai pembelian Jatim dari Jakarta sebesar Rp75,95 triliun, sementara penjualan Jatim ke Jakarta Rp14,16 triliun.


Penguatan perdagangan antarwilayah ini menjadi bagian dari strategi besar menjaga ketahanan ekonomi daerah. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat 5,33 persen (c-to-c) dan 5,85 persen (y-on-y), lebih tinggi dari rata-rata nasional. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku mencapai Rp3.403,17 triliun dengan kontribusi 14,40 persen terhadap PDB nasional.


Sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 31,32 persen, disusul perdagangan 18,55 persen dan pertanian 10,74 persen.


Dalam misi dagang kali ini, dilakukan penandatanganan 10 komitmen transaksi terbesar. Di antaranya kerja sama Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jatim dengan mitra Jakarta senilai Rp2,64 triliun per tahun, GAPERO Jatim dengan AMO Jakarta West Rp1,068 triliun per tahun, serta PT Sinergi Gula Nusantara dengan PT Adikarya Gemilang sebesar Rp557 miliar per tahun.


Selain transaksi bisnis, ditandatangani pula perjanjian kerja sama antarorganisasi usaha, seperti KADIN Jatim dengan KADIN DKI Jakarta, HIPMI Jatim dengan HIPMI DKI Jakarta, IWAPI Jatim dengan IWAPI DKI Jakarta, dan GEKRAFS Jatim dengan GEKRAFS DKI Jakarta.


Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto menyambut baik capaian tersebut. Ia menilai kolaborasi dua daerah dengan kekuatan produksi dan konsumsi terbesar ini akan memperkuat pasar domestik serta memperpendek rantai pasok.


“DKI Jakarta sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dan Jawa Timur sebagai penggerak produksi nasional akan memberi manfaat besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.


Sejak 2019 hingga 2026, Jawa Timur telah menggelar 49 misi dagang dalam negeri dengan total komitmen transaksi Rp30,50 triliun dari 2.153 transaksi. Sementara pada periode 2022–2025, enam misi dagang luar negeri berhasil mencatat potensi transaksi Rp5,896 triliun.


Menutup kegiatan, Khofifah kembali menegaskan posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.


“Kalau mencari daging ayam, telur ayam, dan ikan dori, belanjalah di Jawa Timur,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar