|
Menu Close Menu

Jasa Pijat Tunanetra Raup Belasan Juta di Muktamar ke-35 NU, Ning Lia: Ini Berkah untuk Semua

Rabu, 02 September 2026 | 00.04 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat dalam acara Muktamar ke-35 NU di Jombang.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jombang— Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi ruang musyawarah dan silaturahmi ribuan warga Nahdliyin.


Di balik hiruk-pikuk agenda organisasi, perhelatan besar tersebut turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.


Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, melihat langsung geliat ekonomi warga selama Muktamar berlangsung.


Warung makan lebih ramai, pedagang mendapat pembeli, pelaku UMKM membuka lapak, hingga jasa-jasa sederhana ikut tumbuh mengikuti kebutuhan para peserta.


Bahkan, ketika malam semakin larut, kawasan Tambakberas belum benar-benar tidur.


Lampu-lampu warung masih menyala. Peserta muktamar masih berlalu-lalang. Pedagang tetap menunggu pembeli. Di sejumlah sudut kawasan, aktivitas ekonomi terus berlangsung hingga dini hari.


Bagi Ning Lia, kondisi tersebut menjadi salah satu sisi yang membuatnya terharu.


Menurutnya, keberadaan Muktamar NU tidak hanya menghadirkan perhelatan organisasi, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat sekitar.


“Yang membuat saya terharu, muktamar ini ternyata bukan hanya menjadi ruang silaturahmi dan musyawarah bagi warga Nahdliyin. Di luar arena, ada masyarakat yang ikut merasakan berkahnya. Ada yang berdagang, membuka jasa, bahkan teman-teman penyandang disabilitas juga mampu menangkap peluang ekonomi ini,” kata Ning Lia yang juga keponakan Gubernur Jatim Khofifah tersebut, Selasa (01/09/2026). 


Wakil Ketua PW Fatayat NU itu menyebut geliat ekonomi selama muktamar menunjukkan adanya multiplier effect bagi masyarakat lokal. 


“Ini yang saya sebut sebagai berkah muktamar. Ketika ribuan orang datang, tentu ada kebutuhan yang ikut tumbuh. Warung, UMKM, jasa transportasi, penginapan, sampai jasa pijat semuanya mendapatkan ruang. Masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari pergerakan ekonomi,” ujarnya.


Meski demikian, Ning Lia mengingatkan agar dampak ekonomi tersebut tidak serta-merta diterjemahkan menjadi angka total perputaran uang tanpa didukung data transaksi yang terukur.


“Kalau bicara angka total perputaran ekonomi tentu harus berdasarkan data. Tetapi cerita-cerita dari warga ini menunjukkan bahwa ada manfaat ekonomi yang nyata dan dirasakan langsung,” tegasnya.


Jasa Pijat Tunanetra Raup Belasan Juta


Salah satu kisah yang menarik perhatian Ning Lia adalah perjuangan Panji Perdana, warga Kediri yang merupakan penyandang tunanetra.


Bersama empat rekannya, Panji datang ke kawasan Muktamar NU bukan sekadar menjadi bagian dari keramaian. Mereka membuka jasa pijat sederhana dengan hanya menggelar tikar sebagai tempat bekerja.


Menariknya, layanan tersebut tidak mengenal waktu. Selama Muktamar berlangsung, Panji dan empat rekannya membuka jasa pijat selama 24 jam.


Ketika sebagian peserta mulai beristirahat pada malam hari, mereka justru tetap bersiaga.


Peserta yang kelelahan setelah mengikuti rangkaian kegiatan dan membutuhkan pijat dapat memanfaatkan jasa mereka.


Dalam sehari, Panji mengaku mampu melayani sekitar belasan orang.


“Dalam sehari bisa melayani sekitar belasan orang,” ujar Panji.


Dari usaha tersebut, Panji mengaku bersama empat rekannya memperoleh penghasilan hingga belasan juta rupiah selama Muktamar NU berlangsung.


Kisah tersebut membuat Ning Lia semakin melihat Muktamar dari perspektif masyarakat kecil.


“Ini luar biasa. Saya melihat sendiri bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa berkarya. Panji dan teman-temannya datang, bekerja, melayani orang dengan keterampilan yang mereka miliki, kemudian mendapatkan rezeki. Bagi saya, ini adalah contoh nyata bahwa berkah muktamar bisa dirasakan siapa saja yang mau bekerja dan mengambil peluang,” tutur Ning Lia.


Bagi Panji, muktamar menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan.


Pendapatan Warung Naik Lebih dari 100 Persen


Kisah serupa dirasakan Ahmad Syafi’i, pemilik Warung Lele Legend di Gang IV Pesantren Bahrul Ulum.


Sebelum muktamar, Syafi’i menyebut pendapatan hariannya berada di kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.


Selama muktamar, pendapatannya meningkat lebih dari 100 persen.


“Ini berkah Muktamar. Alhamdulillah, pendapatan warung naik lebih dari 100 persen,” ujar Syafi’i.


Geliat ekonomi tersebut semakin terlihat karena panitia Muktamar menyediakan sekitar 1.300 tenant dalam UMKM Expo dan Bazar Muktamar.


Ruang tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk kepada peserta dan pengunjung.


Ning Lia menilai pengalaman para pelaku usaha tersebut memperlihatkan bagaimana agenda berskala besar dapat menciptakan ruang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.


“Yang penting bagaimana momentum seperti ini juga bisa menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut tumbuh dan mendapatkan manfaat. Jangan sampai masyarakat sekitar hanya melihat keramaian, tetapi tidak ikut merasakan keberkahannya,” katanya.


Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan nilai ta'awun dan kepedulian sosial yang selama ini menjadi bagian dari tradisi Nahdlatul Ulama.


“Semoga berkah Muktamar tidak berhenti ketika acara selesai. Harapannya, jejaring ekonomi yang terbentuk selama muktamar bisa terus berlanjut. Pelaku UMKM mendapatkan pelanggan baru, masyarakat mendapatkan pengalaman, dan warga sekitar memperoleh manfaat yang berkelanjutan,” imbuhnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar