|
Menu Close Menu

Lulus Kuliah Tanpa Skripsi, Pemuda Blumbungan Teliti Peran Kiai Kampung dalam Membina Remaja

Selasa, 01 September 2026 | 19.07 WIB

Moh. Rofik. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan – Berasal dari keluarga sederhana di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, tidak menghalangi Moh. Rofik untuk terus berkembang melalui pendidikan dan pengalaman berorganisasi.


Pemuda yang menempuh pendidikan di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Madura itu memilih menyelesaikan pendidikan akhirnya melalui karya ilmiah yang berangkat dari persoalan di kampung halamannya sendiri.


Bersama Imam Sadili, Rofik menulis artikel ilmiah berjudul “Kontribusi Kiai Kampung dalam Penguatan Religiusitas Remaja di Desa Blumbungan.” Artikel itu mengkaji peran kiai kampung dalam membangun dan memperkuat religiusitas remaja di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.


Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kiai kampung tidak hanya berperan sebagai tokoh agama. Lebih dari itu, mereka juga hadir sebagai pendamping sosial bagi remaja melalui berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.


Sejumlah kegiatan seperti pengajian, aktivitas masjid, tajhizul mayit, hingga kegiatan keagamaan lainnya menjadi ruang interaksi antara kiai kampung dan generasi muda.


Bagi Rofik, memilih Desa Blumbungan sebagai objek penelitian bukan tanpa alasan. Kedekatannya dengan lingkungan masyarakat menjadi salah satu alasan utama untuk mengangkat persoalan tersebut ke dalam ruang akademik.


Desa tempat ia tumbuh menjadi ruang untuk melihat, memahami, sekaligus mengkaji berbagai fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.


“Bagi saya, karya ini bukan sekadar bagian dari proses menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih dekat dengan masyarakat, khususnya tentang bagaimana kiai kampung memiliki peran penting dalam membentuk religiusitas generasi muda,” kata Rofik, Selasa (1/9/2026).


Dia mengaku latar belakang kehidupannya turut memengaruhi cara pandangnya terhadap pendidikan dan lingkungan sosial.


“Saya berasal dari desa dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Karena itu, saya percaya bahwa apa yang kita temukan di lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber ilmu dan gagasan,” ungkapnya.


Menurutnya, persoalan yang ada di desa tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang sederhana. Lingkungan sekitar justru dapat menjadi sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui penelitian dan karya ilmiah.


“Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat, khususnya dalam melihat pentingnya peran tokoh agama dalam mendampingi generasi muda di tengah perubahan zaman,” tambahnya.


Selain aktif di dunia akademik, Rofik juga memiliki pengalaman organisasi. Dia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang menjadi ruang baginya untuk belajar berdiskusi, berorganisasi, menyampaikan gagasan, serta memahami berbagai persoalan sosial.


Pengalaman organisasi tersebut turut membentuk kemampuan dan cara pandangnya dalam melihat dinamika masyarakat.


Tidak hanya itu, Rofik juga aktif di Gen Z Pamekasan dan dipercaya sebagai Kepala Bidang Komunikasi dan Aspirasi Masyarakat. Peran tersebut dinilai sejalan dengan latar belakang pendidikannya di bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam.


“Saya juga bersyukur atas proses pendidikan dan pengalaman berorganisasi yang telah saya jalani. Semoga ke depan saya bisa terus belajar, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.


Perjalanan Rofik menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak harus menjauhkan seorang pemuda dari kampung halamannya. Justru dari desa tempat ia tumbuh, ia menemukan persoalan yang kemudian dibawa ke ruang akademik.


Dari Desa Blumbungan, Rofik membuktikan bahwa latar belakang keluarga sederhana bukan menjadi penghalang untuk terus belajar, berorganisasi, meneliti, dan mengambil peran dalam menyuarakan persoalan masyarakat.


Melalui karya ilmiahnya tentang peran kyai kampung dan religiusitas remaja, pemuda asal Pamekasan itu mencoba menjadikan lingkungan sekitarnya bukan sekadar tempat pulang, tetapi juga sumber gagasan dan pengetahuan. (Red) 

Bagikan:

Komentar