![]() |
| Achmad Muhlis, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura. (Dok/Istimewa). |
Lensajatim.id, Pamekasan- Dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam, puasa tidak semata-mata dipahami sebagai praktik ritual yang bersifat individual, melainkan sebagai mekanisme pembentukan kesadaran moral dan sosial yang memiliki implikasi luas terhadap struktur kehidupan kolektif.
“Puasa kaum saleh, sebagaimana dipahami dalam tradisi etika Islam, bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan latihan totalitas diri untuk menahan seluruh potensi anggota tubuh dari keterlibatan dalam dosa,” ujar Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura Achmad Muhlis.
Dijelaskan, penglihatan dijaga dari hal-hal yang merusak kesucian batin, pendengaran disaring dari suara yang menumbuhkan kebencian dan prasangka, lisan dikendalikan dari ujaran yang melukai, dan tubuh dilatih untuk tidak terjebak dalam kerakusan, bahkan pada saat berbuka.
Lebih jauh, ujar Ketua Senat UIN Madura itu, hati ditempatkan dalam kondisi eksistensial yang unik: berada di antara rasa takut dan harapan kepada Allah.
Dalam kerangka sosiologis, disiplin semacam ini membentuk habitus moral yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menciptakan stabilitas sosial.
Puasa kaum saleh melatih kontrol diri yang pada akhirnya membangun integritas sosial. Individu yang mampu menahan diri dari dorongan internal akan lebih mampu menahan diri dari tindakan destruktif dalam ruang publik.
“Dimensi ini menjadi semakin signifikan ketika dihubungkan dengan konteks peperangan dalam sejarah Islam. Peperangan tidak hanya dipahami sebagai konflik fisik, tetapi juga sebagai ujian moral dan spiritual,” ujarnya.
Dalam banyak peristiwa sejarah, perang terjadi pada bulan Ramadan—bulan yang justru identik dengan puasa dan pengendalian diri. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak semata ditentukan oleh kekuatan material, tetapi juga oleh kekuatan spiritual dan etika kolektif.
Puasa kaum saleh menciptakan kesiapan batin yang memungkinkan individu menghadapi konflik tanpa kehilangan orientasi moral. Menahan pandangan melatih fokus, menahan pendengaran melatih ketahanan terhadap provokasi, menahan lisan melatih komunikasi yang tidak destruktif, dan menahan nafsu makan melatih kesederhanaan serta solidaritas sosial.
Dalam konteks peperangan, semua ini berkontribusi pada pembentukan pasukan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga stabil secara psikologis dan etis.
Lebih dari itu, hati yang berada di antara rasa takut dan harapan menciptakan keseimbangan eksistensial. Rasa takut mencegah kesombongan dan kekerasan yang berlebihan, sementara harapan mendorong keberanian dan keteguhan. Dalam perspektif pendidikan Islam, kondisi batin ini merupakan fondasi bagi tindakan yang adil, bahkan dalam situasi konflik.
Dengan demikian, puasa kaum saleh dapat dipahami sebagai bentuk latihan sosial yang mempersiapkan individu untuk menghadapi berbagai bentuk perjuangan, baik internal maupun eksternal, ia membentuk manusia yang tidak hanya mampu menahan diri dalam kondisi kelaparan, tetapi juga mampu menjaga integritas dalam situasi konflik.
Dalam konteks modern, makna ini tetap relevan. Peperangan hari ini tidak selalu berbentuk konflik bersenjata, tetapi dapat berupa pertarungan nilai, ideologi, dan kepentingan. Puasa kaum shalih menjadi simbol disiplin moral yang memungkinkan individu dan masyarakat menghadapi konflik tanpa kehilangan kemanusiaan.
Pada akhirnya, puasa bukan hanya ibadah privat, tetapi juga pendidikan sosial yang membentuk etika perjuangan. Ia melatih manusia untuk memenangkan pertempuran tanpa harus kehilangan jiwa, serta untuk mempertahankan nilai bahkan di tengah konflik.
“Inilah dimensi terdalam puasa kaum shalih: menjadikan disiplin spiritual sebagai fondasi bagi kemenangan sosial yang bermartabat,” tegas Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) itu. (Red)


Komentar