![]() |
| Ipatus Suhroh menyiapkan minuman sinom homemade di rumahnya. (Dok/Riris) |
Usaha tersebut telah dijalankan selama kurang lebih enam bulan. Awalnya, Ipatus hanya mencoba membuat sinom dan memberikannya kepada keluarga untuk dicicipi. Respons positif dari keluarga kemudian mendorongnya untuk mulai menjual minuman tradisional tersebut.
“Awalnya hanya mencoba saja membuat, saya memberikan tester untuk keluarga dan mereka bilang enak. Dari situlah yang berawal iseng, ternyata alhamdulillah menjadi cuan tambahan,” ujar Ipatus, Selasa (1/9/2026).
Ia memilih sinom sebagai produk yang dijual karena proses pembuatannya relatif mudah. Selain itu, sinom juga dikenal sebagai minuman tradisional yang menyegarkan, terutama ketika disajikan dalam keadaan dingin.
“Sinom adalah minuman sehat tradisional dan segar saat diminum ketika dingin,” katanya.
Seluruh proses produksi masih dilakukan sendiri dari rumahnya di Kelurahan Bancaran, Kecamatan Bangkalan. Dalam membuat sinom, Ipatus menggunakan bahan-bahan seperti daun sinom, kunyit, dan asam jawa.
Meski menggunakan resep sinom pada umumnya, minuman buatannya mendapat respons positif dari para pembeli. Menurutnya, beberapa pelanggan menilai rasa sinom yang dibuatnya lebih enak dan segar.
Saat ini, Ipatus biasanya memproduksi sekitar 20 botol sinom yang dapat habis dalam waktu kurang lebih tiga hari. Minuman tersebut dikemas dalam botol berukuran 350 mililiter dan dijual dengan harga Rp5 ribu per botol.
Untuk pemasaran, Ipatus menjual produknya melalui WhatsApp dan media sosial. Ia juga menerima pesanan untuk berbagai kegiatan, seperti arisan dan pengajian.
“Biasanya ada yang memesan untuk arisan ibu-ibu komplek,” tuturnya.
Selain itu, ia menyediakan layanan pengantaran khusus untuk wilayah Bangkalan.
Namun, sebagai usaha yang masih tergolong baru, Ipatus mengaku masih menghadapi tantangan dalam memperkenalkan produknya kepada masyarakat, terutama karena belum banyak orang yang mengetahui rasa sinom buatannya.
“Penjualan biasanya karena saya masih baru, jadi orang belum begitu tahu dengan rasa,” ungkapnya.
Untuk memperkenalkan produknya, Ipatus memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Ke depan, ia juga berencana menambah jenis minuman tradisional yang dijual, yakni beras kencur.
Bagi Ipatus, usaha sinom homemade tersebut menjadi salah satu kegiatan produktif yang dapat memberikan tambahan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Alhamdulillah penghasilannya bisa dibuat tambah-tambah uang belanja,” katanya.
Ia berharap usaha yang dirintis dari rumah tersebut semakin dikenal masyarakat dan dapat menjadi ladang rezeki yang berkah bagi keluarganya.
“Semoga sinom homemade ini makin dikenal orang dan menjadi ladang rezeki yang berkah untuk keluarga,” pungkasnya. (Tik)


Komentar