|
Menu Close Menu

Cerita Muhammad, Jurnalis yang Mengawal dari Dekat Muktamar ke-35 NU

Selasa, 01 September 2026 | 18.58 WIB

Muhammad (kaos hitam), Jurnalis saat liputan kegiatan Muktamar ke-35 NU di Jombang.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jombang- Perhelatan Muktamar ke,35 NU di Jombang, Jawa Timur, menghadirkan beragam cerita hangat dari para muktamirin dan jurnalis.

 

​Salah satunya datang dari Muhammad, wartawan Lampiran.id asal Pulau Bawean yang kini bermukim di Surabaya.


​Kehadirannya di arena permusyawaratan tertinggi NU tersebut merupakan wujud nyata kecintaan serta loyalitas kepada jam'iyah.


​Di sela tugas jurnalistiknya, perhatian Muhammad tersita pada pameran foto sejarah perjalanan para ulama pendiri NU.


​Deretan foto lawas era 1964 menampilkan dokumentasi bersejarah figur Habib Alwi Alhadad, KH Mahrus Aly, AH Nasution, KH Wahab Chasbullah, hingga KH Bisri Syansuri.


​"Saya meliput resmi sekaligus ingin belajar dari jejak para ulama. Foto,foto ini mengingatkan perjuangan NU menjaga NKRI dan agama," ungkap Muhammad, Senin (31/08/2026). 


​Tak sekadar menyimak rekam jejak lewat pameran, ia pun meluangkan waktu berziarah ke maqbarah Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan KH Abdul Wahab Chasbullah.


​"Di mana pun kita berada, di situ nilai perjuangan para kiai sepuh harus kita teladani," pungkasnya.


​Menariknya, di tengah hiruk-pikuk muktamar, lahir sebuah gagasan kultural yang spontan.


​Muhammad bersama rekan-rekannya yang berasal dari Situbondo (Ra Wahid), Madura (Gus Anas), Sidoarjo (Gus Towi)dan Lamongan (Fadlu) menginisiasi sebuah komunitas bernama Majlas Olah-olah.


​Komunitas ini dicetuskan pada Minggu (30/8/2026) pagi, tepat pukul 05.15 WIB.


​Momen kelahirannya bertempat di Warkop Inspirasi, yang berlokasi persis di samping area makam Mbah Wahab Chasbullah, kawasan Pesantren Tambakberas.


​Majlas Olah-olah dibentuk sebagai ruang kumpul santai untuk ngopi dan ngaji di mana pun kita berada dan merantau.


​Melalui perkumpulan ini, mereka menegaskan bahwa identitas, ruang silaturahmi, serta tradisi keilmuan ala NU akan terus dirawat, bahkan dari meja warung kopi sekalipun. (Red) 

Bagikan:

Komentar