> Menilik Surya Paloh sebagai Sosok Pemimpin yang Asketis Lensajatim.id
|
Menu Close Menu

Menilik Surya Paloh sebagai Sosok Pemimpin yang Asketis

Jumat, 24 Juli 2020 | 15.01 WIB


Judul: 9 Asketisme Politik Kontribusi Surya Paloh dalam Merestorasi Politik di Indonesia
Penulis: Moch Eksan
Penerbit: Penasalsabila bekerjasama dengan Eksan Institute, Juli 2020
Tebal: x +202 halaman
ISBN: 978-602-1262-94-8

Kebanyakan ketika seseorang berada dalam pusaran kekuasaan, ia memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk hidup dalam kemewahan dunia, dan selalu memupuk ambisi politiknya guna mempertahankan bahkan memperbesar kekuasaan itu sendiri. Tapi ini tidak berlaku bagi Surya Paloh. Bukan karena tidak ada kesempatan, tapi ia tidak mau memanfaatkan peluang itu buat kepentingan pribadinya.

Sejak awal mendirikan Partai NasDem, angin keberuntungan selalu hinggap di tangan Surya Paloh dan partainya. Saat pertama ikut Pemilu (2014), Partai NasDem langsung melenggang ke Senayan. Partai berjargon Restorasi Indonesia ini lolos dari lubang jarum parliamentary threshold 4 persen, bahkan bisa melewati itu dengan angka 6,72 persen. Keberhasilan tersebut berlanjut di Pemilu legislatif tahun 2019, dengan mengoleksi suara 9,05 persen.

Namun kesuksesan yang diraih Partai NasDem, tidak membuat Surya Paloh mabuk kepayang. Dalam berpolitik dan menjalankan roda partai, Surya Paloh selalu menampilkan kesederhanaan. Ia tak kemaruk jabatan. Sejak mendirikan partai, ia tak pernah sekalipun menjadi pejabat tinggi negara, meskipun tawaran datang silih berganti.

Surya Paloh mendirikan Partai NasDem, bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Tetapi menjadikan partai ini sebagai alat perjuangan untuk merestorasi Indonesia. Ia telah membuktikan ucapan dalam perilakunya. Tenyata, masih ada anak negeri yang mendedikasikan sisa hidupnya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa (hal: 131).

Pernyataan di pragraf terakhir di atas, bisa ditemukan di buku “9 Asketisme Politik Kontribusi Surya Paloh dalam Merestorasi Politik Indonesia” karya Moch Eksan. Buku setebal 202 halaman ini menceritakan betapa Surya Paloh merupakan sosok yang sederhana (asketis) dalam menjalani kehidupan politiknya meskipun posisinya ‘di atas angin’.

Di berbagai belahan dunia, dalam sepanjang peradaban, politik kerap mempertontonkan kekuasaan yang diwarnai keserakahan, kepura-puraan, tipu muslihat, pengkhianatan, kekerasan, politik uang, bahkan pertumpahan darah. Warna ini yang kemudian menjustifikasi poitik sebagai ‘barang’ kotor dan najis. Mau tak mau siapapun yang terjun ke dunia politik terimbas stigma negatif tersebut.

Sangat sulit menemukan politisi asketis (sederhana). Boleh jadi 1000:1 orang dari politisi yang ada. Banyak kasus korupsi yang menjerat politisi, termasuk pucuk pimpinan partai, pimpinan lembaga tinggi negara, dan sebagainya. Itu semua mengindikasikan betapa politik kerap diposisikan sebagai jembatan untuk meraih kekuasaan sekaligus materi.

Surya Paloh adalah politisi yang 1 tersebut, yang terbukti dua periode memimpin Partai NasDem sampai sekarang, tak pernah tergoda terhadap kursi kekuasaan negara yang rata-rata menjadi incaran semua politisi (hal.130).

Hal lain yang menunjukkan asketisme Surya Paloh adalah penerapan politik tanpa mahar dalam mengembangkan Partai NasDem. Dialah orang yang pertama kali mendeklarasikan partai politik dengan label tanpa mahar. Padahal kalau mau, uang mahar itu berseliweran saat pemilihan kepala daerah maupun Pemilu Legislatif.

Surya Paloh muncul sebagai "panglima" politik tanpa mahar sejak Pilkada serentak 2015. Partai NasDem yang dibidaninya membawa gagasan baru untuk melawan kelaziman politik. Bakal calon kepala daerah yang maju melalui partai ini, gratis tis. Sedikit pun tak dikenai biaya dalam mendapatkan surat rekomendasi. Pengurus partai di berbagai tingkatan diharamkan memungut biaya apa pun. Bagi yang nakal, sanksi berat di depan mata. Bakal calon yang mendapatkan surat rekomendasi adalah berdasarkan hasil survey yang trendnya bagus dan berpeluang besar menang.

Cibiran, cemoohan dan purbasangka banyak kalangan, bahwa politik tanpa mahar yang digembar-gemborkan Partai NasDem adalah sekadar pencitraan, akhirnya berbalik arah, menjadi pujian, meningkatkan kepercayaan dan memberi harapan baru (hal. 151) .

Tak mengejar jabatan dan berpolitik tanpa mahar merupakan dua dari 9 asketisme seorang Surya Paloh dalam mengarungi kehidupan ini.

Penulis (Moch Eksan) tidak sedang merajut kata-kata indah untuk pencitraan pemilik Media Grup tersebut. Sebab, dia adalah pengurus DPW Partai NasDem Jawa Timur, dan pernah menjadi anggota DPRD Jawa Timur, sehingga tahu persis bahwa kebiasaan di Partai NasDem memang tidak ada mahar apapun untuk kegiatan proses pendafaran Caleg maupun untuk merekomendasi bakal calon kepala daerah.

Juga, penulis bukan berat sebelah atau tidak fair dalam menulis buku tersebut karena ia bagian dari Partai NasDem, misalnya. Tidak. Sebab, semua yang ia ungkapkan berdasarkan data dan fakta di lapangan.

Buku yang ditulis untuk menyambut HUT Surya Paloh 16 Juli 2020 ini, laik dibaca oleh siapapun yang ingin berpolitik secara lurus dan membangun bangsa dengan tanpa tanpa bikin masalah dikemudian hari. Kesederhaan ternyata tidak megurangi kesuksesan dalam berkarir, baik di dunia politik maupun bisnis.

Peresensi : Aryudi A Razaq ( Redaktur NU Online)

Bagikan:

Komentar