|
Menu Close Menu

Gus Heri Raih Gelar Doktor Unair

Senin, 29 Juni 2026 | 10.37 WIB

Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.SM atau yang akrab disapa Gus Heri saat Ujian Terbuka Promosi Doktor di Unair, Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.SM atau yang akrab disapa Gus Heri resmi meraih gelar doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair). Disertasinya mengenai suksesi kepemimpinan pesantren mendapat apresiasi luas dari kalangan akademisi maupun pesantren karena dinilai menawarkan solusi atas tantangan regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan.


Salah satu akademisi yang hadir dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Dr. K.H. Rangga Sa'adillah, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sekaligus bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Kebondalem Surabaya, menilai penelitian tersebut mampu menjawab kegelisahan banyak pesantren dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan.


Menurut Gus Rangga, tantangan terbesar pesantren yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun bukan hanya mempertahankan jumlah santri atau aset kelembagaan. Yang lebih penting adalah memastikan proses kaderisasi dan suksesi kepemimpinan berjalan sehat agar nilai, tradisi, dan amanah pesantren tetap terjaga lintas generasi.


"Penelitian ini menjawab kegelisahan yang selama ini dirasakan banyak pesantren. Kita belajar dari sejarah bahwa tidak sedikit pesantren besar yang pernah menjadi pusat keilmuan, tetapi kemudian hanya tinggal dikenang karena proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinannya tidak mampu menjaga keberlanjutan lembaga. Disertasi Dr. Heri menghadirkan perspektif akademik yang sangat relevan untuk menjawab persoalan tersebut," ujar Gus Rangga, Minggu (28/06/2026). 


Ia menilai kontribusi terbesar disertasi tersebut adalah lahirnya Merit–Value–Legitimacy Succession Model, yakni model suksesi kepemimpinan yang tidak hanya mempertimbangkan hubungan genealogis, tetapi juga mengedepankan kompetensi, internalisasi nilai-nilai pesantren, serta legitimasi sosial sebagai dasar utama menentukan pemimpin berikutnya.


Menurutnya, model tersebut menghadirkan perspektif baru bahwa keberhasilan suksesi tidak ditentukan oleh kedekatan garis keturunan, melainkan oleh kesiapan memikul amanah, kapasitas memimpin, kemampuan menjaga nilai-nilai pesantren, serta legitimasi yang diperoleh dari keluarga, pengurus, dan masyarakat pesantren.


Gus Rangga juga mengaku terkesan dengan salah satu temuan lapangan dalam penelitian tersebut. Pada salah satu pesantren yang menjadi objek penelitian, terdapat calon penerus yang memilih mengundurkan diri dari proses suksesi karena merasa belum layak memikul amanah sebagai pengasuh.


"Temuan ini sangat menarik. Di salah satu pesantren yang diteliti, ada calon penerus yang memilih mundur karena merasa belum siap memikul amanah sebagai pengasuh. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di pesantren dipahami sebagai tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT, bukan jabatan yang harus diperebutkan. Nilai seperti inilah yang menjadi kekuatan utama pesantren," ungkapnya.


Ia menambahkan, tradisi tersebut selaras dengan nilai-nilai luhur dalam sejarah Islam yang menempatkan amanah, musyawarah, kapasitas, dan kemaslahatan sebagai prinsip utama dalam menjaga keberlanjutan kepemimpinan umat. Nilai-nilai itu kemudian diterjemahkan secara ilmiah oleh Dr. Heri melalui Merit–Value–Legitimacy Succession Model, sehingga menjadi konsep yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan dalam tata kelola organisasi berbasis nilai.


Bagi Gus Rangga, kekuatan utama disertasi tersebut terletak pada kemampuannya menjembatani khazanah nilai pesantren dengan pendekatan ilmu manajemen modern. Hasil penelitian ini dinilai tidak hanya memperkaya teori suksesi kepemimpinan, tetapi juga membuka ruang baru bagi kajian organisasi berbasis nilai (value-based organization) dan keberlanjutan kelembagaan (organizational sustainability).


"Disertasi ini tidak seharusnya berhenti sebagai karya akademik yang tersimpan di perpustakaan kampus. Penelitian ini layak didiseminasikan secara luas sebagai literasi strategis bagi pesantren, lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi, peneliti, maupun para pengambil kebijakan. Saya meyakini model yang ditawarkan Dr. Heri akan menjadi salah satu referensi penting dalam pengembangan kajian suksesi kepemimpinan pesantren dan praktik regenerasi kepemimpinan yang berorientasi pada keberlanjutan," tegasnya.


Disertasi berjudul "Model Proses Suksesi Kepemimpinan untuk Mendukung Keberlanjutan Pondok Pesantren: Studi Multiple-Case Study" tersebut berhasil dipertahankan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor FEB Unair pada Kamis (25/6/2026).


Penelitian itu menghasilkan Merit–Value–Legitimacy Succession Model, sebuah model konseptual yang menjelaskan bahwa keberlanjutan pesantren ditentukan oleh proses suksesi yang mampu mengintegrasikan merit (kompetensi), value (nilai-nilai pesantren), dan legitimacy (legitimasi sosial) dalam satu kesatuan proses regenerasi kepemimpinan.


Model tersebut diharapkan menjadi kontribusi ilmiah bagi pengembangan ilmu manajemen sekaligus menjadi referensi praktis bagi pesantren dan berbagai organisasi berbasis nilai dalam membangun kepemimpinan yang berkelanjutan. (Red) 

Bagikan:

Komentar